GURU pelajaran ekonomi pada sekolah menengah pertama, pernah sakit hati pada saya, dulu sekali.
Pasalnya, dalam sebuah obrolan dengan teman-teman sekelas; saya berujar tentang korelasi ilmu ekonomi yang dipelajari di sekolah, dengan kehidupan sehari-hari yang manusia jalani.
“Saat berbelanja ke pasar, apakah rumus-rumus ekonomi akan kita gunakan? Tidak, bukan?” kata saya waktu itu.
Bisa jadi, ada siswa yang menyampaikan soal perkataan saya itu kepada guru perempuan tersebut yang di sekolah dikenal dekat dengan murid-murid.
Sejak itu, guru ekonomi tersebut selalu menyuruh saya untuk menjawab pertanyaan seusai ia menjelaskan pelajaran. Ada yang bisa saya jawab, ada pula yang tidak. Hanya saja, saya tahu ia ‘sakit hati’ pada saya. Mungkin ia merasa tidak dihargai, merasa disepelekan, mungkin juga merasa diremehkan.
Padahal, sebenarnya saya hanya mengkritisi pelajaran ekonomi pada kurikulum saat itu yang saya lihat amat berjarak dengan kehidupan nyata. Jika belajar tentang para pemikir ekonomi di dunia berserta teori dan pemikirannya tentunya masih relevan. Tapi kalau belajar yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, tentu hanya membuang-buang waktu dan energi saja.
Sekarang, ilmu kewirausahaan juga diajarkan di sekolah. Ini tentu sebuah kemajuan. Apalagi, jika sekolah mengadakan kegiatan expo, dimana para siswa terjun langsung untuk berjualan, merasakan bagaimana menjadi pedagang kuliner, misalnya; mulai dari memasak makanan yang hendak dijual, menata barang dagangan, hingga kemampuan komunikasi agar pengunjung mau mampir, mencicipi dan membeli makanan yang ditawarkan.
Dengan praktik langsung, keilmuan tidak lagi menjadi ‘kaku’, hanya teori yang terpampang pada buku-buku. Pengalaman di lapangan juga memberi kesan penting bagi para siswa; bagaimana sebuah ilmu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pengalaman pribadi saya di masa lalu, ketika mempertanyakan relevansi ilmu ekonomi di sekolah, ternyata membawa saya pada sebuah pemahaman yang lebih mendalam tentang interaksi manusia. Awalnya, saya hanya melihat ekonomi sebagai sekumpulan angka dan rumus yang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang bagaimana kita berinteraksi, bernegosiasi, dan membuat pilihan dalam hidup.
Setiap hari, kita terlibat dalam berbagai bentuk pertukaran. Ketika kita membeli makanan di warung, kita sedang bertukar uang dengan barang. Saat kita membantu teman mengerjakan tugas, kita sedang bertukar bantuan dengan persahabatan.
Bahkan ketika kita tersenyum kepada orang asing, kita sedang "menawarkan" keramahan dengan harapan mendapatkan respons yang positif. Semua interaksi ini, sekecil apapun, mengandung unsur pertukaran atau perdagangan.
Konsep "kita semua berdagang" ini tidak hanya berlaku dalam konteks ekonomi yang sempit, tetapi juga dalam hubungan sosial, politik, dan bahkan dalam kehidupan pribadi kita.
Dalam hubungan persahabatan, misalnya, kita seringkali "berinvestasi" waktu, energi, dan emosi dengan harapan mendapatkan dukungan, pengertian, dan kebahagiaan. Dalam dunia politik, para politisi "menawarkan" janji-janji kampanye dengan harapan mendapatkan suara pemilih.
Namun, perdagangan tidak selalu berjalan mulus dan adil. Seringkali, kita menghadapi situasi di mana kekuatan tawar menawar tidak seimbang. Misalnya, dalam hubungan antara pekerja dan pengusaha, pekerja mungkin merasa dipaksa untuk menerima gaji yang rendah karena takut kehilangan pekerjaan.
Dalam perdagangan internasional, negara-negara berkembang seringkali menghadapi tekanan dari negara maju dalam negosiasi perdagangan.
Selain itu, konsep "kita semua berdagang" juga memunculkan pertanyaan etis. Apakah semua bentuk perdagangan dapat dibenarkan? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa perdagangan dilakukan secara adil dan tidak merugikan pihak lain? Dalam era globalisasi, di mana perdagangan lintas batas semakin marak, isu-isu seperti eksploitasi tenaga kerja, kerusakan lingkungan, dan ketidaksetaraan semakin menjadi sorotan.
