Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
JIKA dengar nama Desa Sangeh di Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali, pikiran kita hampir pasti melayang kepada kera atau monyet. Ya, di Sangeh memang ada tempat wisata monyet yang hidup dalam hutan desa yang asri.
Obyek wisata hutan dan kera ini sudah terkenal sejak bertahun-tahun lalu. Namun, saya tak akan bercerita tentang hutan Sangeh itu. Saya ingin bercerita tentang air dalam telaga bening, air yang mengalir di parit sawah dan air yang menjadi tirta suci bagi umat.
Tentu, karena, selain obyek wisata hutan dengan kera yang jinak, Desa Sangeh memang punya obyek wisata air. Namanya, Taman Mumbul. Lokasinya di Banjar Brahmana.
Taman Mumbul memang baru dikenal sejak beberapa tahun lalu, namun perkembangan pengelolaannya kini cukup pesat.
Yang menarik, Taman Mumbul bukan hanya tempat wisata, melainkan juga sebagai tempat warga desa menjaga ketersediaan air untuk mengairi sawah mereka. Taman Mumbul juga digunakan sebagai irigasi.
Air yang mucul di Taman Mumbul itu punya cerita yang unik. Sebuah cerita dari tetua di masa lalu yang terus diceritakan dari zaman ke zaman.
Menurut cerita I Gusti Ngurah Putu Buda dari Banjar Batu, Sangeh—yang menjadi pengelola Taman Mumbul sejak Oktober 2024—menceritakan, pada zaman dahulu ada seorang nenek yang membawa air menggunakan daun pisang untuk diberikan kepada orang di desa itu. Tetapi orang-orang tidak mau menerima air itu.
Akhirnya air itu ditaruh begitu saja. Nah, di tempat menaruh air itu munculah sumber air, lama-lama air tersebut membesar, sehingga tempat itu menjadi telaga atau danau kecil. Tempat itulah kini dikenal dengan nama Taman Mumbul.
“Jika tidak dibendung atau diseber pinggirannya, mungkin tanah di sekitar sudah habis jadi telaga,” kata I Gusti Ngurah Putu Buda. “Tanah di kanan-kiri bagian utara danau itu adalah tanah milik banjar, ada ada juga tanah milik pribadi. Untuk mengurangi terjadinya abrasi, akhirnya desa adat membendung air tersebut menjadi sekarang dan tidak meluas lagi,” katanya.

I Gusti Ngurah Putu Buda | Foto: Vira
Sumber air Taman Mumbul itu memang berasal dari tanah atau dalam Bahasa Bali disebut klebutan. Air tersebut kini digunakan untuk irigasi pertanian.
“Air Taman Mumbul mengalir dari utara hingga selatan Desa Sangeh seperti Jemeng, Blahkiuh. Dan di Taman Mumbul itu ada bendungan yang membagi dua jalur air. Satu jalur untuk persawahan bagian selatan, dan satu jalur lagi airnya mengalir sampai ke Desa Taman, Desa Selat sampai Desa Mambal,” kata Ngurah Buda.
Taman Mumbul memiliki daya tarik wisata, yang didatangi wisatawan lokal dan mancanegara. Lingkungan yang sejuk, asri dan hijau, dengan air yang alami, menjadikan Taman Mumbul sebagai obek wisata yang khas, autentik, tanpa dibuat-buat secara berlebihan.
Apalagi, Taman Mumbul kemudian dilengkapi sarana wisata untuk tempat rekreasi seperti perahu rakit dari bambu. Sehingga danau kecil itu menjadi tempat wisata yang asik bagi keluarga.
Selain tempat wisata, Taman Mumbul juga memiliki pura yaitu Pura Pancaka Tirta yang berada di sebelah timur. Sesuai namanya, Pura ini secara khusus untuk penglukatan atau pembersihan diri. Air untuk pembersihan diri secara niskala ini tentu saja bukan berasal dari air di Taman Mumbul. Pura itu memiliki mata air tersendiri, karena di daerah itu terdapat banyak mata air.
Selain sebagai tempat pembersihan diri, air dari Pura Pancaka Tirta banyak digunakan masyarakat setempat untuk diminum.

Saluran irigasi di kawasan Taman Mumbul | Foto: Vira
“Kawasan Pura Pancaka Tirta dibagi menjadi tiga yaitu Nista, Madya, Utama. Nista tempat toilet, Madya tempat untuk Penglukatan, Utama yaitu tempat Melasti,” ungkap Ngurah Buda.
Yang lebih menarik lagi, Taman Mumbul pada zaman dulu sering digunakan sebagai tempat belajar berenang. Semacam sekolah renang.
“Orang tua zaman dulu pintar berenang karena orang zaman dulu bermain di air. Tidak seperti anak-anak sekarang berenang harus bayar kolam renang,” katanya.
Sebagai pengelola, Ngurah Buda tentu saja bisa renang karena ia dibesarkan di Taman Mumbul juga disebut dengan nama Pancoran Solas.
Menurutnya, debit air di Taman Mumbul itu terus berkurang. “Dahulu debit air masih besar tetapi debit air sekarang menurun, itu terjadi karena ulah manusia,” katanya.

Warga lokal dan wisatawan "malukat" di Pura Pancaka Tirta di sekitar Taman Mumbul | Foto: Vira
Untuk itulah warga tetap memelihara pohon-pohon besar dan hutan bambu yang ada di bagian hulu. Karena penyebab melimpahnya mata air di kawasan Taman Mumbul itu memang karena faktor alam yang masih terpelihara.
“Banyaknya pohon-pohon, dan yang paling penting adanya hutan bambu. Setiap desa mempertahankan hutan bambu karena penyimpanan airnya besar,” kata Ngurah Buda.
Penurunan debit air pada Taman Mumbul kian berdapak besar pada petani. Kesadaran masyarakat sangat penting untuk menstabilkan debit air. Pembuangan sampah dan limbah pabrik menjadi rusaknya air dan ekosistem di bagian selatan Desa Sangeh. “Rusaknya air bukan dari air itu sendiri tetapi ulah manusialah yang merusaknya,” kata Ngurah Buda
Sebagai pengelola Taman Mumbul, Ngurah Buda mengatakan, ada tantangan untuk melestarikan keberadaa Taman Mumbul itu, bagaimana masyarakat ke depannya menanamkan ajaran Tri Hita Karana, yaitu salah satunya hubungan manusia dengan alam.
“Penyelamatan hutan di sekitar sangat penting dilakukan, karena sumber air berasal dari hutan. Subak tidak hanya melakukan ritual, tetapi subak sebaiknya melakukan ritual penanaman pohon,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Vira Astri Agustini
Editor: Adnyana Ole
Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...