MASIH dalam suasana Aktivasi Program Penguatan Ekosistem Kebudayaan Kawasan Warisan Dunia Tahun 2024. Kini mari kita menuju Subak Tingkihkerep di Desa Tengkudak, Kecamatan Panebel–Tabanan, Bali. Desa ini mempersembahkan Parade Panen Padi, Minggu pagi, 8 Desember.
Suasana di Tengkudak, pagi itu, tampak meriah meski udara masih terasa begitu dingin. Orang-orang berteduh di bawah pohon rindang yang tak jauh dari areal Balai Subak Tingkihkerep. Mereka bersiap menggelar parade.
Di balai subak juga ada banyak orang, sebagian besar petani, ikut acara seremonial dan edukasi tentang pertanian. Begitu acara seremonial usai, orang-orang mulai bergegas mempersiapkan diri untuk berjalan kaki sekitar lima ratus meter ke sawah.
Perjalanan menuju sawah untuk panen | Foto: tatkala.co/Son
Parade dilakukan oleh laki dan perempuan, Pak Tani dan Bu Tani, juga anak-anak. Mereka berjalan beriringan turun ke bawah sambil membawa alat pertanian.
Jalanan cukup curam, juga agak licin karena barangkali sedang musim hujan. Di samping jalan, pohon-pohon tumbuh begitu tinggi dan besar, sebagaimana desa yang masih asri. Udara cukup baik di sana.
Sambil menggunakan topi tani dan membawa bakul serta ani-ani (alat pemotong padi tradisional), Ni Nyoman Suryani (59) berjalan diantara orang-orang turun ke bawah. Di sepanjang jalan, seseorang mengumandangkan semacam geguritan mengantarkan para petani itu sampai ke sawah bertemu padi yang merunduk emas.
Suryani melangkahkan kakinya penuh kehati-hatian bersama beberapa ibu lain yang membawa alat yang sama. Di sana, mereka akan menunjukkan cara bagaimana memotong padi dengan alat tradisional bernama ani-ani itu.
Setelah sampai di subak atau sawah, nyanyian dihentikan oleh seorang lelaki yang kulitnya cukup liat. Suryani kemudian turun ke sawah dengan tanah cukup becek, dan mulai memotong padi menggunakan ani-ani dengan terampil. Di pinggir jalan, orang-orang menonton.
“Ini namanya padi merah. Kalo sudah panen, saya biasa memotongnya dengan ani-ani,” tutur Ni Nyoman Suryani, petani perempuan dari Desa Tengkudak itu.
Parade panen di Desa Tengkudak, Penebel, Tabanan | Foto: tatkala.co/Son
Konsep parade panen padi ini sengaja dihadirkan untuk memberi satu edukasi dan praktik secara langsung kepada audiens atau pengunjung yang hadir, lebih-lebih kepada anak muda atau anak-anak yang ikut serta dalam parade. Tak ayal, mereka—yang di sana sebagai audiens, pun dilibatkan pula mencoba memotong padi dengan alat itu.
Ani-ani atau alat pemotong padi tradisional yang digunakan mereka terbuat dari bambu dengan diameter 10-20 mm dengan panjang kurang lebih 10 cm dan pisaunya dengan ketebalan 1,5–3 mm terbuat dari baja.
Ani-ani itu tajam, dan seperti sudah terlatih, Suryani tanpa fafifu langsung memotong padi itu sangat gesit. Segepok padi telah memenuhi tangan kanannya, dan di sela jari ani-ani masih tergenggam. Ia memindahkan padi itu ketangan kirinya sebelum pindah lagi ke bakul yang ia bawa.
“Kalau tak hati-hati atau belum terbiasa, bisa melukai jari sendiri,” lanjutnya.
Dalam memanen, Suryani bisa satu hari di sawah memotong padi dengan sabar. Tentu, ia tidak melakukannya sendiri. Ia dibantu dengan sejumlah orang lain seperti suami atau beberapa orang buruh yang dipekerjakan. Ia tak melakukannya dengan arit, ia memilih menggunakan ani-ani walaupun dalam pengkerjaannya tidak terlalu cepat.
Parade panen di Desa Tengkudak, Penebel, Tabanan | Foto: tatkala.co/Son
Dalam hal ini, perempuan paruh baya itu ingin melangsungkan tradisi yang menurutnya sudah turun-temurun yang mesti dilestarikan. Tetapi di samping itu, arit juga digunakan oleh sebagian warga selain ani-ani tadi, tergantung situasi dan kondisi, atau barangkali mood mereka.
Di desanya, padi merah adalah bagian salah satu varietas padi yang diunggulkan sehingga banyak-banyak ditanam, dan ketika panen raya sudah tiba, perempuan paruh baya itu memotongnya dengan tampak gembira. Di sini, parade itu menunjukkan sebuah teatrikal hidup bagaimana menjadi seorang petani ketika memanen padi.
Setelah padi-padi sudah berhasil dipotong, lantas dikumpulkan menjadi satu, dan dalam jarak lima puluh meter dari tempat Suryani memanen, di sana, beberapa orang memeragakan diri menggebuk padi itu hingga terpisah dari batangnya, menjadi gabah, untuk dimasukkan ke dalam karung.
Dalam konsep parade panen padi ini, Kepala Desa Tengkudak Ketut Suartanca berharap kegiatan itu dapat membekas positif kepada mereka yang ikut terlibat, “Baik dari sisi pelestarian budaya maupun pemberdayaan masyarakat.” [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu dipadati penonton. Di tengah suasana he...
Di tengah gempuran media sosial, kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu cukup? Atau ketika semu...
SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari atas panggung. Berpadu dengan suara su...
Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin
Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ke...
ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya tertinggal zaman, dan pe...
GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa a...
BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari pembahasannya, apalagi...
DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka hidup di era yang menuntu...
SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia...