Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
“Ngik ngak ngik nguk
Doglagan ya mekeber
Meng kuwuk nyaplok batu”
TEMBANG itu terlantun nyaring di Grand West Mall Indonesia Lt.8 .Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Sabtu malam, 12 Oktober 2024. Penonton yang berada di gedung itu menyimak dengan khusuk. Mereka bengong, ada yang sedikit tersenyum, ada yang tampak menyimak dengan sangat antusias.
Tembang itu adalah bagian dari pertunjukan drama tari berjudul I Siap Selem (Si Ayam Hitam) yang dimainkan oleh Sanggar Seni Uyah Lengis Langgo dari Desa Demulih, Kecamatan Susut, Bangli, Bali. Sanggar dari Bangli itu merupakan satu dari 11 sanggar yang dipilih untuk pentas serangkaian perayaan hari ulang tahun ke-11 Galeri Indonesia Kaya.
Sanggar Seni Uyah Lengis Langgo memilih untuk mempertunjukkan salah satu satua (cerita rakyat) Bali yang terkenal di kalangan anak-anak, terutama anak-anak generasi tahun 1970-an dan 1980-an. Oleh sanggar ini, I Siap Selem dikemas dalam bentuk seni pertunjukan drama tari. Drama ini memadukan antara seni drama, seni olah gerak, seni pedalangan dan seni desain komunikasi visual sebagai salah satu bentuk kolaborasi guna menampilkan pertunjukan drama tari yang fresh dan kekinian.

Drama tari I Siap Selem dibuka dengan wayang | Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya
Cerita I Siap Selem, dulu, seringkali dituturkan orang tua sebagai cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Anak-anak yang sering mendengar cerita itu, terutama bagi anak-anak generasi tahun 1970 hingga 1990-an, cerita itu sangat membekas di hati. Ada dua karakter yang sangat ikonik dalam cerita itu, yakni I Meng Kuwuk dan I Doglagan. Dua tokoh itu menjadi centre point dalam cerita itu. Meng Kuwuk sebagai tokoh antagonis dan I Doglagan sebagai protagonis.
Dua tokoh itu juga menjadi center point dalam pertunjukan drama tari I Siap Selem yang dimainkan Sanggar Seni Uyah Lengis Langgo. Ringkasan ceritanya, I Siap Selem bersama anak-anaknya bermain ke huatn mencari makan. Sedang asyik mencari makan, tanpa disadari hujan lebat.
I Siap Selem harus memikirkan anak-anaknya. Apalagi anaknya yang paling kecil, I Doglagan, belum sepenuhnya tumbuh bulu. Dalam bahasa Bali, doglagan artinya tubuh ayam yang belum berisi bulu. Di seberang sungai itu I Siap Selem bersama anak-anaknya berhadapan dengan I Meng Kuwuk (sejenis kucing, mirip musang) yang memang merupakan predator dan pemangsa unggas yang ganas.
Dalam drama tari ini, Ayu Mona berperan sebagai I Doglagan dan Aswin Ananta sebagai I Meng Kuwuk. Sebagai pemeran utama, mereka berdua bermain sangat apik. Oning Sastryani yang memainkan tokoh I Siap Selem juga tampil dengan begitu prima.
Dwija Badranaya dalam pementasan itu bertindak sebagai dalang dan Koming Weda sebagai anak dalang. Sebagai anak-anak dari I Siap Selem adalah Ayu Yumi, Komang Ary, dan Pande Citra. Yang berperan sebagai anak-anak I Meng Kuwuk adalah Esa Dananjaya, Gunayasa dan Pande Sapriawan.
Yang bertindak sebagai koreografer Nova Jayanti dan Aswin Ananta. Penulis naskah Dwija Badranaya, penata cahaya Dedy Prabu, komposer Putu Afry Hardyana, penata visual efect Yosa Rio danb stage kru adalah Ketut Arya.


Tokoh I Meng Kuwuk dalam drama tari I Siap Selem | Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya
Drama Tari I Siap Selem ini mengadopsi sistem pembabakan gaya pertunjukan drama tari traditional Bali yang terdiri dari Pepeson (awalan), pengawak (isi) dan pekaad (penutup). Dalam pepeson diceritakan seorang kakek yang sedang bercerita kepada cucunya yang sedang menginjak remaja. Cerita yang disampaikan yaitu cerita I Siap Selem.
Permainan ini disi dengan seorang kakek membawa wayang ayam hitam (siap selem) dan sang cucu membawa wayang binatang kucing besar atau sejenis musang (meng kuwuk). Adegan ini disusul dengan sejumlah penari sebagai latar dengan membawa wayang tumbuh-tumbuhan untuk menampilkan suasana hutan.
Pada bagin pengawak diceritakan I Siap Selem sedang berada di tengah hutan sedang mencari makanan bersama anak-anaknya, Mereka bermain dan saling kejar-kejaran sambil berterbangan, sampai ketika salah satu dari anak I Siap Selem yang bernama I Doglagan terjatuh I Doglagan. Dalam adegan ini I Doglagan bersedih karena hanya dia yang belum bisa terbang, karena ia memang belum memiliki bulu. I Siap Selem menghiburnya.
Pada bagian pengawak ini juga diceritakan Meng Kuwuk bersama anak-anaknya. Mereka adalah kucing pemburu ayam. Dan konflik kemudian bergerak ketika terjadi hujan lebat, dan ayam itu berteduh, lalu gerombolan Meng Kuwuk mengintipnya. Setelah ini terjadi adegan-adegan menarik, bagaimana Meng Kuwuk akhirnya bisa diperdaa oleh I Doglagan.

Drama tari I Siap Selem | Foto: Dok. Galeri Indonesia Kaya
Drama Tari I Siap Selem ini pertama kali dipentaskan di Titik Dua, Ubud, Bali. Pentas di Ubud, sanggar ini memainkan alur cerita dan dialog yang mudah dipahami audiens karena hampir 80 persen mempergunakan dialog berbahasa Bali.
Penyesuaian dialog menjadi catatan penting, karena ketika dihadirkan di panggung Galeri Indonesia Kaya tentu aduiens yang hadir dari berbagai daerah. Tentu ini harus disesuaikan kembali agar pesan yang disampaikan mudah untuk dimengerti.
Dialog-dialog yang digunakan tentunya disesuaikan menggunakan dialog berbahasa Indonesia meskipun logat Bali para pemainnya masih begitu kental.
Menjajaki panggung auditorium Galeri Indonesia Kaya tentu merupakan impian besar dan rasa bangga bagi para pemain. Sebelumnya mereka pentas dari banjar ke banjar, dan akhirnya bisa “mencicipi” panggung megah di pusat kota besar Jakarta. Para pemain mengaku lega dan terharu ketika pementasan berakhir dan audient tumpah ruah ke panggung untuk berfoto bersama para pemain.


Bergembira bersama usai pementasan | Foto: Dok. Sanggar Uyah Lengis
Para penonton ada yang bertutur mengenai pertunjukan yang mereka saksikan. Bahkan ada beberapa puisi yang mereka tulis sebagai ungkapan apresiasi mereka terhadap pertunjukan drama tari I Siap Selem ini.
“ Hening senyap, sorak sorai
Seruan yang rasanya tak cukup
Sinergi yang tertata , patut
Makna yang sarat, utuh apik yang tercipta runut “
Oleh : @dpalupiw
“ Jika Seni adalah air,,
Maka mengalirlah,,
Jika seni adalah ledakan…
Maka meledaklah
Teruskan jangan ragu
Menyaksikanmu membuatku semakin bangga pada negeriku
Indonesia
By; @aisyahmghf
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...