Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Untuk Pak Nyoman Sukerta, dan Cucunya Made.
Dipasang sejak Juni
Kungkungan lebah
Di pohon pohon cengkih
Di atas tanah terjal kaki gunung curam
Di sela sabar terus dipupuk perih
Setia Pak Tani menunggu
Lebah bermain terbang dan menari
Di bunga bunga putih doa
Menguar wangi bunga sari hidup
Menunggu raib waktu lima bulan itu tubuh kebal panas disengat;
Mantra dirapal, sayang.
Atau ia memang sudah kebal
Liat kulit serat usia
Menandakan ketabahan hidup
Dewa memberkatinya Oktober tanah basah
Buah lebat kasih dan legit dikecup;
Madu dipanen
Untuk,
Membayar rindu pada istri. Pada anak dan cucu
Diperas madu, manis untuk cinta.
Tajun, Oktober 2024
Ikan. Hanya seekor
Mati. Mengambang diantar ombak malam
Ikan. Nasib. Sial.
Ke langit. Pergi. Menjadi angin
Menjadi mimpi semua orang
Di bibir pantai
Singaraja, Januari 2025
Malam,
Maut memburuku di sudut sudut gelap, Ibu.
Mereka mendekat dan menarik pelatuk dari senapan neraka.
Pelor ditembakannya ke tubuhku panas. Kejang kejang aku,
“Ayo ke kastil Tuhan!” katanya. Aku tak mau.
Dan mereka semakin mendekat, Ibu.
Sedepa jaraknya.
Singaraja, Januari 2025
Anak mati di dalam tubuh seorang perempuan
Tanpa tangis. Pula tanpa darah.
Menjaga kotak suara yang tak lagi rahasia
Demokrasi pesta. Merupa penjagaan liang cuma cuma,
Pula seorang bapak mati
Karena perintah melebihi umur tua tubuhnya yang tak pernah dihitung
Lelaki itu mati rontok tulang dilalap kosong isi dompet
Lalu disambangi orang sedih wangi baju sebelum pergi berpesta dan menantikan hadiah mereka upah rapih menghitung duit
Sedang yang lain teler terjatuh karena mabuk rasa capek mencari duit
Hidup kecut di pinggir gang kampung rokok sepotong
Tanpa bintang bagi si mati tanpa lencana kehormatan di bawah pohon:
Yang tiada selalu dilupa. Yang mati pengap dikubur!
Singaraja, 29 November 2024
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...