Puisi-Puisi Putu Gede Pradipta  |   Kaidah Lidah, Biru Seperti Laut

Putu Gede Pradipta
by Putu Gede Pradipta — Februari 08, 2025 in Puisi

Tatkala.co

KAIDAH LIDAH

Teruslah sampai yang putih
Tidak lagi bersih. Sampai
Tiba di ujung selisih. Sampai
Pada akhirnya tersisih

Lidah yang pandai. Hingga
Diri tergadai. Nurani tercederai
Berangsur-angsur menjadi
Ngelantur dan ngawur begini

Kata berserah pada lidah
Kejujuran pasrah pada lidah
Dan pada lidah ajal tumpah
Dan berakhirlah sudah

Dps, 2020

BIRU SEPERTI LAUT

Biru seperti laut. Sesungguhnya langit
yang menyamarkan kemelut. Ibu luka
bagi anak-anak bunga.

Menderas hujan lalu hanyut. Ialah detik
yang berlalu sebagai kabar. Kelak kita
memberinya tanya.

Dps, 2020

TAPAKING KUNTUL ANGLAYANG

Di rimbun awan, jejak tak tampak.
Tirai hujan membatasi pandangan,
seperti kebaikan tanpa bekal pengetahuan.

Kuyup di lingkup hujan. Jatuh perlahan
mengikuti detak jantungmu. Ke muara
bersama gemerisik yang selama ini dikira.

Dps, 2023
 

LAYANG-LAYANG

Bukan layang-layang
bila memulai terbang
dan terputus benang

Barulah layang-layang
bila benang merentang
tubuh berkumandang

Barulah layang-layang
bila siang dan petang
dilampaui jadi ambang

Barulah layang-layang
bila terlepas bimbang
kembali bermula riang

Dps, 2021

03.00 AM

−Octavio Paz

Lebih dini,
ke inti nurani.

Sebuah lanskap
di bawah bulan,
pada air tergambar.

Pantai dan karang
semisal kenang-kenangan.

Lebih dini,
menyusuri puisi.

Meneroka kata demi kata,
menguak rahasia:

doa sepasang kekasih,
dalam diam melepas sedih.

Dps, 2019
 

POHON-POHON DI TENGANAN

Aku berbicara dengan pohon-pohon
yang tumbuh di tanah ini. Tenganan
yang sepi dari janji. Suara angin di sini
lebih purba dari cinta kita.

Aku ingin berbicara tentang hidup dan
yang membuat matamu menjadi redup.
Adakah kata masih tersimpan pada akar
Adakah bunga memekarkan kejujuran

Pohon-pohon di Tenganan, wajah lain
Tuhan. Wajah kita yang saling merindukan.

Dps, 2020

BERTUHAN PADA DIRI

Adakah Tuhan
tersembunyi di dalam pura
yang pura-pura kita puja?
Atau Tuhan, tak lagi
kita temukan
pada pohon,
pada tanah,
pada sungai,
dan juga langit,
semua tercemar ambisi manusia!
Barangkali Tuhan adalah fantasi
yang tercipta di antara manusia
yang lupa bagaimana
menjadi manusia.

Dps, 2024


[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain

https://tatkala.co/2025/01/18/puisi-puisi-komang-berata-cara-menghukum-pengkhianat/embed/#?secret=DD0MxDCMju#?secret=aHAUnP0uB2
https://tatkala.co/2024/12/29/puisi-puisi-gimien-artekjursi-tanamlah-musim-dalam-jiwamu/embed/#?secret=WBpdNdP1Lm#?secret=L4O8ghTB9J
https://tatkala.co/2024/12/21/puisi-puisi-muhammad-hadriansyah-hutan-kabut-kumbang-koksi/embed/#?secret=qSsu4o15wW#?secret=uyrYgldA6f
https://tatkala.co/2024/12/14/puisi-puisi-novita-dina-stasiun-kata-kata/embed/#?secret=IwJXc3VTbz#?secret=IhljoEGzhw
Tag: Puisi
Avatar

Putu Gede Pradipta

Related Posts
Cerpen

Gabriela

BY Putri Handayani Juli 03, 2016

Cerpen: Putri Handayani   “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...

Read More
Cerpen

Wanita Senja

BY Satia Guna Juni 25, 2016

Cerpen: Satia Guna                Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...

Read More