DITINGGAL mati orang terkasih rasanya berat. Itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah “pulang” lebih dulu. Ibu seperti kehilangan “teman hidup” yang pernah menemaninya puluhan tahun lamanya. Ibu tidak ke rumah sakit pada waktu menjelang kematian ayah, saat-saat “sakratul maut”. “Takut,” katanya.
Ibu punya trauma tentang kematian. Beliau hanya berkata-kata kepada ayah melalui telepon genggam, kata-kata terakhir sebelum ayah meninggalkan badan fisiknya.
Ibu kulihat kerap kali melamun, terutama saat pagi hari. Matanya menerawang memandang langit yang tampak dari pintu rumah. Ia sedih, merasa sendiri, tidak ada lagi suami yang bisa diajak berbagi banyak hal. Dunia terasa hampa baginya.
Begitu “derita” istri setelah suami berpulang. Hal itu pula yang saya dapati dari mengamati media sosial para ibu yang mana suaminya telah meninggal. Meskipun anak-anak mereka sukses, telah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu, tetap saja terasa kurang ketika ayah bagi anak dan kakek bagi cucu-cucunya tidak ada.
Saat suami meninggal, biasanya istri akan tetap hidup sendiri, mengisi hidup dengan tidak lagi menikah dengan laki-laki selain suami mereka. Menyandang status “janda” hingga akhir hayat. Status yang kadang berat sebelah, tidak adil.
Ini tentu berbeda dengan laki-laki. Saat misalnya sang istri berpulang lebih dulu, suami dengan mudahnya membuka hati pada perempuan “baru”, menikahinya, dengan cepat melupakan kenangan akan perempuan yang pernah menjadi istrinya yang dengan setia menemaninya dalam waktu lama; menjadi ibu bagi anak-anaknya, teman diskusi dan “curhat” kala suami menemui kebuntuan baik itu soal pekerjaan, uang, maupun hubungan personal dengan saudara atau keluarga besar.
Perempuan dengan sangat baik menyimpan kenangan tentang laki-laki dalam ingatannya. Tengoklah dalam kehidupan sehari-hari: yang paling ingat tanggal pernikahan atau ulang tahun suami dan anak-anak (juga cucu-cucu) adalah perempuan.
Piranti pernikahan, misalnya cincin kawin, juga dengan bangga dikenakan istri, sebagai simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saat misalnya kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perempuanlah yang menangis diam-diam ketika misalnya cincin kawin mesti digadai atau dijual, sebagai jalan terakhir untuk bertahan hidup yang semakin hari terasa semakin keras.
Para ibu yang suaminya meninggal juga lebih banyak menghabiskan masa-masa hidupnya untuk dekat dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Memasak, membuat kue, atau menulis bagi perempuan penulis adalah contoh aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.
Ada juga yang rutin bepergian ke luar kota atau ke luar pulau untuk sejenak berkumpul kepada keluarga asal, melepas kerinduan terutama bagi yang telah lama “keluar rumah” untuk menikah, mengabdi pada suami dan keluarganya, dalam sistem perkawinan patriarki yang banyak dianut dalam kelompok masyarakat di Indonesia.
Suami yang berpulang menyisakan bahagia dan bisa pula meninggalkan derita, jika istri tidak punya sumber ekonomi karena misalnya semenjak menikah tidak bekerja, menggantungkan penghasilan keluarga pada suaminya. Syukur jika suami meninggal saat anak-anak sudah lulus sekolah atau universitas dan telah mampu bekerja serta hidup mandiri.
Ada kalanya, suami meninggal saat anak-anak masih kecil atau masih sekolah yang membuat perubahan drastis pada keluarga yang ditinggalkan. Sumber ekonomi hilang, istri kemungkinan akan menikah lagi dan tidak jarang dengan tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil; atau juga sebaliknya, membawa anak-anak pada suami “baru”-nya, dengan segala konsekuensi psikologis—punya ayah tiri yang belum tentu hangat dan baik.
Maka itu, patut diperhatikan tentang kemandirian perempuan. Terdapat “tren” kini di Bali, misalnya, tentang keluarga suami yang lebih menghargai istri yang bekerja dibandingkan dengan istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan.
Di satu sisi, perlakuan ini secara permukaan terlihat “tidak adil”, “kejam”, bahkan terkesan “diskriminatif”. Namun jika kita lihat dengan lebih tenang dan jernih, istri yang bekerja di samping membuat perekonomian keluarga lebih stabil, juga menjadi “bekal” jikalau (maaf) suami tidak berumur panjang; entah karena sakit keras, kecelakaan lalu lintas, atau juga oleh sebab lain yang menjadi takdir dan karmanya.
Istri yang bekerja memang membuat waktu kebersamaan dengan anak-anak lebih pendek. Hal ini tentu bisa disiasati jika keluarga besar suami turut dilibatkan dalam pengasuhan anak.
Pada banyak wilayah di Bali dan juga daerah lain di Indonesia, menjadi jamak dan biasa jika anak diasuh oleh kakek dan nenek mereka, juga paman dan bibinya.
Komunalitas menjadi contoh budaya gotong-royong yang sayangnya kini makin hilang; individualisme mengakibatkan anggota keluarga hanya memikirkan diri dan kepentingannya saja: punya rumah sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga besar, ayah dan ibu yang telah renta hidup sendirian---jika tidak dititipkan di panti jompo, seperti kehidupan di negara-negara maju.
Suami yang berpulang menjadi “lapang” jalan pulangnya jika istri melepasnya untuk melanjutkan perjalanan dengan ikhlas. Secara kasat mata, istri yang ditinggalkan suami tidak banyak menemui kesusahan setelah ditinggal mati suami. Tentu kematian menjadi perlu untuk dibicarakan, tidak dianggap tabu dan menakutkan seperti dalam kebiasaan masyarakat sekarang.
Kemungkinan terburuk—dan solusi atas itu, perlu sering didiskusikan, sehingga kematian kemudian tidak menjadi derita terutama bagi istri dan anak-anak, serta juga keluarga besar yang ditinggalkan.
Ini juga berlaku sebaliknya, jika istri yang meninggal lebih dulu dari suami, apa saja yang menjadi pesan istri perlu dijalankan. Termasuk untuk misalnya menikah lagi, perlu persetujuan dari istri. Tidak lantas menjadikan budaya patriarki sebagai pembenaran, jika misalnya istri wanti-wanti agar setelah ia meninggal suami tidak boleh menikah lagi dan dengan baik menjaga anak-anak mereka. Begitu kira-kira.[T]
CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu dipadati penonton. Di tengah suasana he...
Di tengah gempuran media sosial, kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu cukup? Atau ketika semu...
SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari atas panggung. Berpadu dengan suara su...
Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin
Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ke...
ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya tertinggal zaman, dan pe...
GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan nuansa mitologi. Pemimpin di desa a...
BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari pembahasannya, apalagi...
DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka hidup di era yang menuntu...
SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia...