TANGIS haru pecah di Gedung Olahraga Angsapura, Medan, setelah Sugita dan Sisca menumbangkan atlet ganda campuran tenis meja Jawa Timur di delapan besar Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024. Setelah mengakhiri pertandingan dengan sengit dan ketat, dengan skor tipis 3-2, Sisca berlari dan memeluk pelatihnya, Dedy Dacosta.
Dedy, pria berkacamata dan berambut putih itu, dengan haru, seperti tak mau melepas pelukan kedua atlet muda yang ia latih. Adegan tersebut terekam oleh panitia penyelenggara. Dan, bisa jadi, momen itu akan selalu diingat, selamanya, dalam sejarah cabang olahraga tenis meja di Bali.
Ya, saat itu, tenis meja ganda campuran Bali melenggang ke semifinal. “Setelah ini kami optimis meraih emas,” ujar Dedy dengan kepercayaan diri yang tak dapat dibendung, Sabtu (14/9/2024) yang lalu.
Dan sehari setelah momen mengharukan itu lewat, di tempat yang sama, medali emas seolah semakin dekat saja, setelah Komang Sugita dan Made Sisca Pratiwi memaksa pasangan Jawa Barat, Taufik-Winda, mengakhiri laga dengan skor 3-1 di laga semifinal, Minggu (15/9/2024) siang yang lalu.
Kemenangan tersebut sekaligus mencatatkan sejarah baru, untuk pertama kalinya, Bali lolos ke final sejak PON diselenggarakan tahun 1948. Artinya, selama 76 tahun, baru kali ini tenis meja Bali lolos ke babak final. Namun sayang, nomor beregu putra, gagal ke semifinal.
Usai laga, Komang Sugita mengaku tidak percaya karena sempat tertinggal di set pertama. Beruntung, di set berikutnya, berkat doa dan usaha, Sugita dan Sisca dapat mengunci pertandingan dengan kemenangan yang mengesankan.
“Pada set ketiga kami sempat tegang karena ketinggalan. Beruntung, kami bisa membalikkan keadaan dan unggul 2-1---meski set keempat sempat unggul lagi dan dikejar empat poin beruntun,” ujar Sugita, masih terengah-engah dan tidak percaya ia dan Sisca melaju ke final.
Di laga final, Sugita dan Sisca kembali bertemu atlet perwakilan Jawa Timur yang lain, yakni Affan Mauluduna dan Dwi Oktaviani. Affan-Vita, tentu saja, sangat diunggulkan dalam laga final kali ini. Mengingat, selain jam terbang, mereka berdua merupakan atlet favorit. Sementara PON 2024 ini merupakan debut bagi Sugita dan Sisca. Mereka berdua dianggap atlet kuda hitam.
Dan benar. Tidak mudah untuk mengalahkan Affan-Vita. Sugita dan Sisca membutuhkan usaha lebih keras dari biasanya. Kejar-kejaran poin menghiasi laga. Silih-berganti kemenangan di setiap set membuat jantung semua orang yang menonton berdebar lebih kencang. Tapi Sugita dan Sisca tak mau dipecundangi. Mereka berdua melakukan perlawanan sengit.
Pada set pamungkas, Sugita-Sisca menggila. Smash tajam menukik dan keras mereka lancarkan, seperti tak memberi kesempatan lawan untuk bernapas. Affan-Vita keteteran, Sugita-Sisca tak peduli. Mereka tetap mengayunkan bet ke arah bola dengan kuat dan menukik. Teknik dan strategi Dedy Dacosta, legenda tenis meja yang pernah mengharumkan nama Indonesia itu, mereka peragakan dengan baik.
Hingga smash keras Odon---panggilan akrab Komang Sugita---tak mampu dibendung oleh Vita, dan itu memastikan Bali meraih medali emas PON XXI Aceh-Sumut. Bali menutup laga final---yang oleh Ketua KONI Bali sangat menegangkan itu---dengan skor 11-6 di set terakhir dan total skor 3-2.
Mencetak Sejarah
Sebagaimana telah disinggung di atas, sejak 1948, cabang olahraga tenis meja Bali tak pernah mendapat medali emas sekali pun. Tapi telur itu akhirnya pecah setelah 76 tahun. Komang Sugita dan Made Sisca Pratiwi menjadi dua atlet pertama yang mencatatkan namanya dalam sejarah tenis meja di Bali---yang berhasil meraih medali emas di pagelaran Pekan Olahraga Nasional.
Tenis meja masuk ke Indonesia pada kisaran tahun 1930-an. Pada masa itu, ping pong dimainkan oleh orang-orang Belanda sebagai sarana hiburan. Baru pada tahun 1939, pemain-pemain tenis meja Indonesia mendirikan organisasi yang disingkat PPPSI atau Persatuan Ping Pong Seluruh Indonesia.
Kemudian PPPSI berubah menjadi PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) pada tahun 1958 saat kongres di Surakarta. Olahraga tenis meja ini pertama kali dilombakan di Indonesia saat ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) di Solo, Jawa Tengah, tahun 1948.
Namun, untuk jejak sejarah tenis meja di Bali sendiri sangat sulit dilacak atau di temukan. Mengingat tak banyak---atau bahkan tak ada sama-sekali---catatan mengenai hal tersebut. Walaupun banyak orang percaya bahwa olahraga ini sudah ada di Bali sejak 1948---untuk pertama kalinya dilombakan di PON.
Tenis meja memang bukan olah raga yang populer layaknya voli atau sepak bola---yang begitu menyita banyak massa. Tapi di kalangan tertentu, termasuk di lingkungan Sugita dan Sisca, tenis meja adalah olahraga favorit. Di Buleleng, tempat asal mereka berdua, tenis meja memiliki tempat tersendiri.
Sugita dan Sisca memang lahir di lingkungan penghobi tenis meja. Sugita karena pamannya. Sedangkan Sisca karena ayahnya. Sejak masih remaja mereka berdua memang sudah intens dengan olahraga yang muncul di Inggris pada abad ke-19, sekitar tahun 1880-an itu. Dan kini, siapa sangka, mereka berdua mempersembahkan emas PON untuk Bali.
“Ini PON pertama kami berdua,” ujar Sisca saat ditemui di acara pembagian bonus kepada atlet dan pelatih Buleleng yang berhasil meraih medali di PON XXI, Kamis (3/10/2024) malam. Benar. Sugita dan Sisca memang atlet debutan di PON. Tapi itu tak membuat nyali mereka ciut. Justru, di luar dugaan, mereka, sekali lagi, dapat mencetak sejarah.
Hal tersebut, tentu saja, membuat Sisca dan Sugita tidak dapat memendam rasa harunya dan berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung mereka selama ini, baik itu dari pelatih, cabor, KONI, rekan-rekan kerjanya di BPKPD dan PDAM Buleleng, dan semua pihak. Karena, prestasi ini, menurut mereka, tidak bisa diraih tanpa dukungan dari banyak pihak.
"Saya dan Kak Odon [Komang Sugita] sudah izin setahun di tempat kerja kami," kata Sisca dengan tawa yang renyah. Saat menjadi atlet, Sisca tercatat sebagai pegawai di BPKPD; sedangkan Sugita merupakan karyawan di PDAM Buleleng.
Dengan raihan emas di cabor tenis meja ini, mereka berdua berharap ini menjadi motivasi bagi atlet lainnya. “Semoga ini menjadi semangat untuk kita semua. Karena emas ini merupakan sejarah untuk tenis meja Bali selama mengikuti PON," ujar Sisca.[T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...