ORANG itu jadi viral. Seluruh media sosial membahas dia. Bahkan, ia menjadi trending topik yang panas. Kesalahan dia—yang menyebabkan viral—itu adalah karena ia mengucapkan sepatah kata yang dianggap mengghina, yang menyebabkan ia mendapatkan kecaman dari hampir seluruh rakyat pengguna medsos di Indonesia.
Ya, dia. Anda tahu bukan?
Seminggu lalu, saya membaca adigium pada pintu masuk IGD RS Mangusada Kapal di Kabupaten Badung, yang berbunyi “melayani dengan hati, tidak sesuka hati, dengan hati-hati”.
Kali ini saya mencoba mengadopsi kalimat tersebut menjadi “berbicara dengan hati, tidak sesuka hati, dan dengan hati-hati”. Kalimat indah tersebut sesuai sebagai pesan situasi saat ini.
Sebab tidak saja Hyang Suratma yang akan mencatat perilaku baik buruk kita, namun mata kamera yang entah datang dari mana senantiasa siap melahap momen yang berlangsung. Seolah sudah menjadi takdir, kali ini ia viral bukan karena keluhurannya, namun disebabkan oleh ulah tak berbudi.
Setiap kata-kata yang kita ucapkan tak lain bagaikan anak panah. Setelah lepas dari induk panahnya ia takkan dapat kembali. Serta melaju dengan cepat menusuk hati bila tajam, dan menyejukkan bila terpuji.
Perkataan terlahir dari pikiran. Pikiran adalah pengendali yang sesungguhnya. Dalam Hindu kita mewarisi, Tri Kaya Parisuddha yang terdiri dari, Manacika, Wacika, dan Kayika.
Manacika menuntut umat Hindu agar senantiasa berpikir yang baik, begitu pula Wacika, merupakan hilirisasi dari pikiran yang baik. Pikiran yang baik tentu akan menghasilkan tutur kata yang luhur. Dari tutur kata yang luhur maka akan terlahir perilaku atau kayika yang baik sebagai cerminan pribadi kita.
Dari kesalahan berbicara yang tengah viral saat ini, hendaknya kita mengingat beberapa kisah. Dalam kisah tersebut si tokoh hancur binasa karena ulahnya sendiri. Serta, apa penyebab kehancurnnya? Tiada lain karena ucapan melalui sapa atau kutukan.
Satu di antaranya adalah Maharaja Parikesit. Cerita ini termuat dalam Adi Parwa, karya sastra Jawa Kuno. Dalam segmen tersebut, ia tengah melakukan perburuan di hutan Hastina. Tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang rsi yang sedang bertapa. Karena geram beberapa kali pertanyaannya tidak dijawab ia mengalungkan bangkai ular di leher sang Bhagawan Srnggi.
Kemarahan sang bhagawan tidak dapat dibendung. Karena ia diganggu sewaktu menjalankan tapa. Kutukan terucap bahwa Parikesit akan meninggal dipatuk ular Taksaka. Selang beberapa tahun, hal tersebut benar terjadi, Parikesit wafat setelah dipatuk oleh Taksaka.
Kisah berikutnya adalah ketika Ken Arok, seorang rakyat biasa yang ingin menjadi raja di Tumapel. Untuk melancarkan siasatnya ia memesan keris kepada seorang mpu pande besi bernama Mpu Gandring. Mpu Gandring menyepakati pesanannya, namun dengan syarat setelah setahun keris itu baru akan rampung. Sebelumnya Ken Arok pergi dengan menyetujui perjanjian itu.
Namun, karena ambisi yang mencuat membuatnya ingkar pada janji tersebut. Geram karena kerisnya belum rampung, Ken Arok kemudian menguji kesaktian kerisnya pada Mpu Gandring. Sebelum meninggal Mpu Gandring mengutuk keris tersebut. Bahwasannya ia akan memakan tujuh korban sebagai caru dari keris itu sendiri.
Kedua kisah tersebut sekiranya cukup sebagai contoh. Bagaimana kata-kata sangat berbahaya. Bahkan ia lebih berbahaya dari senjata itu sendiri. Paling parah senjata akan membuat luka dan meninggal seketika. Namun, jika kata-kata yang buruk? Atau bahkan kutukan? Ia akan terus membayangi kehidupan. Bahkan jika ucapan itu adalah sebuah kutukan ia akan terus memakan seiring dengan waktu.
Keris Mpu Gandring memakan korban karena kutukan itu, bukan karena kesaktiannya. Jika andai kata Mpu Gandring mengucapkan “yang memiliki keris akan berbahagia”, pasti yang membawanya akan senantiasa dipayungi oleh kehidupan yang berbahagia.
Satu kisah yang terjadi pada saat ini, dan dua kisah yang terjadi pada jaman Jawa Kuno, agaknya memerlukan sebuah cerminan. Karya sastra Nusantara yang dituliskan oleh pujangga hebat, telah menitipkan pesan yang begitu penting bagi kita. Melalui sajak pola metris yang konon digubah oleh Mpu Dwijendra menjelaskan ajaran penting sebagai berikut:
Oleh karena perkataan engkau, akan mendapat kebahagiaan. Oleh karena perkataan, engkau akan menemukan ajal. Oleh karena perkataan, engkau akan mendapat kesusahan. Oleh karena perkataan, engkau akan mendapat sahabat
Melalui kutipan tersebut kita mendapatkan pesan bahwasannya perkataan tersebut dapat mendatangkan sahabat, apabila kualitas perkataan yang kita ucapkan terpuji. Namun, apabila perkataan tersebut buruk bahkan menyakti seseorang tentu kesengsaraan hingga ajal yang akan kita temui.
Selain Nitisastra Kitab Sang Hyang Kamahayanikan juga meyerukan ajaran mengenai pola tingkah laku yang baik. Dalam segmen Sad Paramita bagian Sila Paramita dijelaskan secara jelas perilaku mulut yang harus dijaga.
Beberapa di antaranya adalah haywa mrsawada, (jangan suka membohong), tan pasunya (tidak memfitnah), tan parusya (tidak berkata keras, atau mencela). Larangan-larangan tersebut merupakan paksaan positif yang harus kita lakukan di era kali ini. Tentu susah, sering kali kita diluar kendali ketika sudah bersosialisasi. Sedikit saja aja percikan gibah kita sangat bersemangat untuk menyambungnya.
Semoga kejadian serupa mulai berkurang di kehidupan kita. Ini dapat diawali dari kita sendiri, karena untuk menjadi manusia yang utama hendaknya memiliki batin yang tenang dan bening, seperti air di dalam tempayan. Karena hanya karena demikian bayangan bulan dapat tercermin dengan sempurna di dalamnya. [T]
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara membutuh...
SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...
Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu panggung, keindahan kimono...
KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Geta...
SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Pro...
KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan telinga seakan terpikat oleh keselarasan ekspresi (...
Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan k...
LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan l...
Pelancong Gersang
Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah.
Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,mema...
"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat m...