Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
BADANKU kini tidak lagi seperti manusia kayu. Badanku telah berisi dan kuat, juga begitu segar. Seperti aku baru bangun tidur dan langsung rasakan lapar. Sangat-sangat lapar.
Rumah ramai orang, sanak saudara, dan tetangga. Aku mengitari ruang tamu yang sesak dengan lega. Aku mengenali setiap wajah yang ada di ruangan ini. Bahkan sampai sehari sebelumnya aku rasa tidak pernah mengingat nama mereka. Kini aku rasanya terlahir kembali.
Tudung saji di meja makan tampak rapih. Aku membuka isinya dan melihat begitu banyak makanan kesukaanku. Tunggu, bahkan ada ayam goreng yang sudah lama dilarang untuk masuk ke mulutku. Aku terpikirkan ice cream rasa coklat kegemaranku sewaktu dulu.
Bergegaslah aku membuka kulkas dan ternyata sudah penuh dengan ice cream coklat. Aku tidak tahu situasi macam apa ini. Penuh dengan ketiba-tibaan. Aku bisa berdiri, daunku muncul kembali, udara menerobos dari sela-sela daun dan dahanku. Apakah aku menemui musim semi?
***
“Bu, makan dulu ya,” ujar Shinta, anakku sambil menyodorkan sendok yang tidak berlauk apapun itu kepadaku.
Aku hanya menggeleng, siapa yang mau membuka mulutnya untuk dijejalkan makanan seperti itu. Hanya nasi putih yang dihaluskan dan ditambah kuah sayur bening saja.
Aku ingin makan ayam goreng. Aku ingin makan ice cream manis rasa coklat itu lagi. Aku ingin makan sesuatu yang tidak seperti ini. Hambar. Itulah yang ingin aku katakan kepada anakku.
Akan tetapi, aku hanya bisa marah dan membalikkan piring di tangannya hingga berserakan.
“Bu, ya sudah kalau tidak mau makan!” Bentakan itu datang dari anak yang sejak dulu aku besarkan tanpa amarah ketika dia memilih meremas makanannya ketimbang mengunyahnya.
Aku merasa duniaku jauh berbeda dengan keinginannya atau keinginanku. Semuanya telah memilih memakan ego masing-masing ketimbang memahami diri. Shinta meninggalkanku dengan nasi yang masih berserakan di lantai. Aku sendirian.
Rumah besar ini tidak pernah berubah isi benda matinya hanya manusia di dalamnya yang terlalu menikmati kehidupan sendiri-sendiri. Sepeninggalnya suamiku dan anak-anakku bekerja, tinggallah aku sendiri bersama Inah sesekali.
Inah hanya datang seminggu tiga kali untuk membersihkan rumah ini. Tidak jarang pula ia menemani hari-hariku ketika Shinta sibuk bekerja. Inah selalu sabar menghadapiku atau dia sebetulnya berempati kepadaku. Usianya tidak jauh berbeda denganku. Bedanya Inah masih menjadi tumbuhan yang segar.
Aku telah melewati separuh kehidupan menjadi tumbuhan segar yang siap bergoyang kesana-kemari menebar kehidupan bagi keluargaku. Bunga tidak lagi bermekaran pada dahanku. Daun-daun telah gugur dan melayu hingga tersisa satu yang mampu memberiku makan.
Hanya itu yang dapat aku harapkan agar dapat tumbuh kembali. Tidak seperti pohon yang tampak sedih menggugurkan daunnya ketika musim gugur tiba dan kembali merona ketika musim semi muncul. Daun-daunku tidak akan kembali. Aku tahu itu.
Kini aku tinggal menjadi kayu, bahkan untuk ditegakkan saja butuh penopang. Begitulah aku, menunggu hingga daun terakhir menemukan tempatnya.
Aku tidak bisa menyampaikan isi pikiranku kepada siapapun lagi. Pernah sekali aku mencobanya tapi hanya cerca yang terdengar padaku.
“Ibu sudah mau jadi kayu. Daunnya tinggal satu,” kata Shinta sewaktu ia menyuapiku makan tanpa bantahan dari mulutku. “Apa sih, Bu. Jangan mulai lagi, cepat makan saja!”
Shinta lebih sering meninggikan nadanya kepadaku sejak peristiwa yang menjadikannya yatim. Shinta tidak mengerti atau sengaja tidak mau memahami bahwa aku juga menjadi janda karenanya. Kehilangan rumah dan isinya.
Ini menjadi pikiranku sendiri. Menilik daun itu dan melihatnya tetap berada pada posisinya menjadikanku sedikit tenang. Meskipun, warna hijau itu setiap harinya mulai bergradasi dengan warna kuning lalu coklat. Hal itu menjadikanku sadar bahwa semuanya akan berubah dan tinggal menunggu. Menunggu untuk kembali atau pergi sendiri-sendiri.
Aku menyadari bahwa tubuhku akan menjadi kayu dan entah bagaimana nasib kayu ini, biarkan Tuhan yang membawa pergi.
“Ibu, minta maaf, Shinta!” Aku berusaha mengeja maaf yang tidak aku tahu salahku apa. Sepertinya, aku memang salah di mata anak bungsuku itu. Oleh karenanya, aku berusaha mengeja kata itu. Aku menyusunnya semalaman hingga energi yang aku simpan hampir habis.
Daun yang memberiku makan tidak lagi mampu berfotosintesis karena hijaunya sudah tidak bersisa. Satu daun itu tidak lagi mampu memberiku kehidupan.
“Sudahlah, Bu. Shinta juga salah melampiaskan marah kepada Ibu,” kata Shinta.
Senang aku mendengarnya. Shinta memelukku dengan nyaman seperti aku memeluknya sewaktu kecil di taman rumah yang hangat ketika musim semi tiba. Daunku yang satu meninggalkan dahannya, terbang menemui tempatnya. Takdirnya.
Aku masih ingat betul hangat pelukan Shinta semalam. Badanku telah jauh tumbuh dan tidak lagi seperti manusia kayu. Aku menanggalkan bunga tidur indah itu dan beranjak keluar.
Aku mengitari ruang tamu yang sesak, tapi tidak seorangpun hiraukan hadirnya aku. Bendera kuning melambai dengan sendu menghiasi dinding rumahku itu. Telah aku lihat badan yang kurus itu terbujur kaku, dingin. Terbaring dengan sedih di atas meja bertutup kain jarik seram.
Aku telah kembali. Kembali menjadi tumbuhan segar dan kembali kepada Tuhan dengan keutuhannya. Kembali, seluruh daunku telah kembali. Musim gugurku telah usai di sini, kembalilah musim semiku bersama-Nya kini. [T]
BACA cerpen lain di tatkala.co
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...