Pemahaman tentang konsep "kita semua berdagang" dapat membantu kita menjadi konsumen yang lebih cerdas, pekerja yang lebih baik, dan warga negara yang lebih bertanggung jawab.
Dengan menyadari bahwa setiap tindakan kita memiliki konsekuensi, kita dapat membuat pilihan yang lebih bijaksana dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan sesama.
Konsep "kita semua berdagang" juga memiliki implikasi yang luas bagi cara kita memahami diri kita sendiri dan masyarakat. Jika kita melihat semua interaksi sebagai bentuk pertukaran, maka kita mungkin cenderung lebih fokus pada keuntungan pribadi daripada pada kepentingan bersama. Hal ini dapat mengarah pada individualisme yang berlebihan dan mengikis nilai-nilai sosial seperti solidaritas dan empati.
Di sisi lain, pemahaman yang mendalam tentang dinamika perdagangan dapat membantu kita membangun hubungan yang lebih sehat dan produktif. Dengan menyadari bahwa setiap interaksi melibatkan pertukaran, kita dapat lebih menghargai kontribusi orang lain dan berusaha untuk mencapai keseimbangan yang adil dalam semua hubungan kita.
Pada masa sekarang, kemampuan “menjual diri”, dalam artian mempromosikan tentang apa yang seseorang punya dan mampu lakukan—terutama dalam dunia kerja, menjadi sangat penting.
Tanpa disadari, mulai dari menjual kemampuan berbicara, menulis, mengajar, tenaga untuk pekerjaan fisik; misalnya pekerja proyek atau bangunan, hingga yang dianggap ‘salah’ di masyarakat sekalipun, yakni seks atau pelacuran—kita semua kalau mau jujur, ‘berdagang’, berjualan.
Bahkan, apa apa yang disebut menjilat sekalipun, itu butuh kemampuan tertentu. Jangan munafik. Jangan pula menghakimi. Apa yang menjadi contoh di atas adalah strategi untuk bertahan hidup yang makin keras, penuh persaingan, dan tidak jarang berlangsung secara tidak adil.
Menjadi catatan, jika kita membaca novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari (Dee), dimana Diva, salah satu tokoh dalam novel tersebut berujar: Ternyata, pelacuran terjadi dimana-mana. Hampir semua orang melacurkan waktu, jati diri, pikiran bahkan jiwanya. Dan, bagaimana kalau ternyata itulah pelacuran yang paling hina? (Hal 69)
Kalimat Diva dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh menyajikan sebuah pandangan yang provokatif dan kompleks tentang makna pelacuran. Melampaui definisi tradisional, Diva mengajak kita untuk merenungkan bahwa pelacuran tidak hanya terbatas pada pertukaran seks demi imbalan materi, tetapi juga mencakup berbagai bentuk eksploitasi diri.
Diva mendefinisikan pelacuran sebagai sebuah tindakan menjual sesuatu yang berharga, baik itu waktu, jati diri, pikiran, maupun jiwa. Dalam konteks modern, kita seringkali tanpa sadar terlibat dalam bentuk-bentuk pelacuran ini.
Misalnya, seorang pekerja kantoran yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor demi mengejar karir, pada dasarnya telah "melacurkan" waktunya demi mencapai tujuan materi. Seorang influencer yang menjual citra dirinya demi mendapatkan pengikut dan endorsement, juga bisa dianggap sebagai bentuk pelacuran. Diva menyiratkan bahwa ada hierarki dalam bentuk-bentuk pelacuran. Pelacuran fisik mungkin dianggap lebih kasat mata dan seringkali distigma, namun pelacuran yang melibatkan waktu, jati diri, atau jiwa dianggapnya lebih hina. [T]
Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending'
Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending (kegalauan) y...
TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbi...
Roses are red
Violets are blue
106,20 KM?
WTF is wrong with you?
SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas diangkat oleh seorang warga negara asing, tepat sebel...
SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa ke mana? Pertanyaan itu membawa ba...
CITRA Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni rupa tahunan Sove...
DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari a...
Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara?
Saya sendiri kerap mendengar orang mengeluh patah hati karena urusan asm...
JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi di ruang diplomasi. Presiden Prabowo Subianto hadir mengenak...
“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.”
Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai mementaskan Legong Kembang Ura di Wantilan Pura Des...
DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam arti plesir yang dalam Bahasa Bali disebut mala...