Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
KEBERSIHAN menjadi jendela yang memancarkan citra bagi industri pariwisata. Seindah apa pun satu destinasi wisata, jika mengabaikan faktor kebersihan tentu akan berdampak buruk bagi kenyamanan wisatawan.
Tak heran bila Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menjadikan Gerakan Wisata Bersih sebagai program terobosan di tahun 2025. Harapannya, gerakan itu akan meningkatkan citra dan kunjungan wisatawan di Indonesia.
Menpar menjabarkan, program terobosan Gerakan Wisata Bersih bertujuan untuk meningkatkan kebersihan destinasi wisata. Sebab kebersihan menjadi perhatian utama dari daya tarik bagi wisatawan domestik dan internasional saat ini.
Kebersihan menjadi elemen penting dalam Sapta Pesona pariwisata. Program ini diharapkan akan memastikan Indonesia tetap dikenal sebagai destinasi yang bersih, terawat, dan meningkatkan kenyamanan ( Antara, 20/12/2024).
Program Menpar tentunya bukan sesuatu yang mengada-ada. Wisatawan kekinian sangat peduli dan memperhatikan faktor kebersihan destinasi maupun objek wisata. Celakanya, masih banyak ditemukan objek wisata yang mengabaikan faktor kebersihan.
Dalam kesempatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di beberapa desa wisata, penulis menemukan kondisi yang sungguh memprihatinkan. Toilet di objek wisata jauh dari kategori bersih. Kotor dan bau toilet yang tidak sedap. Bahkan terdapat sarang lebah di dalam toilet. Ini menandakan bahwa toilet itu tidak pernah dimonitor maupun dibersihkan oleh pengelola.
Selain itu juga tidak tersedia tempat sampah di tempat-tempat yang strategis. Hal ini membuat pengunjung objek wisata membuang sampah sembarangan. Kondisi semacam ini penulis temukan di beberapa objek wisata. Sepertinya, masalah kebersihan objek wisata memang menjadi persoalan akut di Indonesia. Maka Gerakan Wisata Bersih yang dicanangkan Menpar sangat urgen untuk dilaksanakan.
Budaya Bersih
Menggerakkan masyarakat maupun wisatawan untuk menjaga kebersihan di objek wisata sudah pasti bukan pekerjaan mudah. Masalah kebersihan acapkali berkaitan dengan “budaya” masyarakat. Kebersihan belum menjadi bagian dari kehidupan yang terinternalisasi. Orang masih merasa tidak bersalah dan tidak berdosa ketika membuang sampah sembarangan.
Tiadanya tempat sampah di objek wisata semakin menjadi alasan pembenar bagi wisatawan untuk membuang sampah di mana pun. Oleh karenanya, Gerakan Wisata Bersih mesti dimulai dengan proses sosialisasi dan internalisasi tentang arti penting hidup bersih bagi masyarakat. Tanpa itu, efektivitas program gerakan bersih hanya akan berdampak sesaat saja.
Sasaran gerakan itu juga patut menjadi perhatian. Gerakan itu bukan hanya dilakukan secara mendadak di destinasi wisata, namun juga perlu jemput bola ke berbagai lembaga seperti sekolah, kampus, instansi pemerintah dan swasta, serta lembaga-lembaga sosial lainya. Lewat lembaga-lembaga tersebut diharapkan gerakan hidup bersih dapat tersosialisasi dan terlembaga.
Kebersihan sesungguhnya bukan hanya berhubungan dengan sampah maupun toilet. Perilaku vandalisme di objek wisata juga dapat dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan hidup bersih. Banyak objek wisata yang memiliki peninggalan berupa situs bersejarah yang dicorat-coret oleh wisatawan. Selain merusak, perilaku vandalisme itu juga menganggu keindahan dan kebersihan.
Objek wisata biasanya memasang papan informasi “Jagalah Kebersihan” atau “Buanglah Sampah pada Tempatnya”. Namun acapkali papan itu hanya asesori saja. Selain pengelola tidak menyiapkan secara lengkap sarana kebersihan, wisatawan pun hanya sekadar melihat papan informasi itu tanpa memaknai sebagai satu bentuk perintah dan kewajiban.
