Puisi-puisi IGA Darma Putra dari Paris | Kepada Sunyi, Kabut, Hujan

IGA Darma Putra
by IGA Darma Putra — November 23, 2024 in Puisi

Tatkala.co

Kepada Sunyi


[IDK Raka Kusuma]

Jangan patahkan sayapku
Meski angin menderai-derai
Selama seribu tahun

Kala kertas terluka
Kar’na ditoreh pena
dan waktu:
tiba-tiba membawaku kepadamu
Sekali lagi

Ku katakan
Kepada sunyi
Yang hangat
kata haruskah istirahat

lembar demi lembar diri
ku tuai dari matamu yang dalam
seperti degup puisi yang tak pernah usai

Dan bunga-bunga
Sudah kita tiup bagi semilir
Namun tetap hanya sunyi

‘Dik, tulislah awan’
Tapi aku hanya menyerahkannya kepada sepi
Tidak kepada pahatku
Yang telah sumbing
Dimakan hari dan malam-malam

Buku-buku berdebu
Ketiadaan menyeret-nyeret
Dan membagi-bagi luka
Bagi alat tulisku
Darimu

Boulogne, 14 November 2024

Kabut

demi apa segumpal kabut
terbang perlahan ke masa lalu
semenjak aku kehilanganmu

ia mengetuk ngetuk
kenangan demi kenangan
yang belum jua menguap
meski ku bakar pada waktu

ia mencoba berkali kali
menyerahkan aku kepada luka
kepada sayat dan pedih yang sama

kukira, yang lahir dari langkahnya
adalah senyap
serimbunan padang liar
atau seribu tulip, juga puisi
dan rintih gerimis yang haru

nyatanya
ia hanya menitikkan air mata
yang pelahan membelah kita selamanya
menjadi luka

Paris, 17 Nov 2024

Hujan

hujan merintih pelan
memukul mukul mataku dengan pilunya
juga sebatang pohon yang menggigil
saat kehilangan rimbun daunnya
satu persatu

lamat lamat, seekor kera mengaduh
sebab rembulan hilang
di antara mega mendung
rambutmu yang basah

serta seorang musafir
mulai memetik sitarnya
tak kalah pelan dari rintik
dan daun daun
yang berseru kepada langit
serta angin yang menanggalkannya
dari ranting dan dahan dahan
juga cinta

Paris, 18 November 2024

Kupejamkan Mataku

ku pejamkan mataku
dan ku serahkan seutuhnya aku
kepada malam dan gelapnya yang bisu
karena di dalamnya
hanya aku yang memilikimu

pada musim gugur
ketika purnama kelima meninggi
saat rindu berkecipak
membuncah dari jantungku
ku serahkan diri kepada malam
berkali-kali, berwaktu-waktu
demi memilikimu

di kejauhan
seorang gadis
menyayat nyayat biola
tapi aku tak ingin menyerahkan diri
pada mimpi yang terbit dan terbenam
sebab esok engkau bukan lagi apa-apa

aku berharap engkau adalah pagi
yang abadi pada musim musim
meski saling mengganti
ke dalam kenangan yang mendanau
di mana tiap tiap kita
tenggelam dan kehilangan siapa

Paris, 21 Nov 2024

Tidakkah Kematian

ku dengar degupmu, kekasihku
setiap waktu, meski aku tahu
tiada mungkin dirimu

dan ketika salju turun
: dingin
membeku duka dan luka
yang menjurang
engkau bersiul dan membuatnya
semakin nganga

hari hari datang dan pergi
sedang kenangmu masih di sini
seperti baru saja, seperti
serimbun daun musim gugur

sunyi, kekasihku
saat salju sekali lagi
turun dan menembus segalanya
sajak sajak mengigau
sedang gagak bernyanyi parau

bukankah ini, kekasihku
hidup yang kau sebut puisi
yang memaksa kita
menyayangi dari jarak masing masing
yang bahkan tak bisa diarungi lagi

apa tidakkah kematian
mencintai aku dengan sangat?

Paris, 23 November 2024

https://tatkala.co/2021/02/28/puisi-puisi-iga-darma-putra-kematian-siapa-hari-ini/
https://tatkala.co/2022/07/17/puisi-puisi-iga-darma-putra-nur-illahi-pertemuan-pertemuan/
https://tatkala.co/2019/11/16/puisi-puisi-idk-raka-kusuma-juru-masak-tampan-wayan-koster/
https://tatkala.co/2019/04/20/puisi-puisi-idk-raka-kusuma-ranjang-bagi-leluhur/
Tag: Puisi
Avatar

IGA Darma Putra

Related Posts