‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
KITA semua berdoa, semoga cita-cita kita bersama pemerintah untuk Indonesia Emas 2045 kelak nyata dapat terwujud. Jika emas adalah logam mulia idaman setiap orang yang harganya terus naik, maka Indonesia Emas adalah situasi dan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara idaman seluruh rakyat di tanah air.
Untuk lebih mudah memahami soal idaman ini, bolehlah dijadikan contoh kehidupan warga negara maju seperti di Eropa Barat, negara-negara Skandinavia atau Singapura, misalnya.
Kita memiliki harapan dan semangat yang sangat besar untuk sampai ke sana. Namun apakah kita sudah punya mental yang kuat untuk mewujudkannya? Siapakah yang akan mewujudkan Indonesia Emas itu, pemerintah, Tuhan atau alam? Betulkah akan terwujud dengan sendirinya di tahun 2045 jika hari ini masih terjadi hal-hal ini.
Masyarakat kecil masih biasa menerobos lampu merah, buang sampah seenaknya di sepanjang got bahkan di pinggir jalan, merokok di kawasan bebas rokok seperti di area RS dan sulit diingatkan, di sana sini anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor begitu bebas, dan seterus dan seterusnya. Atau para pemimpin merasa punya hak mengubah-ubah aturan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, korupsi yang kian menjadi-jadi, bisnis narkoba seakan urusan pisang goreng saja, bahkan di penjara.
Percayalah, tak ada kejayaan yang bisa diraih dengan instan. Kurun waktu 21 tahun bukanlah waktu yang sangat panjang untuk penciptaan emas. Namun bukan juga waktu yang lalu cuma kita sia-siakan sekadar untuk berkhayal.
Fakta paling mencemaskan saat ini contohnya keinginan cepat menjadikan tim sepak bola nasional mencapai jajaran elit sepak bola dunia. Caranya dengan naturalisasai yang tak tanggung-tanggung dan nyaris seluruh suporter bola tanah air tetap merasa bangga dengan situasi ini.
Artinya, bukan hanya pemerintah yang doyan casing mentereng, rakyat pun demikian. Mohon maaf, bukankah ini bak seorang perempaun yang tampil eksklusif tubuhnya bergelimang intan berlian dengan make up wajah sempurna namun semua barang pinjaman atau bahkan cicilan?
Rasanya masih jauh lebih membanggakan prestasi tim sepak bola nasional era 80-an ketika skuad tim adalah bumi putera seperti penyerang Bambang Nurdiyansah, Ribut Waidi, atau kiper hebat Hermansyah yang sudah mampu bersaing di level Asia.
Pola yang diterapkan untuk membangun tim sepak bola nasional saat ini takkan mampu membentuk pondasi yang kuat untuk sebuah tim yang membutuhkan sebuah ideologi dan karakter yang kuat. Bonus demografi jumlah penduduk produktif yang sedemikian besar belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Contoh fakta lain yang begitu merisaukan adalah tingginya kasus TBC paru di negeri ini. Saat ini, Indonesia berada di nomor 2 terbanyak di dunia. Dan, walaupun belum ada data riset analitik hubungan sebab akibat, berani dikaitkan bahwa kecil sekali kemungkinan tim sepak bola nasional sebuah negara bisa berjaya jika kasus TBC paru negerinya adalah yang teratas di dunia.
Tingginya kasus TBC paru di sebuah negara, jangan dikira cuma masalah kesehatan semata. Ini secara mendasar juga dapat dikaitkan dengan mental sebuah bangsa yang kurang bertanggung jawab dalam segala hal. Mental yang abai, oportunistik, tak pedulian, hipokrit, bahkan penuh kebencian dan stigma. Sebuah kultur yang membuat masyarakatnya sulit bertumbuh menjadi emas.
Artinya kemudian, segala aspek kehidupan, bahkan yang tampaknya kecil-kecil dan remeh, akan saling berkaitan jika dihubungkan dengan proses pembangunan bangsa maju dan modern. Misalnya, RS akan selalu penuh dengan orang-orang sakit jika untuk buang sapah saja masyarakat masih sembarangan.
Memangnya pemerintah sudah punya tata kelola sampah yang canggih dan efektif seperti di Swedia, misalnya? Sampai-sampai negera itu saat ini krisis kekurangan suplai sampah karena saking efektifnya pengelolaan sampah di sana. Atau omong kosong saja korupsi di tanah air bisa dikikis jika masyarakat masih saja dengan cuek menerobos lampu merah di perempatan yang ramai atau sebaliknya.
Ada kaitan yang sudah pasti antara keburukan-keburukan kecil dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dengan masalah-masalah besar yang diderita negara. Ada hubungan yang erat antara perilaku pemimpin dengan rakyat yang sepakat, meski tak disadari, membawa bangsa ini ke puncak emas atau ke jurang kemiskinan.
Sisa waktu 21 tahun, masih memberi kesempatan sebuah bangsa untuk menggaungkan sebuah revolusi. Sebuah upaya paling mendasar untuk membangun kebaikan dengan pondasi paling kuat. Seuntai garis generasi baru harus diciptakan. Bangsa Jepang dapat dijadikan contoh untuk ditiru. Semua dimulai dari pendidikan dasar.
Pendidikan dasar tidaklah perlu buru-buru untuk menciptakan anak-anak jago matematika, kuat menghafal dan lain-lain. Pendidikan dasar seharusnya untuk mencetak karakter yang militan etik dan penuh tanggung jawab. Juga rasa hormat dan empati yang kuat. Dalam 21 tahun akan lahir manusia Indonesia baru yang sehat, cerdas dan berkarakter, dan membawa Indonesia ke puncak emas di tahun 2045![T]
Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...