17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
DITINGGAL mati orang terkasih rasanya berat. Itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah “pulang” lebih dulu. Ibu seperti kehilangan “teman hidup” yang pernah menemaninya puluhan tahun lamanya. Ibu tidak ke rumah sakit pada waktu menjelang kematian ayah, saat-saat “sakratul maut”. “Takut,” katanya.
Ibu punya trauma tentang kematian. Beliau hanya berkata-kata kepada ayah melalui telepon genggam, kata-kata terakhir sebelum ayah meninggalkan badan fisiknya.
Ibu kulihat kerap kali melamun, terutama saat pagi hari. Matanya menerawang memandang langit yang tampak dari pintu rumah. Ia sedih, merasa sendiri, tidak ada lagi suami yang bisa diajak berbagi banyak hal. Dunia terasa hampa baginya.
Begitu “derita” istri setelah suami berpulang. Hal itu pula yang saya dapati dari mengamati media sosial para ibu yang mana suaminya telah meninggal. Meskipun anak-anak mereka sukses, telah berkeluarga, punya anak-anak yang lucu, tetap saja terasa kurang ketika ayah bagi anak dan kakek bagi cucu-cucunya tidak ada.
Saat suami meninggal, biasanya istri akan tetap hidup sendiri, mengisi hidup dengan tidak lagi menikah dengan laki-laki selain suami mereka. Menyandang status “janda” hingga akhir hayat. Status yang kadang berat sebelah, tidak adil.
Ini tentu berbeda dengan laki-laki. Saat misalnya sang istri berpulang lebih dulu, suami dengan mudahnya membuka hati pada perempuan “baru”, menikahinya, dengan cepat melupakan kenangan akan perempuan yang pernah menjadi istrinya yang dengan setia menemaninya dalam waktu lama; menjadi ibu bagi anak-anaknya, teman diskusi dan “curhat” kala suami menemui kebuntuan baik itu soal pekerjaan, uang, maupun hubungan personal dengan saudara atau keluarga besar.
Perempuan dengan sangat baik menyimpan kenangan tentang laki-laki dalam ingatannya. Tengoklah dalam kehidupan sehari-hari: yang paling ingat tanggal pernikahan atau ulang tahun suami dan anak-anak (juga cucu-cucu) adalah perempuan.
Piranti pernikahan, misalnya cincin kawin, juga dengan bangga dikenakan istri, sebagai simbol cinta yang tidak lekang oleh waktu. Saat misalnya kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk, perempuanlah yang menangis diam-diam ketika misalnya cincin kawin mesti digadai atau dijual, sebagai jalan terakhir untuk bertahan hidup yang semakin hari terasa semakin keras.
Para ibu yang suaminya meninggal juga lebih banyak menghabiskan masa-masa hidupnya untuk dekat dengan anak-anak, menantu dan cucu-cucu mereka. Memasak, membuat kue, atau menulis bagi perempuan penulis adalah contoh aktivitas sehari-hari yang mereka lakukan.
Ada juga yang rutin bepergian ke luar kota atau ke luar pulau untuk sejenak berkumpul kepada keluarga asal, melepas kerinduan terutama bagi yang telah lama “keluar rumah” untuk menikah, mengabdi pada suami dan keluarganya, dalam sistem perkawinan patriarki yang banyak dianut dalam kelompok masyarakat di Indonesia.
Suami yang berpulang menyisakan bahagia dan bisa pula meninggalkan derita, jika istri tidak punya sumber ekonomi karena misalnya semenjak menikah tidak bekerja, menggantungkan penghasilan keluarga pada suaminya. Syukur jika suami meninggal saat anak-anak sudah lulus sekolah atau universitas dan telah mampu bekerja serta hidup mandiri.
Ada kalanya, suami meninggal saat anak-anak masih kecil atau masih sekolah yang membuat perubahan drastis pada keluarga yang ditinggalkan. Sumber ekonomi hilang, istri kemungkinan akan menikah lagi dan tidak jarang dengan tega meninggalkan anak-anak yang masih kecil; atau juga sebaliknya, membawa anak-anak pada suami “baru”-nya, dengan segala konsekuensi psikologis—punya ayah tiri yang belum tentu hangat dan baik.
Maka itu, patut diperhatikan tentang kemandirian perempuan. Terdapat “tren” kini di Bali, misalnya, tentang keluarga suami yang lebih menghargai istri yang bekerja dibandingkan dengan istri yang hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak punya penghasilan.
Di satu sisi, perlakuan ini secara permukaan terlihat “tidak adil”, “kejam”, bahkan terkesan “diskriminatif”. Namun jika kita lihat dengan lebih tenang dan jernih, istri yang bekerja di samping membuat perekonomian keluarga lebih stabil, juga menjadi “bekal” jikalau (maaf) suami tidak berumur panjang; entah karena sakit keras, kecelakaan lalu lintas, atau juga oleh sebab lain yang menjadi takdir dan karmanya.
Istri yang bekerja memang membuat waktu kebersamaan dengan anak-anak lebih pendek. Hal ini tentu bisa disiasati jika keluarga besar suami turut dilibatkan dalam pengasuhan anak.
Pada banyak wilayah di Bali dan juga daerah lain di Indonesia, menjadi jamak dan biasa jika anak diasuh oleh kakek dan nenek mereka, juga paman dan bibinya.
Komunalitas menjadi contoh budaya gotong-royong yang sayangnya kini makin hilang; individualisme mengakibatkan anggota keluarga hanya memikirkan diri dan kepentingannya saja: punya rumah sendiri-sendiri, terpisah dari keluarga besar, ayah dan ibu yang telah renta hidup sendirian---jika tidak dititipkan di panti jompo, seperti kehidupan di negara-negara maju.
Suami yang berpulang menjadi “lapang” jalan pulangnya jika istri melepasnya untuk melanjutkan perjalanan dengan ikhlas. Secara kasat mata, istri yang ditinggalkan suami tidak banyak menemui kesusahan setelah ditinggal mati suami. Tentu kematian menjadi perlu untuk dibicarakan, tidak dianggap tabu dan menakutkan seperti dalam kebiasaan masyarakat sekarang.
Kemungkinan terburuk—dan solusi atas itu, perlu sering didiskusikan, sehingga kematian kemudian tidak menjadi derita terutama bagi istri dan anak-anak, serta juga keluarga besar yang ditinggalkan.
Ini juga berlaku sebaliknya, jika istri yang meninggal lebih dulu dari suami, apa saja yang menjadi pesan istri perlu dijalankan. Termasuk untuk misalnya menikah lagi, perlu persetujuan dari istri. Tidak lantas menjadikan budaya patriarki sebagai pembenaran, jika misalnya istri wanti-wanti agar setelah ia meninggal suami tidak boleh menikah lagi dan dengan baik menjaga anak-anak mereka. Begitu kira-kira.[T]
BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...