Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SELAYAKNYA pemuda berusia 27++ lainnya di sekitarku, aku hanya menjalani hari dengan penuh hal-hal biasa saja. Kerja kantoran dari pagi hingga sore, lanjut mengambil kerja sampingan hingga malam lalu membantu orang tua menyiapkan bahan dagangan untuk esok hari. Akhir pekan, terkadang waktu luang ku habiskan hanya dikamar saja sembari menonton Netflix di gawai atau sekadar jalan jalan bareng dengan kekasih berkeliling kota saja.
Beberapa orang mungkin menganggap kalau hidup seperti ini membosankan. Tak ada hal beda di tiap harinya, hanya aktifitas monoton yang direpetisi terus menerus.
Dahulu, aku seorang aktivis kampus yang senantiasa bersuara mengenai akan kemana dibawa arah bangsa ini. Kala itu, waktu demi waktu aku berkicau di media sosial bahkan tak jarang mendapat ancaman dari berbagai kalangan. Sungguh hari hari yang penuh warna rasanya. Namun, mungkin beginilah jalan hidup membawa pilihan pilihan barunya kedalam hidup seseorang. Hidup memanglah sebuah pilihan dan pada akhirnya jalan hidup yang biasa biasa saja adalah apa yang aku pilih.
Menjadi biasa saja agar tak ada yang mengkritisi bila sudah beropini, menjadi biasa saja agar keluarga jauh dari kata ancaman, menjadi biasa saja agar tak ada beban berlebihan dikepala. Menjalani hidup yang biasa saja sesungguhnya mudah dilakukan. Namun tetap saja, ini tak semudah apa yang dilihat.
Pasca insiden yang menimpa keluarga kami 3 (tiga) tahun lalu, kami secara perlahan memulai membangun ekonomi keluarga dari 0 (nol) lagi. Oleh karena membangun dari 0 membutuhkan modal yang tak sedikit, akhirnya memiliki hutang pun tak bisa kami hindari. Meminjam uang dengan harapan mampu memutarnya hingga perekonomian keluarga kembali ke titik amannya.
Hahaha! Apa yang bisa kalian pikirkan dari seseorang yang memiliki hutang? Benar! Tak ada yang namanya pikiran tenang. Setiap bulan harus menyisihkan gaji untuk bisa membayarnya. Setiap hari harus menahan pengeluaran yang dirasa tak perlu. Inilah muasal hidup biasa-biasa saja ku dimulai.
Aku hanya berfokus pada bagaimana menjalani hidup dengan tenang atau mencoba tenang setiap hari. Setidaknya, bisa makan seadanya, bisa membeli bensin motor dan kuota internet saja sudah cukup bagiku. Aku mencoba bertahan dengan hidup yang biasa saja dan memperkecil celah celah masalah lain yang tak perlu masuk kedalam hidupku saat ini. Kedepannya, masih banyak tahapan hidup yang harus aku lalui. Pernikahan dan berkeluarga adalah salah duanya.
Aku, pria 27 tahun yang tak terlalu berani mengambil resiko diluar perhitunganku. Jikalau kalian tanya apa kegemaranku? Aku akan menjawabnya sekarang. Aku gemar menulis opini, aku gemar berpuisi, aku gemar membuat serta mengedit video dan akupun gemar ke toko buku sekadar mencari referensi untuk memperkaya ide-ideku saat menulis.
Kini, hal-hal yang kugemari sudah jarang aku lakukan. Ada banyak hal yang mengalihkan pikiranku sehingga aku tak bisa menjalankan kegemaranku sesuka dan sepuas dahulu. Seperti apa yang orang lain sering ucapkan, menjadi dewasa memang tak pernah mudah. Mungkin kalian akan berpikir bahwa ini hanyalah pembenaran yang aku lakukan dan bersembunyi dibalik kata “nasib” yang sebenarnya adalah rasa malas. Mungkin kalian benar atau mungkin saja kalian keliru.
Aku mencoba menulis lagi. Tulisan ini adalah buktinya. Aku memang memilih untuk hidup biasa biasa saja. Hidup yang tenang tanpa ada gangguan dari pemikiran dan perkataan orang lain. Namun, aku juga tak akan bisa melepaskan tentang siapa aku dahulu, tentang siapa aku setidaknya 6 tahun kebelakang. Aku, seorang penulis buku.
Aku, seseorang yang punya idealismenya tentang karir dan kehidupan. Aku, seseorang yang selalu pantang menyerah dalam hal asmara. Aku, seseorang yang pernah hidup tidak biasa biasa saja. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...