“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
DEWASA ini jagat jembar kita makin berwarna, dunia digital yang penuh hiruk-pikuk, fenomena Autonomous Sensory Meridian Response (ASMR) telah menjadi salah satu bentuk hiburan yang cukup populer di media sosial. Kita banyak disuguhi dengan konten video yang berisi suara-suara unik seperti bisikan, gesekan benda, atau ketukan ringan, itulah yang disebut ASMR.
Konten jenis ini menawarkan pengalaman sensorik yang memikat jutaan orang di seluruh dunia. Platform seperti YouTube dan TikTok telah menjadi wadah bagi banyak kreator ASMR yang menciptakan konten-konten yang dikonsep dan dirancang untuk merangsang sensasi semacam kesemutan pada tubuh pendengarnya, sebuah respons yang sering dianggap menenangkan atau bahkan terapeutik.
Namun, kemudian fenomena ini memunculkan sebuah perenungan dan muncul pertanyaan: mengapa ASMR begitu menarik perhatian? Apakah ini sekadar hiburan sederhana, atau ada dimensi psikologis dan sosial yang lebih kompleks di baliknya? Dalam rancangan pesan di media sosial, ASMR nampaknya tidak hanya sebagai bentuk hiburan belaka, melainkan juga sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan emosional manusia modern dewasa ini.
Mari kita tilik sejenak pertanyaan berikut. Apakah popularitas ASMR menunjukkan kebutuhan masyarakat akan adanya“pelarian” dari tekanan hidup sehari-hari? Atau jika kiat bisa berandai-andai, apakah konten ASMR mencerminkan manipulasi halus atas pikiran kita oleh algoritma dan konten yang dirancang secara strategis?
Melalui tulisan ini, kita akan mengeksplorasi ASMR dari perspektif psikologi, memahami bagaimana otak manusia bereaksi terhadap stimulus ini, serta membahas hubungan fenomena ini dengan kecemasan dan stres yang dihadapi masyarakat modern. Apakah ASMR hanya alat untuk mengalihkan perhatian kita, ataukah ia merupakan cerminan dari cara kita mencari ketenangan di dunia yang serba cepat? Dengan menggali dimensi hiburan dan manipulasi yang terkandung di dalamnya, mari kita bersama mencoba untuk sedikit berpikir kritis tentang konsumsi media di era digital dalam kaitannya dengan ASMR.
ASMR Sebagai Hiburan Manipulatif
Di balik kenyamanan yang ditawarkan, ASMR sepertinya merupakan bagian penting dari industri hiburan digital yang semakin terkomodifikasi. Konten ASMR, yang awalnya hadir untuk menciptakan rasa relaksasi dan tenang, kini banyak digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian, mendulang klik, dan meraih keuntungan finansial di platform digital. Fenomena ini mencerminkan bagaimana media sosial telah menjadi alat yang penting untuk mengeksploitasi kebutuhan psikologis manusia, dengan cara menjual ketenangan dalam paket digitalisasi.
Ivan Illich (1926–2002) seorang filsuf, pernah mengkritik bahwa teknologi modern menciptakan kebutuhan-kebutuhan palsu, mendefinisikan ulang apa itu kenyamanan dan relaksasi sesuai dengan logika pasar. Dalam konteks ASMR, relaksasi tidak lagi sekadar pengalaman alami, tetapi produk yang dijual dengan janji bisa menghapus stres dalam sekejap.
Hal ini sejalan dengan gagasan Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2015), yang menyoroti kelelahan psikologis akibat tekanan lingkungan yang mengagungkan produktivitas. Di tengah tuntutan untuk terus bekerja dan berprestasi, ASMR muncul sebagai pelarian instan, menjadikan kelelahan kita sebagai ladang bisnis yang menguntungkan.
Albert Camus, sang filsuf eksistensialis, mungkin akan mempertanyakan: Apakah ASMR adalah mekanisme pelarian kita dari absurditas hidup? Dalam absurditas, manusia dihadapkan pada kekosongan makna, dan hiburan seperti ASMR menawarkan pelarian sementara yang menghindarkan kita dari pertanyaan eksistensial yang lebih mendasar. Camus mengingatkan bahwa pelarian dari absurditas tidak menghapus absurditas itu sendiri, melainkan menunda konfrontasi kita dengannya.
