Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Judul: Saiban
Penulis: Oka Rusmini
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-8014-9
Cetakan Pertama: Oktober 2024
Tebal: 72 hlm.; 13.5 x 20 cm
"Saiban: Kerinduan yang Tak Terucap dan Tak Terungkap" mungkin terasa asing bagi kita yang bukan umat Hindu atau tidak tinggal di Bali. Namun, bagi Oka Rusmini, saiban adalah denyut nadi tradisi yang mengalir dalam darahnya. Tradisi mebaten, memberikan sesaji, menjadi aktivitas sehari-hari masyarakat Bali. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban, sesaji kecil yang dipersembahkan setelah memasak.
Dalam pandangan Oka Rusmini, banten saiban lebih dari sekadar materi. Ia melambangkan rasa syukur karena hari ini ada sepiring nasi untuk melanjutkan hidup. Dengan pemaknaan ini, "Saiban" menjadi judul tepat bagi dua puluh sembilan puisi dalam kumpulan ini. Judul ini mengingatkannya pada ibunya, sosok yang selalu memasak untuk keluarga.
Bagi Oka Rusmini, "Saiban" menyimpan makna mendalam. Bukan hanya sekedar sesaji, tetapi memiliki filosofi yang luas. Ia tidak hanya mencerminkan rasa syukur karena telah mengandung anak-anaknya, tetapi juga melahirkan karya-karya dari rahim pikirannya. Karya-karya tersebut meliputi: “Monolog Pohon,” “Kenanga” (dulu bernama Gurat-Gurat), “Tarian Bumi,” “Sagra,” “Patiwangi” (kemudian berubah nama menjadi Warna Kita), “Pandora,” “Tempurung,” “Akar Pule,” dan “Saiban”. Kumpulan puisi "Saiban," yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, ditulis antara tahun 2008 hingga 2014. Buku ini dicetak kembali Penerbit Gramedia Pustaka Utama pada bulan Oktober 2024.

Puisi-puisi dalam "Saiban" berbicara tentang cinta dan kehidupan yang berdenyut. Salah satu puisinya, puisi yang keenam membahas cinta dengan kedalaman emosional. Oka Rusmini menggunakan kafe sebagai latar untuk menceritakan peristiwa akrab di sekitar kita—kerinduan dan kenangan. Kenangan adalah memori yang mengingatkan kita pada peristiwa masa lalu dan dapat direkonstruksi kembali.
Melalui kafe dan elemen-elemen seperti segelas wine atau sepiring roti, ia merekonstruksi peristiwa dalam puisinya. Kerinduan menyimpan perasaan rindu serta latar belakangnya dalam rekaman kenangan. Kenangan sering kali disimpan, meski ada keinginan untuk mengungkapkannya kembali.
Keterungkapannya beragam; salah satu cara mengungkapkan adalah tanpa kata—cukup melalui perasaan. Puisi Oka Rusmini berhasil membangun narasi kerinduan tanpa perlu diucapkan. Perasaan memiliki daya ungkap lebih kuat daripada kata-kata. Misalnya, melalui citraan "matamu yang biru, laut, dan ombak," puisi ini menggambarkan kerinduan melalui pandangan seseorang.
Namun, kenangan kadang membuat perasaan hampa—"mungkin mendekati layu." Ketidakhadiran seseorang yang dirindukan menciptakan kekosongan. Suasana tak sepenuhnya dinikmati terlihat saat "aku tak ingin memakannya," meskipun telah "kupesan secangkir kopi." Peralatan makan hadir sebagai kamuflase kenikmatan, tetapi semua itu sia-sia tanpa kehadiran orang tercinta.
Di dalam kesunyian "hanya diam memandangmu," bayangan rindu tak berkesudahan terus diciptakan. Begitu detailnya perangkap rindu memerangkap perasaan. Larik "harum susu dan keju tubuhmu menyentuh kulitku" membangkitkan perasaan lekat.
Saat perasaan tak menentu muncul, gelombang rindu mengguncang—"kurasakan ombak menerpa tubuhku." Tanda-tanda mulai menyampaikan pesan—"kau mulai menatapku," "aku gemetar," dan "tak ada senyuman." Pertanyaan simbolik seperti "kau sulut rokok" dan "sore itu kau tak meneguk minumanmu" terus mencari jawaban.
Jika pertanyaan simbolik tak menemukan jawaban, pertanyaan reflektif bisa menjadi alternatif—tentang kehadiran atau ketidakhadiran seseorang. Seorang lelaki tanpa nama telah memasuki kebun hatinya; ia memetik jantung dan memanah hatinya—membuatnya jatuh cinta.
Mungkin ini adalah buah rindu yang telah diperam sebelumnya. Kadang segala usaha dilakukan untuk menolak kebenaran perasaan; dengan tidak memberikan ruang bagi pengakuan rindu atau cinta di hati. Ini adalah penolakan bersifat kamuflase.
Meskipun dengan kesadaran penuh—"aku telah melumuri tubuhku dengan pandan berduri," kerinduan tetap menemukan jalannya untuk terwujud. Cinta semakin nyata dalam bayangan rindu yang berusaha dilenyapkan.
Oka Rusmini piawai mendramatisir ungkapan cinta dan kerinduan. Larik "di kafe ini aku serasa menunggumu" dan "berharap cairan putih itu membunuhmu" menciptakan ambiguitas perasaan—rindu yang harus dipertahankan atau dilenyapkan. Sebuah reaksi perasaan yang paling esensial.
Jika rindu harus dilenyapkan, puncaknya adalah merelakannya—hilang bahkan dalam kenangan sekalipun. Namun kehilangan kadang juga menemukan kembali rekaman-rekaman perasaan yang tak sepenuhnya kita lenyapkan.
Dengan "kucoba mencari namamu" dan "meluncur di jalan Google," kerinduan berusaha dimunculkan kembali; berharap menemukan harapan yang mungkin tersangkut di sudut jalan atau kehilangan nama baru yang tak pernah dibisikkan.
Kehampaan mungkin mewakili perasaan tak kunjung menemukan harapan—"kurasakan hawa dingin menyergap tengkukku." “Kesepian terus mencongkel tubuhku;” harapan hanyalah ilusi membaringkan perasaan.
Ilusi bergerak eksploratif menstimulasi perasaan bawah sadar; “seorang pelayan tersenyum menatapku tajam,” “kulihat matamu menjelma di matanya.” Kehadiran semu tiba-tiba muncul—"tapi aku tak ingin menghindar."
Kerinduan menyesakkan; tidak ada penantian tanpa ujung—penantian adalah ruang tunggu kerinduan. Kerinduan tak terucap dan tak terungkap—"berharap kau mengirim sebaris huruf."
Kerinduan dalam puisi ini mewakili epilog Oka Rusmini dalam buku "Saiban." Seperti anak lahir dari rahim jasmani, anak-anak rohaninya terlahir dari rahim pikirannya dengan rasa sakit luar biasa. "Saiban" baginya adalah upacara persembahan bagi semua pembaca yang masih berada di ruang tunggu kerinduan. [T]
Penulis: Chris Triwarseno
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...