Pembudayaan hidup bersih karenanya perlu dilakukan secara berkelanjutan. Strategi komunikasi untuk membudayakan hidup bersih bukan semata mengandalkan papan informasi maupun pengumuman di objek wisata. Perlu rancangan komunikasi audio visual untuk menggambarkan pentingnya kebersihan di objek wisata, baik melalui videotron maupun konten di media sosial.
Gerakan Kebersihan
Jika budaya bersih berorientasi pada dimensi kognitif dan afektif, maka gerakan kebersihan lebih berorientasi pada perilaku. Gerakan Wisata Bersih yang digagas Menpar harus menghasilkan capaian perilaku bersih wisatawan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan pariwisata.
Untuk itu Gerakan Wisata Bersih mesti dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai komponen dan menggunakan berbagai media. Gerakan kebersihan perlu digalakkan dari unit terkecil dalam sistem sosial, yaitu keluarga. Ini bukan pekerjaan mudah, mengingat belum semua keluarga di Indonesia menganggap kebersihan sebagai faktor penting dalam kehidupan.
Lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi perlu menjadi sasaran gerakan kebersihan. Bukan sekadar anjuran untuk cuci tangan secara rutin dan buang sampah pada tempatnya. Gerakan kebersihan juga perlu didukung oleh kebijakan yang mendorong perilaku bersih.
Peran pemerintah pusat dan daerah sangat diharapkan dalam pembuatan kebijakan terkait gerakan kebersihan. Bagaimana Gerakan Wisata Bersih oleh Menpar dapat berhasil jika pemerintah di daerah tidak mampu menangani persoalan pengelolaan sampah maupun penyediaan fasilitas kebersihan di ruang publik.
Masyarakat juga menjadi aktor penting dalam mewujudkan gerakan kebersihan. Sayangnya, gotong royong sebagai bentuk solidaritas sosial untuk menjaga kebersihan, di beberapa daerah mulai memudar seiring dengan semakin heterogen dan individual kehidupan masayarakat.
Penggunaan teknologi kekinian dapat membantu Gerakan Wisata Bersih. Beberapa negara seperti Swedia, Jerman, Denmark, Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura mampu mengatasi persoalan sampah dengan teknologi kekinian, kebijakan yang ketat, dan partisipasi masyarakat. Aplikasi pelaporan masyarakat terkait sampah bisa dibuat sebagai informasi bagi pemerintah.
Terpenting, Menteri Pariwisata harus mampu meyakinkan kepada semua pihak bahwa Gerakan Wisata Bersih adalah persoalan bersama bangsa ini. Bukan hanya untuk kepentingan pariwisata, tetapi juga membangun karakter bangsa yang menjunjung tinggi kebersihan. [T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
SEBAGAI seorang pemburu sato (binatang), suatu hari Lubdaka kembali hendak berburu ke tengah hutan. Ia berangkat menuju arah kaja kangin (timur laut) dengan berpakaian pelung (bir...
KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan. Namun, entah kenapa, pa...
WIJI Thukul, seorang sastrawan dan aktivis yang tak pernah lekang oleh waktu. Puisi-puisinya seakan menjadi nyanyian dalam sebuah aksi turun ke jalan untuk perlawanan menolak keadi...
KENAPA Hari Raya Pagerwesi dirayakan dengan meriah di Buleleng, tidak kalah dengan perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan? Jawaban pendeknya sebagai berikut. Ada petuah (wasi...
TAK dapat dipungkiri, limbah telah menjadi masalah terbesar masyarakat Provinsi Sumatra Selatan dewasa ini. Pesatnya pembangunan industri dan meningkatnya pola konsumsi tak diimban...
Cerpen: Satia Guna AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjang...
DI Hari Saraswati ini, entah kenapa, saya ingin membicarakan sosok teman saya sendiri, Made Sugianto. Meski dikenal sebagai pengelola penerbitan dan wartawan sekaligus pengarang,...
SUDAHKAH baca berita terbaru di negeri ini? Saat sebuah ormas demo di depan Mabes Polri, bendera merah putih yang kita banggakan ditulisi kata-kata yang saya sendiri tidak bisa bac...
MASIH tentang pilkada DKI Jakarta. Nyatanya seluruh pasangan calon yang bertarung di sana punya nilainya tersendiri. Punya lebih kurangnya masing-masing. Dari latar belakang profes...