“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
BARU-BARU ini mulai terdengar istilah baru yang kembali dikaitkan dengan gen Z dan millenial, yakni doom spending. Istilah baru ini dimaknai sebagai suatu perilaku ketika seseorang gemar menghabiskan uang untuk berbelanja secara impulsif.
Menurut beberapa studi, pelaku doom spending merupakan 43% generasi millenial, dan 35% adalah gen Z. Tak heran jika saat ini, banyak gen Z dan millennial yang lebih menyukai belanja barang-barang branded atau makan di restoran mewah dengan intensitas hampir setiap hari dibandingkan dengan menabung untuk membeli aset masa depan.
Kondisi doom spending merujuk pada kecenderungan individu untuk melakukan pengeluaran secara berlebihan atau dengan kata lain pembelian tidak terencana yang dilakukan tanpa pertimbangan matang dan disertai konflik emosional yang tinggi (Wood dalam Zhang dan Shi, 2022). Tren ini sering kali dilakukan sebagai bentuk respons emosional terhadap situasi yang menekan atau ketidakpastian, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun ekonomi. Jadi, saat ini doom spending seolah-olah dianggap sebagai bentuk coping mechanism-nya anak-anak muda zaman sekarang dalam menghadapi permasalahan.
Sebenarnya sah-sah saja melakukan hal tertentu untuk escape dari berbagai permasalahan yang dihadapi. Masalahnya, dalam doom spending orang-orang tidak menerapkan konsep berbelanja secara mindful seperti pada tren conscious consumerism atau perilaku belanja dengan sadar. Dampaknya tentu akan terlihat di berbagai sektor.
Era disrupsi teknologi dan informasi jadi salah satu faktor yang mendukung fenomena doom spending. Lalu, apakah terjadinya fenomena doom spending ini kemudian menjadikan tren sadar berbelanja sebagai sekedar cita-cita yang pupus?
Disrupsi Teknologi dan Informasi Sebagai Katalisator Doom Spending
Tak dapat dipungkiri, berkembangnya teknologi yang semakin pesat dan kemunculan platform yang beraneka ragam sangat berpengaruh terhadap perubahan budaya internet dan peredaran informasi. Berkembangnya media sosial memungkinkan kita semua sebagai penggunanya terpapar lebih banyak informasi dalam hitungan detik dan menit.
Jika dilihat dari sisi positifnya, kemajuan teknologi ini tentu membawa banyak keuntungan, misalnya dalam konteks pengetahuan tentang berbagai hal termasuk pola perilaku konsumsi. Kemajuan teknologi ini pada gilirannya dapat meningkatkan kesadaran tentang dampak perilaku konsumsi terhadap berbagai sektor kehidupan yang disebut dengan tren conscious consumerism tadi. Tren ini pada dasarnya merepresentasikan pola konsumsi yang berubah.
Nilai ekonomis suatu produk bukan lagi satu-satunya hal yang dipertimbangkan ketika membeli sesuatu, namun juga nilai lingkungan, sosial, bahkan hingga nilai politis. Kenyataannya, era kemajuan digital justru memicu fenomena doom spending semakin meluas seiring dengan transformasi teknologi yang membawa informasi serta konten konsumerisme secara terus-menerus ke dalam genggaman tangan kita.
Hal ini sesuai dengan pendapat dari Kacen dan Lee (2002), bahwa teknologi seperti kemajuan internet dapat memperluas kesempatan berbelanja implusif dari konsumen, sebab keberadaan internet dapat meningkatkan aksesibilitas terhadap produk dan layanan serta kemudahan melakukan pembelian impulsif.
Variasi media sosial dan platform belanja online yang semakin beragam juga membuat generasi muda, bahkan hingga tua terpapar berbagai informasi terkait produk, seperti iklan yang cenderung menawarkan produk-produk sekunder. Belum lagi keberadaan influencer di platform seperti Instagram dan TikTok juga berperan besar dalam mendorong doom spending.
Godaan pembelian impulsif dapat semakin meningkat dengan adanya dorongan dari konten yang diiklankan oleh influencer atau figur publik di media sosial. Sering kali, gaya hidup yang ditampilkan melalui konten influencer atau bahkan teman-teman di lingkaran sosial kita seolah menciptakan standar konsumsi yang mepengaruhi keinginan untuk mengikuti tren yang ada. Banyak orang merasa terdorong untuk berbelanja secara impulsif demi "mengikuti zaman," walaupun mungkin tidak benar-benar membutuhkan produk tersebut.
