Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
AGAR terselenggara debat ketiga Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Buleleng, 20 November 2024, secara lancar dan tanpa gangguan—seperti jalan tol—maka penonton, atawa pendukung calon, harus tertib dan rapi.
Untuk itulah, pada debat di Banyualit Spa’n Resort itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Buleleng mengeluarkan sejumlah ketentuan, terutama bagi pendukung yang ikut nonton.
Antara lain, yel-yel dihilangkan, dan hanya ada tepuk-tepuk tangan. Penonton di tempat debat harus tetap duduk rapi, tak boleh seliweran ke sana kemari.
Ketua KPU Buleleng Komang Dudhi Udiyana—saat rapat koordinasi persiapan debat di Berutz Bar & Resto, Senin, 18 November 2024, mengatakan, ia tidak akan memberikan toleransi kepada para tamu undangan yang sudah berada di dalam ruangan pada saat on air itu tapi mondar-mandir. Menganggu.
“Jadi nanti ruangan akan kita tutup selama kegiatan debat berlangsung,” kata Komang Dudhi.
Sampai di sini, ia juga menjelaskan bagaimana debat ini merupakan debat final yang sangat dinantikan oleh masyarakat Buleleng. Ia berharap momentum ini menjadi ajang edukasi politik yang efektif, dan sukses bagi semua pihak.
Debat ketiga antara pasangan calon bupati dan wakil bupati Sugawa Korry-Suatrdana dan paslon Nyoman Sutjidra-Supriatna ini mengusung tema “Implementasi Otonomi Daerah Di Kabupaten Buleleng”.
Terdapat enam materi yang akan dibawakan di acara debat ke tiga nanti. Antara lain; Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, Memajukan Daerah, Meningkatkan Pelayanan kepada Masyarakat.
Kemudian, ada tema dan materi Menyelesaikan Persoalan Daerah, Menyerasikan Pelaksanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota dan Provinsi dengan Nasional, dan Memperkokoh NKRI dan Kebangsaan.
Karena ini terakhir, lanjut Komang Dudhi—ia berencana akan mengundang kepala sekolah dan siswa berusia 17 tahun dan memiliki hak pilih untuk datang menyaksikkan debat ketiga ini. Tujuannya agar siswa bisa menyaksikkan secara langsung debat sebagai proses dari pesta demokrasi.
Kemudian, lanjut Komang Dudhi lagi, berdasarkan hasil debat itu, para siswa diharapkan punya pilihan untuk memilih pada 27 November mendatang.
“Kami ingin semua pihak, baik penyelenggara maupun peserta debat, berada dalam situasi yang harmonis. Ending dari debat terakhir ini harus meninggalkan kesan positif, memberikan edukasi politik yang bermutu, dan menjadi contoh demokrasi yang baik,” katanya.
Sehingga ia juga mewanti-wanti kepada para tim pemenangan paslon untuk tidak memasukkan pendukung atau timsesnya yang cenderung ribut saat on air di dalam ruangan.
Bila perlu, lanjut Komang Dudhi, cari yang kalem saja agar kondusif tidak jingkrak-jingkak. Yang rapi, minimal bajunya atau rambutnya.
Jadi gimana, Ton? Jika ingin ikut nonton debat, jangan lupa sisiran yah. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...