Di bawah langit bulan juli Dingin udara terhenti Di sudut rumah diri Menyusup di celah pintu tungku perapian
Kita bergantian Jadi minyak Tak sedikit Tak banyak
“Begitu pekat cemar angin Menusuk dari celah hitam jelaga Mata terpejam Akan datang” katamu lantang
Kita duduk melingkar Jadi dinding penghalang Tak tipis Tak tebal
“Bukankah di sini Muara limbah Bedebah tiada sudah Tumpah di hati para petapa” katamu tak sekali
Dan kita pun bergandengan Jadi mesin daur ulang Tak lebih Tak kurang
2024
BIAR AKU SENDIRI
Jejak yang serupa Mengotori tubuhku O, hujan yang paling bijaksana Mengapa tak kau hapuskan Duka nestapa ini
Igau suara Risau kata-kata Dari bawah kolong meja Dari atas batu paras Dari sela-sela akar Semakin tak mampu menawar hari Seluruh luka bermuara di tubuhku Bagai disayat sembilu
Di bawah terik matahari Aku tak ingat lagi Kapan terakhir kita menari Kapan terakhir kita bernyanyi Diiringi siul burung-burung merbah
Nak, segera langkahkan kakimu Biar aku berdiri sendiri Seperti kokoh batu paras itu Menahan akar-akar perusak jalan purba kita Yang bahkan tak sirna oleh suci tirta
2024
PADANG RAHWANA
Lakuku Padang-padang rahwana Menguras sari pati tubuhmu Pohon tua Yang tercipta dari harum cengkih dan wangi kopi
Maka kidungku Persembahan terakhir Yang kulantunkan dari suara-suara sumbang
Jika akhirnya Kau terima di musim kartika Yang penuh suka pun duka Kumohon sebagai obat-obat penawar Bagi gulma yang menubuh di kebun sukma
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...