RABU, 25 Desember 2024 merupakan hari terakhir Denpasar Festival (Denfest) 2024, aku dan Jeff, kawan seperdebuan Unud ini memutuskan menengok bagaimana meriahnya acara tahunan Kota Denpasar tersebut untuk juga melegakan hari-hari kami yang mulai sesak karena manginjak semester akut.
Baru saja kami parkir dan memasuki area Denfest, mata kami sudah sibuk mencari celah untuk berjalan. Semakin masuk ke dalam, badan kami sudah bertabrakan dengan badan orang lain. Sebegitu tumpah ruahnya manusia dan semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Gila, yaa, mau gimana pun kita, dunia bakal terus berjalan," celetuk Jeff tiba-tiba dengan sedikit tawa karir.
"Mau kita mati sekarang pun dunia gabakal peduli, njirr. Semua bakal berjalan seperti biasa aja," timpalku menguatkan argumen pesimis kami ini. Hahahaha.
Kepergian, kehilangan, dan kematian jadi hal yang paling aku takuti di hidupku. Sekecil saat teman-temanku tiba waktu pulang ke rumahnya masing-masing setelah seharian bermain di kostku, aku akan bersedih malamnya dan kesepian lagi. Terlebih lagi ketika kekasihku, Aguk, pergi menjemput bapaknya di Surga beberapa bulan lalu.
Panggung musik Denfest 2024 | Foto: Shade
Kata orang-orang, aku terlalu cepat moved on, terlalu cepat berpaling, terlalu cepat punya pacar baru. Huuhhhh.... Bro. Memangnya kita bisa menerawang kesungguhan simpati dan empati orang pada kita ketika mereka menanyakan kabar? Barangkali mereka hanya kepo atau hanya sebuah topik memulai percakapan. Buatku, topik itu luas sehingga hal tersebut bukan jadi topik pembuka yang epic untuk membuat lawan bicara ga mood lagi cuy. Tapi itu sudah berlalu, sihh.
Bahkan saat itu, semangat untuk aku bangun pagi membuka mata lalu hidup menjalani hari-hari itu udah ga ada. Rasanya dunia ini udah ga ada lagi. Udah remuk, hancur berkeping-keping. Matahari cerah siang hari, bagiku semua gelap. Keluar bermain ke sana kemari, pulang kelewat malam. Kuliah dan kerja udah dilupain. Setiap hari ga ada jeda untuk nangis. Sakit. Bukankah semua itu tak perlu kujelaskan pada setiap orang hanya demi dikasihani?
Kemudian muncullah pertanyaan di kepala:
"Memangnya aku udah ga boleh bahagia lagi, ya?"
"Jadi salah besar, ya, kalau aku buka hati untuk orang lain?"
"Aguk bakal marah, ya, kalau aku pacaran sama orang lain?"
"Jodohku beneran udah matikah? Ini sekarang aku hanya menyambung hidup, kah?"
Suasana Denfest 2024 | Foto: Shade
Lalu lagu Dongker - Bertaruh Pada Api, terputar. Terlalu pesimis sampai kurasa cinta sudah tidak berpihak pada diriku lagi.
Hari ini, ketika mendengarkan lagu milik Perunggu - Kalibata, 2012 ataupun Perunggu - 33x, aku sudah tidak menangis lagi. Hariku sudah ada semburat warna walau sedikit demi sedikit, samar, muali terang. Senyumku sudah lebih lebar. Dadaku sudah lapang. Walau rindu itu tak pernah gugur, karena untuk menjangkaunya pun aku tak sanggup. Biarkan do'aku yang mengiringi. Biarkan diriku sendiri yang mengenali, kubiarkan orang berkata setajam belati. Langkahku malam ini sudah berdarah sejak dini hari.
Makam Aguk di Singaraja | Foto: Shade
Banyak semoga sudah kuamini, dibantu do'a Bunda dan Mamah. Kalau kata lagu, Jenny, "Hidup itu sekali, mati itu pasti. Bisa jadi nanti, atau setelah ini. Coba tulis ulang lagi yang sejatinya kau cari. Maka sudahilah sedihmu yang belum sudah. Segera mulailah syukurmu yang pasti indah. Berbahagialah". Aseekkkk.
Oiyaaa, kembali ke jalan-jalanku bersama Jeff tadi. Kami bertemu Ika Nannok si rambut pink gonjreng yang juga kebingungan dengan siapa nongkrong di Jenar Coffee. Kami bertiga kekenyangan setelah menelusuri jajanan yang dijual di area samping panggung musik Denfest sembari menonton Zat Kimia dan berjoget ria bersama Bali Reggae Movement, ditambah gaung terompet tahun baru bocil yang sudah berkumandang jauh sebelum ganti tahun. Anjir, mahal juga, ya, terompet gitu doang 70rb, bjirrr. Skip-lah ada gila-gilanya.
Akhirnya, kami pulang dengan iringan lagu Bob Marley - Could You Be Loved dan lenggang jalanan malam Denpasar. Penuh senyum syukur dan ingatan bau ketek orang yang menusuk tengkorak hidung di tengah lautan manusia itu.
Sesibuk apapun manusia di semesta ini, kehadiran dan kematianku tak jadi apa untuk dunia. Setersesat apa pun aku di dalamnya, akan kutantang rasi bintang agar sampai setidaknya pada titik milikku nanti. Selamat, masih hidup. Selamat Natal dan Tahun Baru. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...