Hiburan di media sosial seperti ASMR bukan hanya soal pengalaman personal, lebih jauh bahkan hal tersebut juga mencerminkan bagaimana teknologi membentuk ulang cara kita berpikir dan merasa. Marshall McLuhan dengan tegas menyatakan bahwa medium is the message, media bukan hanya sebuah saluran, tetapi juga representasi dari bagaimana teknologi membentuk realitas kita. Dalam kasus ASMR, ia tidak hanya menjadi hiburan, tetapi sebuah simbol bagaimana manusia modern memanfaatkan teknologi untuk memenuhi kebutuhan emosional di tengah tekanan yang dihadapi.
Meskipun secara praktis ASMR dapat menjadi suatu solusi, namun penting bagi kita untuk tidak terlarut dalam ilusi hiburan ini. Mengonsumsi ASMR tanpa pemahaman dan pengertian yang kritis dapat membuat kita terjebak dalam pola-pola manipulasi yang dirancang untuk mempertahankan ketergantungan kita pada media sosial.
Hiburan yang berlebihan tanpa refleksi dapat membahayakan keseimbangan emosional dan mempengaruhi budaya secara personal dan segera berimbas secara lebih luas ke masyarakat. Maksudnya adalah, dengan tetap menjaga jarak kritis, kita dapat menikmati hiburan tanpa kehilangan kendali atas mentalitas dan nilai-nilai kita.
Sekadar Renungan Kritis
Jika Anda pernah merasakan ketenangan mendalam saat mendengarkan suara gesekan kuas atau bisikan dalam video ASMR, izinkan saya mengajak Anda untuk berhenti sejenak. Mari kita renungkan, apakah ketenangan itu benar-benar Anda rasakan, atau hanya sensasi sementara yang dirancang untuk mengalihkan perhatian Anda dari hiruk-pikuk dunia nyata?
Fenomena seperti ASMR adalah cermin kecil dari hiburan modern yang, tanpa kita sadari, memengaruhi cara kita menjalani hidup, bahkan mendefinisikan ulang apa artinya menjadi tenang dan damai. Ludwig Wittgenstein, seorang filsuf besar abad ke-20, pernah berkata bahwa bahasa membentuk cara kita berpikir.
Dalam konteks ASMR, "bahasa" teknologi dan media sosial tidak hanya menyampaikan hiburan tetapi juga mempengaruhi makna yang kita atribusikan pada pengalaman sehari-hari. Ketika ketenangan diiklankan sebagai sesuatu yang bisa "dibeli" atau "ditemukan" di YouTube, TikTok atau platform lainnya, kita patut bertanyapa akah kita benar-benar menemukan ketenangan, atau hanya membiarkan diri terkendalikan oleh media yang memahami kelemahan psikologis kita lebih baik daripada diri kita sendiri?
Seperti yang diungkapkan oleh Albert Camus, hidup pada dasarnya adalah absurditas. Kita memang terlempar ke dunia tanpa makna bawaan, tetapi tugas kita adalah memberinya makna. Dalam dunia yang penuh dengan hiburan instan seperti ASMR, bagaimana kita bisa menemukan makna tanpa terjebak dalam ilusi yang diciptakan oleh teknologi? Camus mengingatkan kita bahwa untuk hidup sepenuhnya, kita harus berani menghadapi absurditas, bukan melarikan diri darinya.
Jadi, mari kita renungkan bersama: Apakah hiburan modern seperti ASMR membantu kita menemukan kedamaian, atau justru membius kita dalam kenyamanan palsu? Pertanyaan ini bukan sekadar kritik, tetapi undangan untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana kita memanfaatkan teknologi dan hiburan, untuk bisa menjalani kehidupan yang penuh arti.
Para pembaca yang budiman, Anda memiliki pilihan, melihat teknologi sebagai alat untuk menciptakan makna, atau membiarkan diri tenggelam dalam absurditas tanpa usaha perlawanan. Bagaimana pilihan Anda? [T]
BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...