LELAKI itu berjalan sepanjang 89 kilometer, dari titik batas Kabupaten Jembrana-Buleleng di Desa Sumberklampok, Gerokgak, hingga Kantor DPC PDI Perjuangan di kota Singaraja. Kakinya lecet, sempat merasa ada serangan gaib, tapi ia tetap berjalan.
Lelaki itu bernama Diding Kadir (45), biasa dipanggil Kang Diding. Ia tinggal di Jalan Melati, Kampung Mumbul, Kelurahan Banjar Jawa Singaraja. Pada 30 November 2024, sebelum siang, ia mulai start dari Desa Sumberklampok—desa di ujung barat Buleleng.
Berjalan kaki sepanjang 89 kilometer itu adalah janji dia. Dia berjanji, jika Sutjidra-Supriatna (calon bupati dan wakil bupati Buleleng) dan Koster-Giri (calon gubernur dan wakil gubernur Bali) memang dalam Pilkada, ia janji berjalan kaki, sekuat tenaga, sekuat tekadnya.
Bagi Kang Diding, janji adalah hutang. Maka, ia harus bayar hutang itu. Maka, berjalan kakilah dia.
Ia mulai berjalan jam 10 pagi pada 30 November dan tiba di Singaraja 2 Desember jam 03 pagi. Artinya, lebih dari 40 jam kakinya dilangkahkan, kadang di atas aspal, kadang di atas trotoar, kadang di atas tanah berdebu. .
Diding saat berjalan dari Sumberklampok ke Singaraja | Foto: Dok pribadi
Saat ditemui di Singaraja, Senin, 2 Desember, Diding menunjukkan telapak kakinya yang lecet. Ia menghabiskan dua sendal, dan dalam satu hari—sekitar satu dus aqua ukuran botol tanggung ia teguk satu persatu.
“Saya tak membawa air minum sepanjang jalan. hanya satu botol aqua saja itupun habis. Minum dan makan pemberian dari orang-orang di jalan. Mereka memberi semangat pada saya,” kata Diding.
Aksi berjalan kaki itu ia lakukan sebagai bentuk kegembiraan, dan rasa—dukungan kuatnya bahwa PDI tak bisa ditumbangkan. Tentu, katanya, dengar-dengar PDIP akan ditumbangkan oleh segala macam.cara. Hati Diding marah, sehingga janji itu pun terlontar kemudian,
“Kalau Pak Supit (panggilan Supriatna) menang, saya akan berjalan sejauh itu,” katanya dan ini adalah bentuk dukungannya secara moral yang kuat.
Terlebih, aksinya itu adalah bentuk penguatan pada jagoannya yaitu pasangan Sutjidra- Supriatna yang menang atas Sugawa Korry-Suardana beradasarkan hitung cepat usai pencoblosan 27 Nobemver lalu.
Apa yang membuat Kang Diding berani lecet berjalan kaki? Kenapa gak ngegrab aja biar lebih santai dan tepat waktu?
“Haha..” Ia tertawa. “Gak boleh ngegrab (naik grab), bohong namanya itu. saya tak mau membohongi masyarakat juga dukungan saya—bahwa saya main-main dalam melunasi nazar (hutang janji)saya,” katanya.
Kaki Diding yang lecet usai berjalan sepalama sekitar 40 jam | Foto: tatkala.co/Son
Awalnya, ia memperkirakan akan sampai dalam satu hari, tepatnya di jam 00.00 atau tengah malam pada 30 November. Ternyata waktu meluber dan ia harus lebih lama di jalan.
Meski lebih lama dari perkiraan, ia tetap gembira. Rasa solidaritasnya pada PDIP dan kepada orang yang ia harapkan sebagai pemimpin, sudah terbuktikan dengan rasa puas.
Di jalan ia merasakan panas menyenyat, juga hujan serta angin kencang. Musim memang tak bisa ditebak. Kakinya lecet—kembung berair. Sendal habis dua. Dehidrasi, di suatu jalan—gelap, ia nyaris tumbang.
“Ada serangan gaib!” katanya mengira-ngira. Itu karena ia merasa tubuhnya tiba-tiba dingin.
“Di Seririt saya pergi ke orang pintar. Diberi air doa. Alhamdulillah, sembuh. Saya lanjut lagi berjalan. Sampai kantor DPC PDI pagi buta,” ujarnya.
Diding Kadir, kelahiran Kuningan 30 November 1979 itu—sepanjang jalan menggunakan warna baju merah. Menyala. Dengan bendera di tangan kanannya, berkibar menemani ia berjalan. Terkadang layu. Ia berteduh. Seseorang memberinya air minum.
“Kalau tidur atau istirahat itu dan kadang juga makan, saya mampir di kantor ranting PDI. Di sana ada yang menyambut, dan menjamu.”
Jalan Kaki dari Dencarik
Selain Kang Diding, 30 November itu ada juga simpatisan PDIP yang menunaikan nazar yang serupa. Ia adalah Putu Artawan.
Matahari siang juga memanggang tubuh Putu Artawan (54) ketika ia melunasi janjinya untuk berjalan kaki dari tempat tinggalnya di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar, Buleleng. Sama seperti Diding, ia juga berjanji untuk kemenangan Sutjidra-Supriatna.