Miris setelah mengetahui fakta bahwa mayoritas generasi muda berubah menjadi konsumtif hanya karena mencari validasi dari orang lain, baik dalam dunia nyata maupun di internet. Tentunya kenyataan ini memotret bahwa pengakuan di dunia nyata bisa jadi dirasa tidak cukup bagi generasi-generasi yang begitu bersahabat dengan media sosial dan internet. Jika diurut kembali dari belakang, fenomena doom spending ini bisa dikatakan sebagai ekor dari perasaan Fear of Missing Out (FoMO), istilah yang menggambarkan ketakutan seseorang akan ketertinggalan jika dirinya tidak mengikuti tren tertentu.
Buy Now Pay Later Berujung Pinjol
Kemunculan berbagai platform belanja online (e-commerce) merupakan sebuah kemudahan dalam mengakses produk dan layanan. Bahkan jika bicara tentang kemudahan, pertumbuhan e-commerce juga mengakselerasi perkembangan sistem pembayaran digital, seperti dompet digital, pinjaman bersama, dan sistem Buy Now Pay Later atau biasa kita kenal dengan kredit.
Meski pada dasarnya sistem kredit sudah ada sejak dulu, namun kombinasi kemudahan belanja yang disodorkan e-commerce saat ini semakin mendorong generasi-generasi muda untuk menggunakannya. Konsumen tidak lagi perlu menggunakan banyak energi untuk berbelanja karena apa yang diinginkan bisa berada dalam genggaman hanya dalam satu kali klik.
Sistem buy now pay later juga telah mengeliminasi hambatan finansial yang mungkin dapat membatasi keputusan pembelian konsumen di masa lalu (Juita et al, 2023). Hal inilah yang kemudian mendorong terjadinya fenomena doom spending yang jika tidak segera dihentikan dapat berujung pada perilaku konsumsi yang berlebihan.
Kemudahan yang ditawarkan e-commerce dan sistem pembayaran digitalnya bukan tidak mungkin menjadi petaka. Belakangan banyak sekali gen Z dan millenials yang pada akhirnya terjebak dalam kasus pinjaman online (pinjol) karena utang akibat tagihan yang secara tidak sadar semakin menumpuk seiring bertambahnya belanjaan yang tidak terkontrol. Gen Z dan millenial menganggap bahwa pinjol dapat dijadikan sebagai alternatif pelunasan tagihan. Padahal, gagasan ini justru memperburuk kondisi finansial, bahkan dalam jangka panjang berdampak pada kondisi mental.
Langkah Kecil untuk Berbelanja Lebih Mindful
Meski doom spending seolah telah menggeser kesadaran masyarakat dalam berbelanja secara considerate, namun bukan berarti conscious consumerism pupus dan tidak dapat direalisasikan. Justru konsep ini menjadi solusi paling realistis yang bisa dilakukan. Masalahnya, bagaimana kemudian kita menumbuhkan kesadaran dan kemauan masyarakat untuk menerapkan konsep ini?
Percayalah bahwa langkah kecil akan tetap berarti untuk masa depan. Beberapa hal yang mulai bisa dilakukan untuk mewujudkan konsep conscious consumerism sebagai solusi perilaku doom spending adalah dengan meningkatkan literasi digital. Dengan memiliki literasi digital, maka kita akan tahu cara kerja internet dan media sosial secara menyeluruh, dan dampaknya bagi kehidupan jangka panjang, termasuk pembentukan perilaku konsumsi. Cara ini bisa dimanfaatkan sebagai upaya membuat konsumen menanggapi informasi konsumsi yang bersifat manipulatif di media sosial secara lebih bijaksana.
Selain itu, masyarakat perlu mempraktikkan detoksifikasi digital untuk membatasi waktu dan eksposur terhadap konten-konten komersial. Mengurangi penggunaan aplikasi belanja atau mengatur batasan waktu untuk mengakses media sosial dapat membantu mengurangi keinginan berbelanja impulsif. Keputusan pengguna untuk berlama-lama menyelam di media sosial memang tidak memberikan kepuasan, namun justru sebaliknya.
Savitri (2019) menjelaskan bahwa akses yang berlebihan pada media sosial justru akan menggeser intensi seseorang dalam pemanfaatannya. Misalnya, alih-alih membangun kedekatan, kepercayaan, dan kehangatan hubungan dengan orang lain melalui media sosial, banyak pengguna yang justru salah fokus dengan apa yang terjadi di dalamnya, seperti belanja implusif ini. [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...