Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life
Di Bali, seorang anak yang lahir tidak dilihat sebagai makhluk baru tanpa masa lalu. Ia adalah atma—jiwa abadi yang memasuki tubuh untuk kembali belajar dan menyempurnakan diri me...
TIDAK semua benar-benar seperti payuk maan tutup atau slepa maan tekep ketika kosakata bahasa Indonesia dialihbahasakan ke bahasa Bali. Sebaliknya pun demikian. Gabungan kata jenis kelamin, misalnya. Ketika seorang ibu baru saja melahirkan, kerabat yang turut bersuka cita, akan tetapi belum sempat berkunjung, tidak sedikit yang menanyakan, “Akuda baat anake cenik? Akuda lantang ukudan anake cenik? Sesar apa normal lekadne? Apaan (jani) anake cenik?”
Pertanyaan apaan anake cenik, napian anake cenik, napian anake alit, napian okane sebagai pengganti pertanyaan apa jenis kelamin anak kalian. Jika kemudian untuk keperluan administrasi diri, ada blanko isian tercantum jenis kelamin, rumit juga membahasabalikannya. Membahasabalikan jenis kelamin itu soroh prana, terasa senglad (baca: sènglad). Jika pada blanko isian dicantumkan luh muani atau lanang istri, belum lazim dilakukan.
Blanko isian yang mencantumkan anak ke (berapa) juga serupa dengan jenis kelamin. “Pinih nyen cai? Pinih sira ragane?” adalah pertanyaan untuk mengetahui seseorang itu anak pertama, anak kedua, anak ketiga, dan seterusnya. Jawaban yang diberikan itu “tyang pinih Wayan” dan seterusnya sudah menunjukkan “saya anak pertama (tyang pinih Wayan), saya anak kedua (tyang pinih Made), saya anak ketiga (tyang pinih Komang), atau saya anak keempat (tyang pinih Ketut)”.
Untuk anak kelima dan seterusnya, jawaban yang diberikan itu “saya anak kelima (tyang Wayan balik atau Wayan panagel), saya anak keenam (tyang Made balik atau Made panagel), anak ketujuh (tyang Komang balik atau Komang panagel), atau saya anak kedelapan (tyang Ketut balik atau Ketut panagel). Untuk anak kesembilan dan seterusnya, Wayan dan seterusnya itu mendapatkan tambahan balik pindoan atau panagel pindoan, balik pingteluan atau panagel pingteluan, dan seterusnya.
Jika kemudian seorang ibu yang baru melahirkan ditanya, “Pinih nyen makaukin anake cenik?”, penanya tidak membutuhkan jawaban anak ke berapa itu. Ini lebih kepada pilihan nama yang tersedia. Anak pertama, kelima, kesembilan, dan seterusnya kelipatan empat plus satu tersedia pilihan nama Wayan, Gede, Luh, dan Putu. Anak kedua, keenam, kesepuluh, dan seterusnya kelipatan empat plus dua tersedia pilihan nama Made, Nengah, dan Kadek.
Anak ketiga, ketujuh, kesebelas, dan seterusnya kelipatan empat plus tiga tersedia pilihan nama Komang, Nyoman, dan Cenik. Anak keempat, kedelapan, keduabelas, dan seterusnya kelipatan empat tersedia pilihan nama hanya Ketut. Di beberapa tempat anak pertama itu Eka, anak kedua Rai atau Ari, dan anak ketiga Alit, tanpa mencantumkan Wayan, Made, Nyoman, dan seterusnya.
Pada kalangan tertentu nama Wayan dan seterusnya itu tidak sepenuhanya digunakan. Ada yang sama sekali tidak menggunakannya, ada yang menggunakannya sebagian.Pada kalangan tertentu ini, anak pertama dan kelipatan empat berikutnya digunakan Agung, Anak kedua dan kelipatan empat berikutnya digunakan Ngurah, Anak ketiga dan kelipatan empat berikutnya digunakan Alit atau Anom.
Dengan alasan tertentu, nama urut kelahiran anak tidak sepenuhnya digunakan. Di Batannyuh Kelod, Karangasem ada yang menggunakan Gede (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), dan Gede (laki-laki, anak ketiga). Ada juga yang menggunakan Wayan (perempuan, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Gede (laki-laki, anak ketiga), dan Gede (laki-laki, anak keempat).
Beberapa keluarga di Basangalas, Abang, Karangasem, tidak menyematkan Komang atau Nyoman untuk anak ketiganya. Sebagai penggantinya adalah Cenik. Dua pemilik nama yang saya kenal adalah Meme Cenik Kutung dan Meme Cenik Nori. Mereka anak ketiga. Kini Cenik itu tidak masih digunakan untuk pengganti Komang atau Nyoman. Kecenderungannya dilewatkan begitu saja atau tidak dilewatkan akan tetapi tidak digunakan. Seperti anak-anak pasangan Bapa Gede Widia dan Meme Made Wati, anak pertama Wayan, anak kedua Made, dan anak ketiga Ketut. Pasangan Bapa Wayan Maris dan Meme Nengah Landep, nama anak pertama tidak saya kenal (karena sudah meninggal dunia), anak kedua Made, anak ketiga Made, dan anak keempat Ketut.