Artawan berjalan dari Desa Dencarik dan finish di kediaman Supriatna di Kelurahan Banyuasi, Singaraja. Jarak yang ditempuh Artawan tentu saja lebih pendek dari Diding. Artawan melewati beberapa desa seperti Kaliasem, Kalibukbuk, hingga Dusun Celukbuluh dan Desa Anturan, Tukadmungga, Pemaron, hingga tiba di Singaraja.
Putu Artawan berjalan kaki dari Dencarik ke Singaraja | Foto: Dok. pribadi
Modalnya hanya air minum di jalan, dan doa untuk sampai tuntas. Tekad. Ya, tentu, demi si jagoan. Adalah bentuk dirinya sebagai pendukung, selain setia, juga penuh yakin—Buleleng akan maju dipimpin sang jagoan. Keyakinan adalah bentuk lain dari kemungkinan. Semoga baik. Semoga.
“Yang namanya janji harus dibayar. Bagaimanapun caranya,” kata Artawan tegas.
Pukul 07.00 WITA, Putu Artawan memulai langkah pertamanya. Tidak ada persiapan khusus, katanya. hanya doa, katanya, dan bumbu tekad kuat. Di sepanjang jalur Pantura Buleleng, dengan mengenakan udeng putih, baju kaos putih serta kamen putih, ia menyusuri jalan utama, melewati desa demi desa.
Dari Desa Temukus, Kaliasem, Kalibukbuk, hingga Dusun Celukbuluh, langkahnya tak pernah surut. Langkah dilanjutkan ke Desa Anturan, Pemaron, Tukadmungga, hingga akhirnya tiba di Banyuasri, Singaraja.
“Saya tidak pernah olahraga, terakhir lari saja mungkin dua tahun lalu,” ujar Artawan sambil tertawa kecil.
Meski begitu, rasa lelah tak menghentikannya. Bahkan saat telapak kakinya mulai terasa lecet, ia tetap melangkah.
“Ini semua karena dukungan Tuhan. Kalau bukan karena-Nya, mungkin saya tidak sampai di sini,” ujarnya dengan nada penuh syukur.
Sepanjang perjalanan, Artawan ditemani anaknya, Arya Prananda. Arya terus mendampingi ayahnya, memastikan sang ayah tak memaksakan diri.
“Saya bilang ke Bapak, pelan-pelan saja. Kalau sampai malam juga tidak apa-apa, yang penting selamat,” katanya.
Namun Artawan tetap pada pendiriannya. Tanpa istirahat, ia terus melangkah. Tidak ada makan besar, hanya minum air untuk menjaga stamina. Setiap langkah adalah bukti dari tekadnya untuk memenuhi janji yang diucapkan sebelum Pilkada.
Putu Artawan (kanan) dan anaknya | Foto: Dian
Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir 3,5 jam, Artawan akhirnya tiba di rumah Gede Supriatna. Rasa lelah seketika tergantikan dengan rasa lega dan bahagia.
“Saya dari awal yakin Pak Supriatna akan menang. Beliau dekat dengan masyarakat, jadi saya tidak ragu waktu bikin kaul ini,” ungkapnya.
Dengan telapak kaki yang sedikit lecet, senyum tergurat di wajah Putu. “Rasa bahagia ini mengalahkan segalanya. Semua sudah tuntas,” tambahnya.
Bagi Putu Artawan, perjalanannya bukan sekedar sebagai omong kosong, tetapi juga bukti dari ketulusan hati. Ini namanya nyali. “Yang namanya sesangi (kaul), harus dibayar. Itu prinsip saya,” tutupnya dengan mata berbinar.
Tabuhan Tuak
Di hari yang sama dengan Pak Putu, Made Suyasa dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng juga memenuhi janjinya sama. Usai melakukan persembahyangan di Pura Giri Emas, ia lantas melanjutkan perjalanan menuju Kota Singaraja. Bedanya, Made Suyasa tidak berjalan kaki.
Ketika tiba di pusat kota, Suyasa turun dari kendaraan menuju Tugu Singa Ambara Raja, titik nol Kota Singaraja. Di tangannya tertenteng sebuah jerigen ukuran tanggung lengkap dengan foto pasangan Sutjidra-Supriatna.
Dalam jerigen itu penuh berisi tuak asli Desa Tajun sebanyak 5 liter. Sekedar informasi, tuak dari Desa Tajun terkenal lezat dan manis.
Tuak yang dibawa Suyasa itu kemudian dipersembahkan terlebih dahulu di Tugu Singa Ambara Raja. Setelah melakukan beberapa ritual, tuak itu lalu ditabuh atau dituangkan di sekitar tugu. Usai ditabuh, tuak itu diminum dengan cara diceret sebanyak tiga kali.
Suyasa (kiri) | Foto: Ist
“Saya menabuh (menuangkan) tuak itu berharap dapat meneduhkan ketegangan-ketegangan dalam pilkada. Tuak itu bisa memabukkan tapi juga bisa digunakan dalam ritual. Filosofinya, jadi pemimpin jangan sampai mabuk kekuasaan. Sebisa mungkin meneduhkan bagi masyarakat,” kata dia.
Bagi seorang pedukung, kemenangan atas jagoan, tak bisa dibantahkan, merupakan kemenangannya juga. Sementara berani bersumpah setelah kemenangan itu, adalah bentuk loyalitas paling besar.
Tetapi, bagaimana dengan sang jagoan yang didukung? Apakah loyal juga kepada para pendukungnya? Semoga. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah Editor: Adnyana Ole
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...