Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
“Hujan sehari menghapus panas setahun.
Berkhianat atas banyak hal. Kurang apa aku
pada dirimu? Engkau mengecewakanku.”
Ayah pernah marah pada diriku saat remaja
Dia pamanku yang mengasuhku sejak bayi.
Bersama bibi, orang tua baik hati, seperti
malaikat –selamatkan aku dari kematian.
Aku tahu yang sebenarnya dari tetangga.
Merundungku dengan ejekan menganggu.
Aku lalu paham meskipun hati terguncang.
Hingga skizofrenia menjadi musibah diri.
Usia 25. Kuliah tidak bisa aku selesaikan.
Pulang ke kampung halaman, kembali ke
keluarga asal—ibu dan ayah kandungku.
Adaptasi amat tidak mudah. Selalu terjaga
di malam hari, tak bisa melanjutkan tidur.
Obat bertahun-tahun aku minum. Takut
jika tiba-tiba kekambuhan datang. Aku
tak mau lagi dirawat di rumah sakit jiwa.
Ruangan berterali bersama ODGJ lainnya
Saat haus, aku selalu meminum air keran.
Disakiti atau menyakit, kemungkinan ada.
Bersiaga akan bahaya menghampiri.
Halusinasi menghantui hari-hariku.
Bahkan setelah belasan tahun berlalu
Berdamai dengan bisikan-bisikan itu.
Tak nyata namun terasa amat nyata.
Puisi selamatkan aku dari kegagalan
Penulis muda telah terbitkan 13 buku
Aku dikenal banyak orang, setidaknya
itu mengembalikan kepingan berserak.
Bersatu kembali dalam jiwa yang utuh.
Hujan di kota tempatku tinggal hanya
sebentar. Hujan punya arti mendalam.
Ia tak menghapus cuaca panas, seperti
perkataan ayahku. Tiga tahun sudah
aku tak pulang. –rindu ini begitu besar.
Aku akan pulang, temui kenangan pada
potret orang tua dan berdoa untuknya.
2024
Melihat topi terjatuh, di jalan sering kulalui.
Milik siapakah itu, aku hanya bisa menebak
Buruh proyek yang tentu tidak memakai helm
Jarak tidak terlalu jauh dari lokasi dia bekerja
Topi itu punya banyak kenangan, membawanya
Pada banyak tempat dengan ciri khas tersendiri
Itu semacam biografi, jika kita menyebut buku
Tetapi topi itu tidak lagi berada di kepala buruh
Dia tidak menyadari hingga telah jauh berkendara
Topi dilindas kendaraan berlalu tidak mau peduli
Sebenarnya dia bisa membeli pengganti topi itu
Kenangan tentu tidak bisa digantikan oleh uang
Topi menandakan keringat juga perjuangan kerja
Jauh dari anak-istri demi kehidupan lebih bagus.
Siap dipanggil oleh siapa saja dan dimana saja
Di pulau ini dia menemukan ketenangan jiwa
Seperti topi yang telah lama ia kenakan selalu
Bekerja pada pagi hari dan pulang saat malam.
2024
-- untuk Edi Bonetski
Tuangkan kesedihan kita dalam kanvas
Pelukis yang tidak mau disebut pelukis.
Tawamu menambah hangat suasana pagi
Jauh engkau mengembara di pelosok hati
Terjatuh, terjatuh, bangkit, bangun kembali.
Manusia kehilangan kemanusiaan sejak dulu
Kau tak suka melihat kekerasan, kemunafikan
Jiwa kanak-kanak kau cari lagi sepanjang jalan
Bersama teman-teman seirama musik kau suka
Orde berganti, nasib seniman tak pernah berubah
Miskin, dibiarkan miskin, mencari uang sendiri.
Negara mestinya menjamin kesejahteraan semua
Tidak terkecuali bagi seni, kesenian, kebudayaan.
Percakapan kita mengalir sedemikian panjang
Aku pamit karena belum makan sejak semalam
Temanku datang mengajakku ke suatu tempat
Mengisi perut kelaparan sebagai penyair muda
2024
Bolivia, suatu hari di bulan ketujuh,
kami berjumpa dengan penuh rasa
canggung."Hidupmu kini bagus,
sudah punya mobil baru," kataku.
Biasa saja, itu hasil perjuangan
bertahun-tahun," jawabnya.
Aku ingat, dulu kami bertemu saat dia
dan keluarganya hidup susah. Kontrakan
saja berpindah-pindah. Temanku membuka
usaha laundry--"Di Bali jenis usaha ini laku ya?
Di kota asalku, orang-orang lebih suka mencuci
pakaian sendiri!". Aku katakan itu padanya.
Kami bertemu di pasar, jauh dari negeri yang
baru usai pemilihan umum –aku tak terlalu
suka bicara politik; hanya bikin persaudaraan
hancur, juga pada banyak belahan dunia lain.
Tiwanaku, pasar ini unik; tidak ada jual-beli,
warga sejak ratusan tahun lalu memilih sistem
barter. Aku juga terkadang ingin menukar nasib,
jika boleh. Tapi mana bisa? Orang kaya baru selalu
bilang; kalau mau berhasil, ya, kerja keras! Itu aku
dengar juga dari temanku. Kala itu aku datang
minta pertolongan padanya; saat aku terlilit utang
pinjaman online. Tak ada bantuan, hanya orasi--
mirip aktivis atau pemain teater zaman dahulu.
Kami bertemu, kini, setelah kami sama-sama
bisa ke luar negeri. Sudah sepuluh tahun aku
bekerja di Bolivia. Senang bertemu saudara
setahah-air. Aku teringat air mata usai bertemu
dia dulu. Setelah kejadian itu aku menjauh.
Di pasar ini kami saling menukar kabar—
tidak menukar yang lain. Tiwanaku.
2024
Lekatkan terus matamu di layar, tulislah
kata-kata menarik beserta foto rupawan.
Agar semua orang tahu, engkau masih
ada dan disebut sebagai manusia maju.
Tengoklah cerita dari kawan-kawanmu,
sedang apa, dimana, lalu engkau bersedih
karena hidupmu menyedihkan, tidak bahagia
seperti orang lain tampak di layar ponsel pintar.
Engkau mungkin tahu, media sosial tidak lebih
dari sebuah etalase. Penuh tipu-daya juga kepalsuan.
Mereka hanya menampilkan hal-hal baik saja.
Hanya penyair dan seniman berani jujur pada diri
dan juga dunia. Mereka bercerita tentang diri sendiri;
baik dan buruk. Kepolosan mereka begitu indah!
Keculasan tak menyukai mereka. Kejujuran dianggap
berbahaya, pada masa kebohongan begitu dipuja-puja
dan sangat dipercaya. Delusi menjangkiti kita semua.
Semenjak pagi hingga dini hari, ponsel pintar mengajari
kita semua cara untuk hidup di zaman penuh kegilaan.
Tak ada yang memujimu jika mempunyai buku baru.
Mereka senang jika engkau punya ponsel baru:
itu rumah bagi orang-orang modern sekarang.
2024
28 derajat Celcius. Kota dingin, matahari cerah.
Layar ponsel kabarkan hujan akan turun sebentar
Baiknya kita urungkan niat untuk keluar rumah—
minum kopi murah di warung dekat kontrakan.
Bicara tentang kucing-kucing kita yang lucu.
Kelucuan juga tentang seni; hanya soal lingkaran
pertemanan: orang-orang itu saja dengan karya buruk.
Membaca puisi di panggung, ditonton orang asing—
merasa sudah di atas angin. Racauan dianggap puisi,
aneh sekali. Tepuk tangan untukmu begitu palsu.
Ramalan tentang kiamat tak tamat. Mati hanya
soal waktu –juga kematian seni, sudah lama terjadi.
Kembalikan puisi pada kehidupan alami; pasar, sekolah,
jalanan kota yang ramai. Bukan pada perhelatan mahal,
tidak memberi dampak apa-apa. Kita hanya penonton.
Untuk apa seni? Mari menjawab dengan jujur
tanpa diskusi panjang di media sosial –etalase
mutakhir orang-orang yang konon pemikir,
tetapi tak tahu cara berpikir. Narsissus
terlahir kembali. Jatuh cinta diri sendiri.
2024
Andai waktu sirna,
Angka tahun
Tak jua berganti
Jalanan macet
terlalu banyak
kendaraan di sini.
Bus kota berjalan
tanpa penumpang
--dianggap gagal.
Kronologi kehidupan
kota tak pernah ditulis
kematian koran-koran
Menyala bagai api
petasan di tangan
membakar kenangan.
Tahun berganti
begitu tergesa
doa-doa hening
Bukan sendiri
keramaian itu
terasa sepi
Simulasi hari
tak ada cerita
perubahan.
Langit kota
terang sekali
satu malam ini
Ponsel pintar
Siaran langsung
Kesia-sian kita!
2024
Kudengar radio, hampir setiap hari.
Di kamar yang sepi, bersama
buku-buku dan dua kucing yang ingin kawin.
Suara radio tenggelamkan percakapan tetangga
(mereka suka bergunjing, aku tak suka).
Lagu-lagu keluar dari kotak ajaib itu.
Aku membelinya lima bulan lalu,
dari lelaki yang membawa masa lalu.
"Radio tak akan punah, orang-orang
akan merindukannya," katanya penuh arti.
Radio memahami kegelisahanku.
Sambil menjual buku atau menulis,
radio menemaniku hingga
sore hari, atau saat kantuk
membuatku ingin sejenak tidur.
Kadang radio seperti mengajakku
bercakap-cakap. Itu jika aku lupa
minum obat. Skizofrenia mirip iblis,
merampas kewarasanku.
Dia sudah aku jadikan sahabat;
aku tahu cara mengatasinya.
Sudah lama aku menyukai radio.
Pernah ingin menjadi penyiar, tetapi
hidup menjadikanku seorang penyair.
Ah, penyiar dan penyair berbeda sedikit huruf.
---Ini pasti bukan satu kebetulan, bukan?
Radio ditemukan oleh Marconi.
Buku pelajaran sekolah dulu
memberitahuku. Dia pasti
orang hebat. Menciptakan teman
bagi manusia sunyi di kamar.
Radio tidak kumatikan, tidak
seperti Dorothea tulis dalam
sajaknya. Dia pasti juga
suka radio, hanya berbeda cerita.
2025
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...