Puisi-puisi M. Allan Hanafi | Kucing, Dendam, Ibu

M. Allan Hanafi
by M. Allan Hanafi — Desember 07, 2024 in Puisi

Tatkala.co

KUCING


untuk Hakaik

sampai di teras rumah
setelah meloncati pagar
larut malam
aku pulang

aku duduk di meja
memperhatikan cakar-cakarku
bau tikus keluar dari sana
menyumpal hidungku
dan ada bekas hantaman
di pelipisku

aku mengantuk
di dalam rumah kulihat
seorang kehancuran terbaring
sedang mendengkur

tiba di loteng
tempat kelahiranku disembunyikan
aku mengeong

kubiarkan bulu-buluku rontok
dan melayang
menyentuh jendela kecil
yang tak pernah terbuka

(16-24)
 

DENDAM

kau bopong waktu
ke suatu tempat
di mana senapan angin
sudah biru menunggu

(17-24)
 

IBU


untuk Alsa

gerimis seperti desing
yang mengantarkan ayah
seorang gadis
kepada tombak api

tombak api sejenis penghapus
pada selembar kertas
yang telah digambar gadis
yakni mata menangis
milik ibunya

(17-24)
 

SEBUAH KATA


B.Y.A.S

maka sebuah kata melarut
di dalam kopiku
tak habis kuteguk

sebuah kata yang kukenal
sebagai badai abadi
di ujung lidahmu

(16-24)
 

PASTI ADA API DI SANA

pasti ada api di sana
kau tiup sekuat raga
bukan agar ia padam
melainkan menyala
sebagai dendam
membara

pada lilin-lilin berwarna
anak-anak kita
di hari ulang tahunnya
yang entah keberapa

(17-24)
 

TAMAN HITAM

orang yang ingin jadi bintang
berkelip
menunggu hujan
memberinya jubah menyala

ranting-ranting kering
menyembunyikan burung
dengan ekor berpijar
di belakang kepalanya

yang akan mematuk mata
hatinya
seperti biji kehidupan
yang dicampakkan
di tengah-tengah
taman hitam

(15-24)
 

BELANTARA SUNYI

magrib di pengujung waktu
disembunyikan batang-batang kayu

timbul-menimbul suara misteri
di tengah belantara sunyi
menengok ke seluruh sisi, sepi

belantara sunyi,
membuat sekencang-kencangnya kaki
berlari menjauhi—bayangan sendiri

15/07/15
 

PINTU

niat untuk mengetuk pintu
aku urungkan
aku bersandar pada pintu
lalu merebahkan tubuhku
hingga aku tak sadar

dari sisi dalam pintu
ternyata kau lebih dulu tertidur
di lantai menantiku

pintu hanya mampu berdiam
sebab tak kuasa
sekadar membuka
atau menutup
dirinya sendiri

(16-24)
 

PERADABAN SUNYI

lampu-lampu taman
menerangi zaman

terasa denyut nadi
detakan jantung
hangat napas

kehidupan yang mati
hidup dalam kematian

muskil

(15-24)

https://tatkala.co/2024/11/24/puisi-puisi-sonhaji-abdullah-di-depanmu-cermin/
https://tatkala.co/2024/11/09/puisi-puisi-ahmad-muzanni-suasana-langit-malammu/
https://tatkala.co/2024/11/03/puisi-puisi-gimien-artekjursi-kupu-kupu-hari-hari-akhir-seorang-lansia/embed/#?secret=FyRtkJ8caZ#?secret=Z5W4VdOPtJ
https://tatkala.co/2024/11/02/sajak-sajak-helmi-y-haska-hilirisasi-zona-keheningan-berlawan/embed/#?secret=pqA5U07QM6#?secret=ax5DnzVrXn
https://tatkala.co/2024/10/19/sajak-sajak-angga-wijaya-meditasi-akhir-tahun/embed/#?secret=Q4sAb1dzlV#?secret=OZLNs6Yw9I
Tag: Puisi
Avatar

M. Allan Hanafi

Related Posts