GAUNG gerakan literasi nasional (GLN), yang nyaris identik hanya dengan gerakan literasi sekolah (GLS), sejak sebelum dan setelah pandemi, melemah. Hal ini terjadi karena gerakan literasi bersifat top down. Tidak demikian halnya dengan gerakan literasi komunitas. Terus bergeliat di seluruh pelosok tanah air.
Prinsip-prinsip swadaya, mandiri, lokal, berkelanjutan, sesuai dengan kebutuhan anggota komunitas; rupanya menjadikan gerkan ini tetap tumbuh pada ribuan titik lokasi gerakan literasi. Sebelum populer dengan sebutan gerakan literasi berbasis komunitas, TBM (Taman Bacaan Masyarakat) merupakan praktik literasi di masyarakat. Gerakan literasi masyarakat pun dapat dipilah menjadi dua, yaitu yang berbasis taman bacaan dan yang berbasis komunitas.
Data yang ada di Badan Bahasa menyatakan ada kurang lebih 1500-an gerakan literasi komunitas (termasuk di dalamnya TBM). Dibangun oleh para tokoh pegiat lokal. Para pegiat itu bermukim di tengah-tengah masyarakat dan memiliki perhatian yang besar terhadap arti penting pendidikan literasi bagi masyarakat.
Mereka adalah tokoh-tokoh literasi yang bekerja sendiri dalam “sunyi”. Mereka membangun iklim literasi dari rumah-rumah mereka di desa-desa atau perkampungan yang jauh dari pusat-pusat kota atau ada pula di tengah masyarakat miskin kota.
Pada umumnya mereka berada di pinggiran kota, pedesaan, dan kampung-kampung. Gerakan literasi mereka benar-benar membumi dan bersentuhan langsung dengan masyarakat lokal setempat. Gerakan literasi mereka nyata!
Pada konteks itu, Bali memiliki sebuah desa dengan gerakan literasi komunitas yang bertaraf nasional. Di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali, sejak awal 2017 telah berdiri Komunitas Desa Belajar Bali yang dirintis dan dibangun oleh I Wayan Artika, warga desa setempat dan dosen serta adalah seorang instruktur literasi nasional.
Komunitas ini secara swadaya, mandiri, bertumbuh di desa, dengan berkelanjutan menjalankan gerakan literasi komunitas. Atas sumbangsihnya dalam pembangunan budaya baca di kalangan warga desa secara berkelanjutan; tahun 2024 ini menerima Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Penggerak Literasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta.
Dengan demikian, reputasi komunitas ini dalam gerakan literasi akar rumput, telah diakui secara nasional. Dengan penerimaan bantuan ini, Desa Batungsel semakin dikukuhkan menjadi desa literasi di Bali dan di Indonesia. Desa ini menyumbang pemikiran-pemikiran mengenai praktik baik gerakan literasi di pedesaan. Hal itu tidak lepas dari pendidikan literasi yang dijalankan oleh tim Komunitas Desa Belajar Bali.
Realisasi dana bantuan yang diterima digunakan untuk membiayai kegiatan yang bertajuk "Festival Literasi akaRumput 2024”. Dalam festival yang berlangsung pada bulan Oktober ini, dilakukan kegiatan-kegiatan seperti: (1) seminar mengulas buku, (2) safari pelatihan pengelolaan gerakan literasi berbasis komunitas, (3) lokakarya mestua (mendongeng dalam bahasa Bali), (4) lokakarya membacakan buku, dan (5) lokakarya meresensi buku.
Kegiatan mengulas buku dilaksanakan dengan skema kolaborasi dengan komunitas/club literasi di Kabupaten Buleleng, seperti Komunitas Literasi Bali Utara, Club Pecinta sejarah (Cleo Club), kelompok pengajian mahasiswa muslim, dan organisai kepemudaan.
Safari pelatihan pengelolaan gerakan literasi berbasis komunitas dilaksanakan di lima komunitas, antara lain di Kabupaten Karangasem, Bangli, Gianyar, dan Negara. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk jejaring kerja gerakan literasi berbasis komunitas dan saling berbagi praktik baik dalam kegiatan literasi.
Yang akan disasar dalam kegiatan ini adalah komunitas-komunitas sastra/literasi yang sudah tumbuh. Hasil kegiatan ini diharapkan dihimpun berbagai gagasan dalam menyelenggarakan kegiatan literasi yang dimotori oleh tokoh-tokoh literasi setempat.
Kegiatan berupa lokakarya mestua (mendongeng dalam bahasa Bali) diadakan untuk ibu-ibu/orang tua anak-anak PAUD/TK Kusuma Widyadama di Desa Batungsel. Maksud kegiatan ini adalah melibatkan keluarga dalam kegiatan mesatua di tengah-tengah keluarga. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya diasuh oleh teknologi HP.
Dalam rangka memberi wawasan literasi dini kepada guru-guru PAUD/TK se-Kecamatan Pupuan yang berjumlah 35 orang, diberi lokakarya membacakan buku. Hal ini terdengar sebagai kegiatan yang terlalu umum dan sederhana tetapi pada kenyataannya jarang dilakukan. Sarana berupa buku dan materi cerita atau satua menggunakan koleksi perpustakaan Komunitas Desa Belajar Bali.
Lokakarya meresensi buku diadakan untuk membangun tradisi membaca kritis. Hal ini termasuk pada kegiatan literasi kritis karena praktik membaca buku dipadukan dengan praktik analisis secara kritis atas buku yang dibaca. Kegiatan ini juga termasuk praktik literasi yang lebih kompleks, mengingat akan menghasilkan tulisan berupa ulasan buku.
Adanya bantuan pemerintah kepada Komunitas Desa Belajar Bali yang direalisasikan lewat kegiatan "Festival Literasi akaRumput 2024” menjadi motivasi besar untuk mengembangkan kegiatan literasi yang lebih besar. Hal ini adalah sebagai bonus dalam gerkan literasi karena selama ini, kegiatan pendidikan literasi yang dilakukan secara berkelanjutan itu, bisa dikatakan tanpa dukungan dana. Dana ini sangat membantu pelaksanaan program literasi dan bisa menyediakan berbagai fasilitas kepada peserta.
Dana dalam skema bantuan pemerintah ini adalah wujud nyata perhatian pemerintah dalam mendukung gerakan literasi yang tumbuh di bawah. Dari model kegiatan ini dapat dirumuskan bahwa gerakan literasi di Indonesia dapat dilakukan dengan dua model pendekatan, yakni pendekatan top down dan bottom up.
Komunitas penggerak literasi, sebagaimana halnya Komunitas Desa Belajar Bali, memilih jalan gerakan, bahkan tidak hanya secara bottom up tetapi di akar rumput.[T]
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...