17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
BADANKU kini tidak lagi seperti manusia kayu. Badanku telah berisi dan kuat, juga begitu segar. Seperti aku baru bangun tidur dan langsung rasakan lapar. Sangat-sangat lapar.
Rumah ramai orang, sanak saudara, dan tetangga. Aku mengitari ruang tamu yang sesak dengan lega. Aku mengenali setiap wajah yang ada di ruangan ini. Bahkan sampai sehari sebelumnya aku rasa tidak pernah mengingat nama mereka. Kini aku rasanya terlahir kembali.
Tudung saji di meja makan tampak rapih. Aku membuka isinya dan melihat begitu banyak makanan kesukaanku. Tunggu, bahkan ada ayam goreng yang sudah lama dilarang untuk masuk ke mulutku. Aku terpikirkan ice cream rasa coklat kegemaranku sewaktu dulu.
Bergegaslah aku membuka kulkas dan ternyata sudah penuh dengan ice cream coklat. Aku tidak tahu situasi macam apa ini. Penuh dengan ketiba-tibaan. Aku bisa berdiri, daunku muncul kembali, udara menerobos dari sela-sela daun dan dahanku. Apakah aku menemui musim semi?
***
“Bu, makan dulu ya,” ujar Shinta, anakku sambil menyodorkan sendok yang tidak berlauk apapun itu kepadaku.
Aku hanya menggeleng, siapa yang mau membuka mulutnya untuk dijejalkan makanan seperti itu. Hanya nasi putih yang dihaluskan dan ditambah kuah sayur bening saja.
Aku ingin makan ayam goreng. Aku ingin makan ice cream manis rasa coklat itu lagi. Aku ingin makan sesuatu yang tidak seperti ini. Hambar. Itulah yang ingin aku katakan kepada anakku.
Akan tetapi, aku hanya bisa marah dan membalikkan piring di tangannya hingga berserakan.
“Bu, ya sudah kalau tidak mau makan!” Bentakan itu datang dari anak yang sejak dulu aku besarkan tanpa amarah ketika dia memilih meremas makanannya ketimbang mengunyahnya.
Aku merasa duniaku jauh berbeda dengan keinginannya atau keinginanku. Semuanya telah memilih memakan ego masing-masing ketimbang memahami diri. Shinta meninggalkanku dengan nasi yang masih berserakan di lantai. Aku sendirian.
Rumah besar ini tidak pernah berubah isi benda matinya hanya manusia di dalamnya yang terlalu menikmati kehidupan sendiri-sendiri. Sepeninggalnya suamiku dan anak-anakku bekerja, tinggallah aku sendiri bersama Inah sesekali.
Inah hanya datang seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah ini. Tidak jarang pula ia menemani hari-hariku ketika Shinta sibuk bekerja. Inah selalu sabar menghadapiku atau dia sebetulnya berempati kepadaku. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Bedanya Inah masih menjadi tumbuhan yang segar.
Aku telah melewati separuh kehidupan menjadi tumbuhan segar yang siap bergoyang kesana-kemari menebar kehidupan bagi keluargaku. Bunga tidak lagi bermekaran pada dahanku. Daun-daun telah gugur dan melayu hingga tersisa satu yang mampu memberiku makan.
Hanya itu yang dapat aku harapkan agar dapat tumbuh kembali. Tidak seperti pohon yang tampak sedih menggugurkan daunnya ketika musim gugur tiba dan kembali merona ketika musim semi muncul. Daun-daunku tidak akan kembali. Aku tahu itu.
Kini aku tinggal menjadi kayu, bahkan untuk ditegakkan saja butuh penopang. Begitulah aku, menunggu hingga daun terakhir menemukan tempatnya.
Aku tidak bisa menyampaikan isi pikiranku kepada siapapun lagi. Pernah sekali aku mencobanya tapi hanya cerca yang terdengar padaku.
“Ibu sudah mau jadi kayu. Daunnya tinggal satu,” kata Shinta sewaktu ia menyuapiku makan tanpa bantahan dari mulutku. “Apa sih, Bu. Jangan mulai lagi, cepat makan saja!”
Shinta lebih sering meninggikan nadanya kepadaku sejak peristiwa yang menjadikannya yatim. Shinta tidak mengerti atau sengaja tidak mau memahami bahwa aku juga menjadi janda karenanya. Kehilangan rumah dan isinya.
Ini menjadi pikiranku sendiri. Menilik daun itu dan melihatnya tetap berada pada posisinya menjadikanku sedikit tenang. Meskipun, warna hijau itu setiap harinya mulai bergradasi dengan warna kuning lalu coklat. Hal itu menjadikanku sadar bahwa semuanya akan berubah dan tinggal menunggu. Menunggu untuk kembali atau pergi sendiri-sendiri.
Aku menyadari bahwa tubuhku akan menjadi kayu dan entah bagaimana nasib kayu ini, biarkan Tuhan yang membawa pergi.
“Ibu, minta maaf, Shinta!” Aku berusaha mengeja maaf yang tidak aku tahu salahku apa. Sepertinya, aku memang salah di mata anak bungsuku itu. Oleh karenanya, aku berusaha mengeja kata itu. Aku menyusunnya semalaman hingga energi yang aku simpan hampir habis.
Daun yang memberiku makan tidak lagi mampu berfotosintesis karena hijaunya sudah tidak bersisa. Satu daun itu tidak lagi mampu memberiku kehidupan.
“Sudahlah, Bu. Shinta juga salah melampiaskan marah kepada Ibu,” kata Shinta.
Senang aku mendengarnya. Shinta memelukku dengan nyaman seperti aku memeluknya sewaktu kecil di taman rumah yang hangat ketika musim semi tiba. Daunku yang satu meninggalkan dahannya, terbang menemui tempatnya. Takdirnya.
Aku masih ingat betul hangat pelukan Shinta semalam. Badanku telah jauh tumbuh dan tidak lagi seperti manusia kayu. Aku menanggalkan bunga tidur indah itu dan beranjak keluar.
Aku mengitari ruang tamu yang sesak, tapi tidak seorangpun hiraukan hadirnya aku. Bendera kuning melambai dengan sendu menghiasi dinding rumahku itu. Telah aku lihat badan yang kurus itu terbujur kaku, dingin. Terbaring dengan sedih di atas meja bertutup kain jarik seram.
Aku telah kembali. Kembali menjadi tumbuhan segar dan kembali kepada Tuhan dengan keutuhannya. Kembali, seluruh daunku telah kembali. Musim gugurku telah usai di sini, kembalilah musim semiku bersama-Nya kini. [T]
BACA cerpen lain di tatkala.co
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...