Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
PADA tahun 2001, seorang penulis, pemilik toko buku, dan sutradara film Richard Oh, memiliki gagasan untuk menghadirkan sebuah penghargaan sastra yang kemudian ia beri nama Khatulistiwa Literary Award. Nama ini berubah di tahun 2014, setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk untuk lebih konsisten mempergunakan bahasa Indonesia, menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Melalui tangan dinginnya, juga kegigihannya menghadapi berbagai rintangan termasuk pandemi Covid 19, penghargaan ini terus berlangsung setiap tahun.
Sejumlah nama sastrawan Indonesia pernah mendapatkan penghargaan tersebut, baik untuk kategori prosa maupun puisi. Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, Goenawan Mohamad, Hamsad Rangkuti, Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, Kiki Sulistyo, Ayu Utami, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Okky Madasari, Iksaka Banu, Leila S. Chudori, Inggit Putria Marga, Aan Mansyur dan banyak nama lainnya pernah naik ke panggung penghargaan ini, yang biasanya dilaksanakan di Plaza Senayan, Jakarta.
Kabar duka datang di tahun 2022, ketika Richard Oh, sang penggagas dan motor utama penghargaan ini meninggal. Pada tahun itu, Kusala Sastra Khatulistiwa berhenti. Di tahun berikutnya, pembicaraan mengenai pentingnya menghadirkan kembali Kusala Sastra Khatulistiwa mulai terdengar di antara orang-orang terdekat Richard Oh maupun dari komunitas sastra yang lebih luas.
Digerakkan oleh istri Richard, Pratiwi Juliani, dan adiknya, Linda Oh, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) didirikan tahun 2024. Lembaga ini berinisiatif meneruskan apa yang telah dibangun oleh semangat filantropis dan kecintaan terhadap kesusastraan dari seorang Richard Oh.
Dengan dukungan Dana Indonesiana serta sejumlah sponsor lain, YRKI menghadirkan kembali Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2025 ini. Yayasan telah menunjuk tiga orang kurator program yaitu Nezar Patria, Eka Kurniawan, dan Hasan Aspahani.
Ada beberapa hal baru dalam penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Penghargaan dibagi menjadi tiga kategori, yaitu untuk buku puisi, novel, dan cerpen. Pembagian ini diputuskan untuk memberi ruang berkembang yang lebih besar pada cerpen yang memiliki perkembangan sangat penting dalam tradisi sastra Indonesia. Buku-buku yang dinilai adalah karya berbahasa Indonesia yang terbit sepanjang tahun 2024.
Hal lain yang juga baru adalah tambahan hadiah berupa pembelian buku pemenang senilai Rp25 juta. Buku akan disebarkan ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan/taman bacaan masyarakat, sebagai dukungan pada penerbit, serta perluasan pembaca karya sastra yang berkualitas. Adapun hadiah untuk tiga buku terbaik masing-masing Rp75 juta. Dengan demikian maka total nilai hadiah masing-masing pemenang menjadi Rp100 juta.
1. Terbuka bagi penulis berkewarganegaraan Indonesia. Karya yang diajukan merupakan hasil karya penulis tunggal dan tidak melanggar hak cipta.
2. Karya yang diajukan berupa buku cetak yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2024.
3. Karya ditulis dalam bahasa Indonesia.
4. Tiga kategori karya:
a. Kumpulan cerpen, dengan jumlah minimal dua cerpen.
b. Novel, dengan panjang minimal 30.000 kata.
c. Kumpulan puisi, yang terdiri dari minimal 40 puisi atau satu puisi panjang dengan total 40 halaman.
5. Penerbit atau penulis mengirimkan setidaknya dua eksemplar dari setiap judul karya yang diajukan. Pengiriman disertai dokumen pendukung berupa biodata penulis dan mencantumkan informasi kontak.
6. Karya dikirimkan paling lambat tanggal 20 Februari 2025 (cap pos). Karya dikirimkan ke: Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
ED Cluster No. 2A
Jalan Gunung Indah V
Cirendeu, Ciputat Timur,
Tangerang Selatan, Banten 15445
7. Daftar panjang dan daftar pendek karya terpilih diumumkan sebelum pengumuman pemenang.
8. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada acara Malam Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.
Narahubung Kusala Sastra Khatulistiwa:
WhatsApp Admin KSK 2025
+62 813 1500 2040
Email: info@kusala.id

Sumber: Rilis Pers KSK
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...