Memang ada ya korelasinya kalimat tersebut dengan judul yang saya tulis? Hmmm, sepertinya saya memikul keresahan sebagian dari para guru yang merasa bahwa profesi guru semakin hari semakin membuat uban pada rambut cepat muncul.
Bagaimana tidak? Coba kita ingat yang tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, di mana guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Namun realitanya guru haruslah menjadi sosok multitalenta. Ia harus bisa mengerjakan dan menjadi apa saja sesuai kebutuhan di lembaganya (selain tugas utama guru).
Jika tidak mau atau tidak bisa melakukan, maka label tidak loyal dan tidak profesional akan disematkan pada diri guru tersebut.
Sebenarnya guru yang multitalenta itu hebat nggak sih? Hebat dong! Tapi siapa yang tahu di balik guru multitalenta itu ada mental yang lelah. Karena keterpaksaan atau gak pengen label tidak loyal dan tidak profesional menjadikan salah satu alasan dari sebagian guru. Dan pada kondisi demikian, tak jarang seorang guru merasa sendirian karena kurangnya empati orang-orang di sekitarnya. Selain itu, beberapa tahun ini guru sangat merasakan dirinya berkejaran dengan banyak hal, di antaranya kurikulum yang memang selalu dinamis, zaman, dan teknologi.
Nah, mari kita obrolin hal-hal yang mengejarnya itu…
Kurikulum yang Selalu Dinamis
Sebagaimana kita tahu, bukan rahasia lagi bahwa ketika berganti menteri berganti pula kurikulumnya. Hal seperti ini membuat guru seluruh Indonesia merasa pusing tujuh kelililing. Baru saja ikut diklat, berlatih membuat perangkat pembelajaran, mengimplementaikan dan masih menemukan error di lapangan, namun karena menteri pendidikannya ganti, malah sudah ganti pula dan harus ditinggalkan begitu saja apa yang para guru pelajari/latih selama diklat.
Menurutku, yang namanya kurikulum memang harus ada penyempurnaan-penyempurnaan sesuai dengan kodrat zaman. Kita bisa ambil contoh pada zaman saya belajar perkalian. Guru saya menggunakan strategi hafalan. Murid di depan guru satu per-satu belajar berhitung menggunakan telapak tangannya dengan posisi di atas meja guru. Alhasil, akan melayanglah penggaris kayu di telapak tangan itu jika tidak mampu menjawab. Apakah itu menjadi trauma buat diri saya? Jawabannya tidak. Bahkan saya malah bersyukur karena saat itu saya punya kemauan melawan rasa malas dengan belajar menghapal lebih tekun. Coba saja kita pakai strategi guru saya di zaman sekarang. Yang ada malah bukan kue lapis ucapan terima kasih dari wali murid, melainkan pasal yang berlapis lapis karena dianggap bullying dan kekerasan terhadap peserta didik.
Hal ini menjadi wajar dan tidak salah ketika memandang bahwa kurikulum memang harus berubah, mesti dinamis, menyesuaikan dengan kondisi zaman. Yang salah hanyalah pemahaman dengan membuat guru kewalahan untuk melakukan tugas utamanya yang sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga, yaitu merancang perencanaan dan asesmen. Jika harus berkata jujur, saya sangat bernapas lega ketika kurikulum 2013 berganti menjadi Kurikulum Merdeka. Menteri Pendidikan yang mencetuskan kurikulum tersebut membuat keluwesan pada banyak hal, khususnya terkait tugas utama guru dalam membuat perencanaan pembelajaran sampai pada asesmen.
Namun, lagi-lagi realita yang turun dan sampai ke guru tidak seindah drama Korea. Alih-alih guru mendapatkan kebebasan membuat perencanaan pembelajaran dan asesmen sesuai dengan kreativitas guru selama tetap pada rule, malah muncul aturan-aturan yang seolah dipatenkan dalam membuat perangkat mengajar.
Lalu, pergantian menteri kali ini, syukur jika kurikulum merdeka masih tetap akan dipertahankan dan tidak diganti seperti yang sudah-sudah, tentunya dengan penyempurnaan, salah satunya seperti yang kita dengar ada istilah deep learning. Semoga saja Bapak Menteri akan lebih menekankan pemahaman ke bawahannya tentang “kalau bisa mudah, kenapa dibuat sulit” supaya guru tetap bahagia.
Zaman
Guru yang mengajar di masa sekarang berada di zona zaman yang semuanya serba aksi nyata dan didukung dengan sosial media sebagai wadahnya. Nah, ini salah satu yang saya maksud dari guru dituntut multitalenta. Tentang soal pembelajaran yang dilakukan guru tidak berhenti di dalam kelas, melainkan harus mendokumentasikannya, bahkan memublikasikan dengan dalih sebagai bukti aksi nyata dan menjadi perangkat motivasi.
Padahal, mata kuliah di keguruan, para calon guru tidak diajarkan public speaking, editing video, atau lainnya, yang berkaitan dengan publikasi digital. Tapi hal ini bagi saya sangat seru, sih, karena meskipun saya tidak mempunyai kemahiran dalam hal tersebut, paling tidak saya mempunyai minat di sana dan dengan minat itu saya mempunyai kemauan untuk mencari tahu dan belajar. Jadi, ayo deh, belajar hal yang satu ini. Belajarnya pelan-pelan saja supaya guru tetap bahagia.
Teknologi
Siapa yang bisa menahan dan melawan teknologi? Sebuah konsekuensi dari globalisasi dan kita seharusnya tidak perlu mengumpat betapa cepat dan canggihnya teknologi. Banyak yang mengatakan teknologi itu seperti sebuah pisau, di mana semua itu tergantung pada siapa yang memegang dan mengendalikannya.
Beberapa hal yang dapat kita rasakan adalah kita bisa terbantu, teknologi mempermudah dan mempercepat pekerjaan seorang guru terkait administrasi. Sebut saja seperti membuat perangkat ajar, mulai dari modul ajar, bahan ajar, memilih strategi pembelajaran dengan menggunakan AI atau Chat GPT. Menurut saya hal ini bukanlah sebuah kesalahan selama tulisan yang dihasilkan oleh AI atau Chat GPT tidak dituangkan mentah-mentah, melainkan diolah guru tersebut, karena sehebat apapun AI atau Chat GPT memberi solusi, manusialah yang mampu mengolah kalimat dengan menggunakan rasa. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai dewa.
Disadari atau tidak, canggihnya teknologi yang merambah di dunia kerja, khususnya dunia pendidikan, menjadikan guru mempunyai jam kerja serupa jam dinding—24 jam selama mata tidak terpejam. Banyak sekali yang mengatasnamakan memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan mengirim data dan berkas pekerjaan cukup mudah dan cepat. Pada kenyataannya, tak jarang data dan berkas pekerjaan diminta diluar jam kerja. Tidak peduli guru sedang masak untuk suaminya, meneteki bayinya, menjaga kerabat yang sakit, atau sedang takziyah. Bahkan tagihan tagihan pekerjaan pun dijumpai ketika guru baru membuka mata.
Sekali lagi bukan salah bunda mengandung. Hehehe. Dalam kondisi semacam ini teknologi berperan sebagai hantu. Namun, sepertinya ke depan akan ada solusi bagaimana guru tetap bersahabat dengan teknologi tanpa melupakan anak didiknya supaya guru tetap bahagia.
Lalu, apa resolusi kalian dalam menyambut pergantian kalender kali ini? Kalau saya, sih, sederhana saja: menjadi guru yang bahagia. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...