TEMA-TEMA kekinian, seperti demokrasi, media sosial, dan tanah-tanah di Bali yang dikuasai investor, sepertinya asyik juga dinarasikan dalam bahasa Bali di atas panggung teater, atau panggung drama modern. Sejumlah tema yang sebelumnya terasa jauh dari keseharian hidup orang Bali, dengan bahasa Bali tema-tema itu menjadi begitu dekat.
Empat kelompok drama modern yang tampil pada Wimbakara (Lomba) Drama Bali Modern, serangkaian Bulan Bahasa Bali yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Kamis, 6 Pebruari 2025, sama-sama menunjukkan ketertarikan pada tema kekinian, namun cara penggarapannya sangat beragam.
Hampir semua kelompok menampilkan penyajiannya lebih kreatif dengan kisah yang menarik. Selain penampilan dan busana, tata panggung digarap dengan serius oleh masing-masing kelompok teater, sehingga kesan meniru-niru drama tradisional jadi terhindarkan.
Teater Samanta | Foto: Ist
Pemain yang mendukung pementasan semuanya baru. Artinya tak tampak pemain yang itu-itu saja sebagaimana diperlihatkan oleh kelompok yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Dekorasi yang dapat menciptakan suasana, ditata dengan kreatif yang sesuai dengan suasana adegan. Penggarapan dekor tampak serius, yang dipersiapkan langsung dari rumah. Maka tak heran, masing-masing tim menyiapkan kru yang tidak sedikit untuk membersihkan stage, setelah pementasan.
Lihat saja pada pementasan awal, kelompok Teater Solagracia menampilkan drama modern berjudul “Kuang Lebih Muah Ane Lenan” berupa komedi absurd yang menggambarkan kolase jaitan-jaitan yang saling keterikatan. Zaman yang dikatakan demokrasi, namun belum terwujud sampai sekarang. Drama ini mengisahkan mencalonkan diri untuk mengubah nasib masyarakat.
Sampah berserakan mengepung masyarakat, karena janji-janji yang tak pernah terealisasi. Kritik, juga dihadirkan kepada orang bali yang tidak bisa berbahasa Bali. Padahal, banyak anak yang gampang dan mudah menguasai bahasa asing dan bahasa model-model, tetapi susah belajar bahasa Bali.
Untuk mendukung suasana, kelompok ini menampilkan kursi, tembok dari papan lengkap dengan peralatan dapur dan lainnya.
Teater Taksu Smandara | Foto: Bud
Penampilan Kelompok Teater kedua disajikan Teater Taksu Smadara menampikan judul “Rwa Bhineda”. Drama ini tak hanya memperhatikan seni acting, mengandalkan sastra, dan bahasa (vokal), tetapi juga seni lain, seperti seni rupa.
Kelompok teater ini menghadirkan patung-patung berupa pohon dari kertas yang dipadu dengan ranting pohon asli, sehingga mirip pohon sungguhan. Artinya, dalam garapan ini juga mengedepankan penatan seni rupa.
Drama ini mengangkat kearipan lokal yaitu tumpek bubuh yang dipadu dengan fenomena jaman sekarang. Seorang kakek satu-satunya masih bertahun untuk tidak menjual tanahnya kepada investor.
Seluruh warga memusuhi kakek itu karena tidak sepakat dengan warga lain. Kakek, tetap menjaga tanah itu dengan memasangi pohon saput poleng agar tenget, sehingga tak menjual tanah tempat pohon itu tumbuh.
Lalu dilanjutkan dengan drama modern berjuduk “Tuuh” (Kehendak Sanga Waktu) oleh Kelompok Teater Samanta Badung yang mengingatkan semua orang bijak dalam bermedia sosial. Salah menggunakan media sosial akan membawa bencana.
Sedangkan Teater Garaka dengan drama modern pamungkas berjudul Jagal Babarakan, yang mengangkat tragedy tahun 1965.
Semua kelompok teater ini mengangkat tema kekinian, dan sarat pesan. Pada lomba drama modern pertama ini, sesungguhnya ada 5 peserta yang diijadwalkan tampil, namun teater modern SMA Negeri 1 Tembuku Bangli berhalangan hadir, sehingga hanya 4 peserta yang menyajikan garapan seninya.
Teater Solagracia | Foto: Bud
Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Provinsi Bali Prof I Gede Arya Sugiartha yang hadir menyaksikan pementasan itu mengatakan, anak-anak yang tampil ini tergolong cerdas. Walau mereka masih sebagai siswa setingkat SMA, namun mereka sangat jeli dalam memilih topik, sehingga kena dengan situasi di jaman sekarang dan sifatnya kekinian.
“Maka cocoklah ini sebagai penampilan drama modern, karena cerita yang diangkat itu kekinian, tetapi dikemas dalam bahasa Bali,” katanya.
Lomba Drama Bali Modern ini mengangkat ceritera di Bali. Salah satu tema yang diangkat adalah pelestarian lingkungan. Adanya perkembangan pembangunan perumahan, investor mulai masuk dan merayu masyarakat agar mau menjual tanahnya.
Lalu, seorang kakek bersikukuh tidak mau menjual tanahnya, karena berkomitmen melestarikan warisan leluhurnya. Meskipun kepala desa yang ikut mengompor-ngopori agar mau menjualnya.
Menurut Kadisbud Arya Sugiartha, kisah yang diangkat ini semacam sindirian, karena kondisi seperti itulah yang memang banyak terrjadi di Bali saat ini.
“Kalau saja penonton itu bisa membaca cerita, dan itu bisa menghayati, maka artinya jangan sembarang menjual tanah yang ingin disampaikan lewat pementasan mereka itu,” ungkapnya.
Penampilan drama itu tidak kaku. Selain memperhatikan teknik pementasan drama modern, para pemain juga menggunkan bahasa Indonesia, disamping dinominasi bahasa Bali. Bahasa Bali-nya pun tidak terlalu halus, tetapi lumrah seperti dilakukan keseharaian mereka.
“Itu memang tidak apa-apa. Justru, sekarang ini anak-anak muda baru kita ajak agar mau berbahasa Bali dulu, sehingga mereka menjadi lebih pasih,” imbuhnya.
Teater Samanta | Foto: Ist
Masalah mereka menggunakan bahasa gaul atau bahasa andap itu tidak menjadi masalah. “Tidak perlu terlalu formal, terlalu halus yang penting komunikatif. Masalah mereka menggunakan bahasa campuran dengan bahasa Indonesia, termasuk bahasa Inggris juga tidak masalah, tetapi bahasa itu kan digabung dengan bahasa Bali. Walau demikian dalam bahasanya, mereka dominan mengunkan bahasa Bali,” sebutnya.
Menurut Kadisbud Arya Sugiartha melihat perkembangan Bahasa Bali memang begitu. Bahasa asing digunakan dulu, kalau digunkan secara terus menerus maka nantinya diserap.
“Memang biasa begitu, apapaun yang tidak ada dalam bahasa Bali kita serap, bahasa asing kita masukan dalam basaha Bali serapan. Ingat bahasa Bali itu berkembang karena mereka menyerap bahasa bahasa asing,” paparnya.
Dalam pementasan drama modern itu bisa dikatakan total teater. Ada musik, pendramaan, seni rupa karena memakai properti. Seperti pementasan tadi, ada yang menggunakan patung pohon, ada juga bawa kursi yang menceritakan alam dan tentang kekinian yang digarap sangat menarik. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...