SETELAH sekian lama vakum, Hydra akhirnya kembali menyapa para penggemar setia dan generasi muda dengan single terbaru mereka, “Di Sini Aku Berdiri”.
Lagu ini siap mengudara di semua platform digital mulai 7 Januari 2025, membawa pesan mendalam tentang menghormati budaya dan menjaga tanah kelahiran.
“Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung” adalah tema besar lagu ini. Dengan genre rock yang menjadi ciri khas Hydra, mereka menyuguhkan sesuatu yang berbeda dari EP sebelumnya.
Perpaduan riff gitar khas Wis dan lirik tajam dari Brozio menjadikan lagu ini penuh energi sekaligus menggugah kesadaran.
“Lagu ini tercipta secara spontan dari jamming di studio Wah. Saat Wis memainkan riff gitar yang keren, kita langsung tahu ini adalah awal dari sesuatu yang spesial,” ujar Brozio, bassist Hydra.
Inspirasi lagu ini lahir dari fenomena terkini di Bali dan berbagai daerah di Indonesia. Banyak yang mulai melupakan budaya dan bertindak semena-mena terhadap tanah kelahiran mereka.
Hydra | Foto: Dok. Hydra
Lewat lagu ini, Hydra ingin mengajak generasi muda untuk kembali menghormati warisan budaya dan alam kita.
Hydra pernah mencapai puncak popularitas saat menjadi bagian dari Indie Ten 2 Sony Music Indonesia dan merilis album penuh bertajuk self-titled di tahun 2002.
Kini, mereka kembali, tidak hanya untuk merilis lagu, tetapi juga merayakan perjalanan bermusik mereka.
Promosi dan Acara Spesial Hydra tidak main-main dalam mempersiapkan comeback mereka. Single ini akan dilengkapi dengan video klip dan video live yang memukau, memberikan pengalaman visual yang menyatu dengan kekuatan lagu.
Meski konser peluncuran masih dalam tahap perencanaan, lagu ini siap mengguncang panggung digital di berbagai platform seperti Spotify, YouTube Music, TikTok, dan banyak lagi.
Untuk para penggemar lama dan pendengar baru, ini saatnya menyambut kembali Hydra ke dunia musik Indonesia. Jangan lupa simak single “Di Sini Aku Berdiri” di platform streaming favorit Anda mulai 7 Januari 2025, dan temukan informasi terbaru mereka di Instagram @HydratheBand. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...