Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
BALAI Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV Bali-NTB bekerjasama dengan Mulawali Institute menggelar sosialisasi hasil kegiatan Analisis Ekosistem Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Dramatari Wayang Wong Tejakula di Hotel The Grand Vilandra Resort, Singaraja, Senin (30/9/2024) pagi hingga sore hari.
Pelaksanaan kegiatan Analisis Ekosistem WBTB ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu penyusunan rancangan riset, survei dan pemetaan pelaku budaya, pengolahan data, sampai sosialisasi hasil. Dari tahap awal sampai akhir tim peneliti membutuhkan waktu sekira enam bulan lamanya.
Acara presentasi hasil riset tersebut mengundang pelaku kesenian Wayang Wong Tejakula, Camat Tejakula, instansi pendidikan---sekolah dan perguruan tinggi---di Kota Singaraja, dan dinas-dinas terkait di lingkungan Pemerintah Buleleng, termasuk Dinas Kebudayaan, yang dinilai berhubungan dengan ekosistem kesenian wayang wong.
Analisis Ekosistem Wayang Wong ini berfokus pada riset mengenai tata interaksi yang saling menunjang antara pelaku, lingkungan sekitar, alam, dan objek-objek pemajuan kebudayaan dalam suatu kawasan tertentu yang membentuk rangkaian rantai-aksi (culture cycle) yang menopang berjalannya keseluruhan ekosistem budaya.

Kadek Anggara (kiri), Putu Ardiyasa (tengah), dan Wayan Sumahardika (kanan) saat mempresentasikan hasil Analisis Ekosistem Wayang Wong Tejakula | Foto: tatkala.co/Hizkia
Selain itu, jika ditilik lebih detail, kegiatan ini juga bertujuan untuk memetakan, menganalisis, mengurai, ekosistem kesenian Wayang Wong Tejakula dari segi kreasi, manajemen dan produksi, distribusi, konsumsi, sampai apresiasinya. Penelitian ini juga diharapkan dapat menyusun rencana tindak lanjut atas ditetapkannya Wayang Wong Tejakula sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
“Laporan penelitian ini dikerjakan berdasarkan kajian pustaka, observasi, dan wawancara dengan para pelaku Wayang Wong Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabuapten Buleleng,” ujar Putu Ardiyasa, peneliti dari STAHN Mpu Kuturan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menurut Wayan Sumahardika, Direktur Mulawali Institute, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diketahui terkait pelaksanaan kegiatan Analisis Ekosistem WBTB ini. Pertama, pemetaan ekosistem OPK dan sebuah pembacaan kebudayaan secara makro, bukan mikro---atau yang hanya sebatas persoalan sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalam kesenian tersebut yang narasinya terus diulang-ulang.
Kedua, sebagai rekomendasi rencana-aksi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Hal ini sebenarnya sangat memudahkan dinas-dinas terkait dalam membuat program kerja yang berkaitan dengan Wayang Wong Tejakula. Ketiga, penyelarasan OPD di Buleleng.
“Analisis Ekosistem ini sesuai dengan Pasal 43 dan 44 UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Bahwa pemerintah pusat dan daerah bertugas dan berwenang melaksanakan pemajuan kebudayaan, mengelola informasi di bidang kebudayaan, menyediakan sarana dan prasarana kebudayaan, menyediakan sumber pendanaan untuk pemajuan kebudayaan, mendorong peran aktif dan inisiatif masyarakat dalam pemajuan kebudayaan, dan seterusnya,” terang Abi Kusno, Kepala BPK Wilayah XV.
Rekomendasi Rencana-Aksi
Mengacu pada Laporan Penelitian Ekosistem Wayang Wong Tejakula (2024), rekomendasi rencana-aksi, atau rekomendasi program, dibagi menjadi tiga rentang waktu, yakni jangka pendek, menengah, dan panjang. Program-program tersebut kemudian dituangkan berdasarkan konteks perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan---sebagaimana amanat UU Pemajuan Kebudayaan.
Salah satu program jangka pendek (2025-2027) dalam hal perlindungan, misalnya, tim peneliti Mulawali Institute merekomendasikan program inventarisasi pengetahuan Wayang Wong Tejakula, seperti lakon cerita, tokoh dan karakter, tabuh, tembang, pelaku, dan pura atau situs penyelenggaraan Wayang Wong Tejakula.
Program di atas didasarkan atas persoalan pengetahuan Wayang Wong Tejakula yang belum tertata dengan baik dan sistematis. Tapi jika inventarisasi dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka pencatatan dan pengarsipan pengetahuan Wayang Wong Tejakula dapat membuka ruang fasilitasi bagi masyarakat untuk dapat mempelajari pengetahuan, seluk-beluk, kesenian tersebut.

Beberapa seniman Wayang Wong Tejakula menghadiri kegiatan sosialisasi Analisis Ekosistem Wayang Wong Tejakula | Foto: tatkala.co/Hizkia
Dan untuk program perlindungan jangka menengah, salah satu hal yang direkomendasikan peneliti adalah dokumentasi pertunjukan, tokoh-tokoh yang ada dalam cerita Wayang Wong Tejakula, pakaian, tapel, termasuk figur seniman yang berperan aktif dalam pelestarian wayang wong di seluruh Bali melalui publikasi tulisan di media website, audio-visual di media sosial, medium film-tari, dan film dokumenter.
Hal tersebut menjadi penting dilakukan sebab selama ini masih minimnya informasi yang terpadu dan aksesibilitas terkait OPK Wayang Wong Tejakula, sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, kesulitan mendapatkan akses informasi yang menarik.
Namun, dalam proses diskusi rencana-aksi ini, setidaknya ada dua program yang menurut pelaku kesenian Wayang Wong Tejakula penting untuk dikawal sampai terealisasi. Program pertama tertuang dalam rencana perlindungan jangka pendek, yaitu program terkait sarana dan prasarana Wayang Wong Tejakula. Menurut laporan penelitian, sarana-prasarana tersebut belum lengkap dan beberapa perlu untuk diperbarui.

Suasana kegiatan sosialisasi Analisis Ekosistem Wayang Wong Tejakula | Foto: tatkala.co/Hizkia
“Bantuan tapel [topeng] dan gelungan [hiasan kepala] ini sangat kami butuhkan, karena usianya sudah tua dan sudah rusak. Pelatihan untuk pelaku seni Wayang Tejakula juga penting,” ujar Ketut Sweta Swatara, seniman Wayang Wong Tejakula.
Selain bantuan sarana dan prasarana, dalam program perlindungan jangka panjang, memberikan jaminan sosial berdasarkan proses pendataan pelaku wayang wong melalui optimalisasi BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, dan bantuan sosial lainnya juga menarik pelaku kesenian tersebut untuk menanggapinya.
“Langkah apa saja yang harus tyang siapkan untuk mendapatkan bantuan BPJS?” tanya Ketut Widiastra dari Sekaa Wayang Wong Tejakula.
Sampai di sini, apa yang dilakukan BPK Wilayah XV dan Mulawali Institute adalah usaha mendukung eksistensi Wayang Wong Tejakula, kini, dan di masa yang akan datang dengan berdasar pada riset kondisi realitasnya di lapangan. Sehingga, program-program yang direkomendasikannya pun sesuai dengan kebutuhan pelaku kesenian dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...