Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
JIKA dengar nama Desa Sangeh di Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, pikiran kita hampir pasti melayang kepada kera atau monyet. Ya, di Sangeh memang ada tempat wisata monyet yang hidup dalam hutan desa yang asri.
Obyek wisata hutan dan kera ini sudah terkenal sejak bertahun-tahun lalu. Namun, saya tak akan bercerita tentang hutan Sangeh itu. Saya ingin bercerita tentang air dalam telaga bening, air yang mengalir di parit sawah dan air yang menjadi tirta suci bagi umat.
Tentu, karena, selain obyek wisata hutan dengan kera yang jinak, Desa Sangeh memang punya obyek wisata air. Namanya, Taman Mumbul. Lokasinya di Banjar Brahmana.
Taman Mumbul memang baru dikenal sejak beberapa tahun lalu, namun perkembangan pengelolaannya kini cukup pesat.
Yang menarik, Taman Mumbul bukan hanya tempat wisata, melainkan juga sebagai tempat warga desa menjaga ketersediaan air untuk mengairi sawah mereka. Taman Mumbul juga digunakan sebagai irigasi.
Air yang mucul di Taman Mumbul itu punya cerita yang unik. Sebuah cerita dari tetua di masa lalu yang terus diceritakan dari zaman ke zaman.
Menurut cerita I Gusti Ngurah Putu Buda dari Banjar Batu, Sangeh—yang menjadi pengelola Taman Mumbul sejak Oktober 2024—menceritakan, pada zaman dahulu ada seorang nenek yang membawa air menggunakan daun pisang untuk diberikan kepada orang di desa itu. Tetapi orang-orang tidak mau menerima air itu.
Akhirnya air itu ditaruh begitu saja. Nah, di tempat menaruh air itu munculah sumber air, lama-lama air tersebut membesar, sehingga tempat itu menjadi telaga atau danau kecil. Tempat itulah kini dikenal dengan nama Taman Mumbul.
“Jika tidak dibendung atau diseber pinggirannya, mungkin tanah di sekitar sudah habis jadi telaga,” kata I Gusti Ngurah Putu Buda. “Tanah di kanan-kiri bagian utara danau itu adalah tanah milik banjar, ada ada juga tanah milik pribadi. Untuk mengurangi terjadinya abrasi, akhirnya desa adat membendung air tersebut menjadi sekarang dan tidak meluas lagi,” katanya.

I Gusti Ngurah Putu Buda | Foto: Vira
Sumber air Taman Mumbul itu memang berasal dari tanah atau dalam Bahasa Bali disebut klebutan. Air tersebut kini digunakan untuk irigasi pertanian.
“Air Taman Mumbul mengalir dari utara hingga selatan Desa Sangeh seperti Jemeng, Blahkiuh. Dan di Taman Mumbul itu ada bendungan yang membagi dua jalur air. Satu jalur untuk persawahan bagian selatan, dan satu jalur lagi airnya mengalir sampai ke Desa Taman, Desa Selat sampai Desa Mambal,” kata Ngurah Buda.
Taman Mumbul memiliki daya tarik wisata, yang didatangi wisatawan lokal dan mancanegara. Lingkungan yang sejuk, asri dan hijau, dengan air yang alami, menjadikan Taman Mumbul sebagai obek wisata yang khas, autentik, tanpa dibuat-buat secara berlebihan.
Apalagi, Taman Mumbul kemudian dilengkapi sarana wisata untuk tempat rekreasi seperti perahu rakit dari bambu. Sehingga danau kecil itu menjadi tempat wisata yang asik bagi keluarga.
Selain tempat wisata, Taman Mumbul juga memiliki pura yaitu Pura Pancaka Tirta yang berada di sebelah timur. Sesuai namanya, Pura ini secara khusus untuk penglukatan atau pembersihan diri. Air untuk pembersihan diri secara niskala ini tentu saja bukan berasal dari air di Taman Mumbul. Pura itu memiliki mata air tersendiri, karena di daerah itu terdapat banyak mata air.
Selain sebagai tempat pembersihan diri, air dari Pura Pancaka Tirta banyak digunakan masyarakat setempat untuk diminum.

Saluran irigasi di kawasan Taman Mumbul | Foto: Vira
“Kawasan Pura Pancaka Tirta dibagi menjadi tiga yaitu Nista, Madya, Utama. Nista tempat toilet, Madya tempat untuk Penglukatan, Utama yaitu tempat Melasti,” ungkap Ngurah Buda.
Yang lebih menarik lagi, Taman Mumbul pada zaman dulu sering digunakan sebagai tempat belajar berenang. Semacam sekolah renang.
“Orang tua zaman dulu pintar berenang karena orang zaman dulu bermain di air. Tidak seperti anak-anak sekarang berenang harus bayar kolam renang,” katanya.
Sebagai pengelola, Ngurah Buda tentu saja bisa renang karena ia dibesarkan di Taman Mumbul juga disebut dengan nama Pancoran Solas.
Menurutnya, debit air di Taman Mumbul itu terus berkurang. “Dahulu debit air masih besar tetapi debit air sekarang menurun, itu terjadi karena ulah manusia,” katanya.

Warga lokal dan wisatawan "malukat" di Pura Pancaka Tirta di sekitar Taman Mumbul | Foto: Vira
Untuk itulah warga tetap memelihara pohon-pohon besar dan hutan bambu yang ada di bagian hulu. Karena penyebab melimpahnya mata air di kawasan Taman Mumbul itu memang karena faktor alam yang masih terpelihara.
“Banyaknya pohon-pohon, dan yang paling penting adanya hutan bambu. Setiap desa mempertahankan hutan bambu karena penyimpanan airnya besar,” kata Ngurah Buda.
Penurunan debit air pada Taman Mumbul kian berdapak besar pada petani. Kesadaran masyarakat sangat penting untuk menstabilkan debit air. Pembuangan sampah dan limbah pabrik menjadi rusaknya air dan ekosistem di bagian selatan Desa Sangeh. “Rusaknya air bukan dari air itu sendiri tetapi ulah manusialah yang merusaknya,” kata Ngurah Buda
Sebagai pengelola Taman Mumbul, Ngurah Buda mengatakan, ada tantangan untuk melestarikan keberadaa Taman Mumbul itu, bagaimana masyarakat ke depannya menanamkan ajaran Tri Hita Karana, yaitu salah satunya hubungan manusia dengan alam.
“Penyelamatan hutan di sekitar sangat penting dilakukan, karena sumber air berasal dari hutan. Subak tidak hanya melakukan ritual, tetapi subak sebaiknya melakukan ritual penanaman pohon,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Vira Astri Agustini
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...