Sementara di Sekargunung Kaler, Bukit, Karangasem ada dua keluarga yang tidak menggunakan Komang untuk anak ketiganya. Anak-anak pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Made (laki-laki, anak kedua), Ketut (laki-laki, anak ketiga), Ketut (laki-laki, anak keempat), dan Gede (laki-laki, anak kelima). Pada mulanya Ketut anak ketiga dinamai Komang. Sakit yang berkepanjangan pada anak itu menginspirasi kedua orang tuanya menamai Ketut. Anak kedua dari pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka itu, Made Putra, mempunyai tiga anak. Nama yang diberikan untuk ketiga anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Kadek (perempuan, anak kedua), dan Ketut (laki-laki, anak ketiga).
Di Geria Kauh, Duda Utara, Selat, Karangasem ada keluarga yang memberikan nama anak-anaknya itu Wayan (laki-laki, anak pertama), Nyoman (perempuan, anak kedua), dan Nyoman (perempuan, anak ketiga). Sama alasan yang disampaikan oleh pasangan Bapa Ledet dan Meme Ledet seperti pasangan I Gede Oka dan Ni Luh Oka ini, Nyoman anak kedua tidak dinamai Made, Nengah, atau Kadek.
Sangat kebetulan nama urut anak dengan kasus tertentu seperti di Batannyuh Kaler, Basangalas, dan Geriana Kauh itu tidak ada nama balik atau panagel. Sangat kebetulan juga nama urut anak dengan kasus tertentu yang di Sekargunung Kaler itu nama balik atau panagel ada pada Gede yang memang pas untuk itu. Justru nama urut anak yang bukan balik atau panagel yang perlu penjelasan lebih ketika ada yang menanyakan. “Tyang kaukina Gede, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Batannyuh Kaler. “Tyang kaukina Ketut, nanging tyang pinih Nyoman” untuk yang di Sekargunung Kaler dan Basangalas. “Tyang kaukina Nyoman, nanging tyang pinih Made” untuk yang di Geriana Kauh. “Tyang kaukina Made, nanging pinih Nyoman” untuk yang di Basangalas.
Selain nama urut, di Geriana Kauh itu saya mendapati nama pasangan suami istri itu sama. Tahun 1980-an sama mulai berinteraksi ke Geriana Kauh, saya mendapati masih ada nama pasangan suami istri itu seperti Kaki dan Dadong Rauh, Kaki dan Dadong Rame, Kaki dan Dadong Ngantia, juga Bapa dan Meme Ledet. Menurut mereka, itu adalah nama hadiah perkawinan. Setiap pasangan suami istri yang baru melangsungkan perkawinan, tetua desa memberikan hadiah berupa nama perkawinan (adan/pungkusan nganten). Entah dengan pertimbangan apa, adan/pungkusan nganten tidak lagi saya dengar keberadaannya. Dua anak laki-laki Kaki dan Dadong Rauh, tetap menggunakan nama mereka masing-masing setelah melangsungkan perkawinan. Bapa Komang Turun tetap Bapa Komang Turun dan Bapa Nengah Merta tetap Bapa Nengah Merta. [T]
Di Bali, seorang anak yang lahir tidak dilihat sebagai makhluk baru tanpa masa lalu. Ia adalah atma—jiwa abadi yang memasuki tubuh untuk kembali belajar dan menyempurnakan diri me...
PEMBANGUNAN Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi proyek strategis nasional yang tidak hanya mengubah orientasi pemerintahan, tetapi juga menata ulang hubungan antara negara, investor,...
Anonimitas Di layar media,kata menjelma senjata,menyelinap di sela waktu,ribuan jiwa tersentuh,berisik yang tampak benar,seringkali menyesatkan, tanpa sadar. Akses luas baga...
Batbayar tahu betul bahwa kesepian adalah penyakit menular seksual, meskipun ia sudah pensiun dari urusan ranjang sejak sepuluh tahun lalu. Di Sanur yang panas, ia hanya ditemani...
DI banyak tempat, demokrasi tumbuh dan berkembang melalui percakapan—bukan dari panggung, bukan juga dari seremoni yang menebar janji-janji populis satu arah. Demokrasi yang sehat...
BALI kembali diguyur hujan dalam beberapa hari terakhir. Dalam hitungan jam, air meluap di mana-mana. Jalan tergenang, pohon tumbang, dan di media sosial bertebaran video banjir s...
TERIAKAN lantang dan pukulan ke kepala seakan mewarnai setiap menit dalam pendampingan Gangga dengan ASD-nya. Tidak peduli kapan, di mana, dan sedang apa—selalu Gangga seperti itu...
KALI ini aku nekat jalan-jalan sekaligus menemani Ibu bersama rombongan para pedagang pasar. Perjalananku kali ini bisa dibilang cukup jauh, tepatnya menuju Kota Malang. Ada...
RICHARD P. Feynman dikenal sebagai salah satu fisikawan paling kreatif dalam sejarah manusia. Akan tetapi, di balik formula-formula kuantum yang membawanya meraih Nobel, terdapat...
SAAT masih kuliah dulu saya masih ingat , yang disebut jurnalisme kuning alias yellow journalism adalah koran berisi berita skandal, drama, dan gosip yang membakar emosi. Is...