Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Teruslah sampai yang putih
Tidak lagi bersih. Sampai
Tiba di ujung selisih. Sampai
Pada akhirnya tersisih
Lidah yang pandai. Hingga
Diri tergadai. Nurani tercederai
Berangsur-angsur menjadi
Ngelantur dan ngawur begini
Kata berserah pada lidah
Kejujuran pasrah pada lidah
Dan pada lidah ajal tumpah
Dan berakhirlah sudah
Dps, 2020
Biru seperti laut. Sesungguhnya langit
yang menyamarkan kemelut. Ibu luka
bagi anak-anak bunga.
Menderas hujan lalu hanyut. Ialah detik
yang berlalu sebagai kabar. Kelak kita
memberinya tanya.
Dps, 2020
Di rimbun awan, jejak tak tampak.
Tirai hujan membatasi pandangan,
seperti kebaikan tanpa bekal pengetahuan.
Kuyup di lingkup hujan. Jatuh perlahan
mengikuti detak jantungmu. Ke muara
bersama gemerisik yang selama ini dikira.
Dps, 2023
Bukan layang-layang
bila memulai terbang
dan terputus benang
Barulah layang-layang
bila benang merentang
tubuh berkumandang
Barulah layang-layang
bila siang dan petang
dilampaui jadi ambang
Barulah layang-layang
bila terlepas bimbang
kembali bermula riang
Dps, 2021
−Octavio Paz
Lebih dini,
ke inti nurani.
Sebuah lanskap
di bawah bulan,
pada air tergambar.
Pantai dan karang
semisal kenang-kenangan.
Lebih dini,
menyusuri puisi.
Meneroka kata demi kata,
menguak rahasia:
doa sepasang kekasih,
dalam diam melepas sedih.
Dps, 2019
Aku berbicara dengan pohon-pohon
yang tumbuh di tanah ini. Tenganan
yang sepi dari janji. Suara angin di sini
lebih purba dari cinta kita.
Aku ingin berbicara tentang hidup dan
yang membuat matamu menjadi redup.
Adakah kata masih tersimpan pada akar
Adakah bunga memekarkan kejujuran
Pohon-pohon di Tenganan, wajah lain
Tuhan. Wajah kita yang saling merindukan.
Dps, 2020
Adakah Tuhan
tersembunyi di dalam pura
yang pura-pura kita puja?
Atau Tuhan, tak lagi
kita temukan
pada pohon,
pada tanah,
pada sungai,
dan juga langit,
semua tercemar ambisi manusia!
Barangkali Tuhan adalah fantasi
yang tercipta di antara manusia
yang lupa bagaimana
menjadi manusia.
Dps, 2024
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...