Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
I KADEK DENGANG masih berdiri tegap di tengah terik matahari siang yang menyengat. Topeng Hanoman dipegangnya sangat erat di tangan kanan, sebagaimana para penabuh, teman-temannya, juga melawan panas dan memegang alat musik agaknya berat.
Ya, ia hari ini melakonkan Hanoman—dan teman-temannya mengiringinya musik dalam rangka kampanye Pilkada pada Minggu, 29 September 2024--- sambil berdiri.
Acara itu dilakukan di Gedung Serba Guna Banjarasem, Seririt, dalam rangka kampanye Giri-Koster, untuk calon gubernur dan wakil gubernur Bali, juga calon bupati Buleleng Sutjidra dan wakilnya Supriatna. Mereka dari partai merah yang sama, PDI-P sebagai pengusung.
Dan tak sedikit pun Dengang melipir dari panas matahari—dan bayangannya pun masih bertahan di tanah moyangnya, walaupun wajahnya mengkerut tak tahan. Keringat berjatuhan luar biasa, dan tak terbayangkan—bagaimana kostum yang ia pakai memberinya hawa panas pada tubuh. Gerah.
Tapi ia menari dengan sangat lincah—sebagaimana tokoh Hanoman, ia menggeliat melakonkan tokoh itu ketika sang calon sudah datang. Menyambut.

I Kadek Dengang bersama para penabuh | Foto: tatkala.co/Son
Di tengah dupa masih mengeluarkan asap di atas banten, tanda mengaturkan doa kepada Tuhan, asap melayangkan harapan baik kepada para calon pemimpin yang datang, maupun kepada semua orang yang hadir.
Penyambutan, selain dilakukan secara seremonial, tetapi juga sakral. Bahkan sangat sakral. Mantra terus keluar untuk keselamatan dari para pemangku, orang-orang suci.
“Saya bertahan [dari panas] karena saya melihat beliau [calon gubernur yang baru saja dijemputnya] dapat dipercaya. Dan saya berharap, mereka bisa membawa nama Bali dan Buleleng go internasional, khususnya untuk seni. Ya, seni tari, gong kebyar. Intinya kesenian di Bali,” kata I Kadek Dengang, pelakon Hanoman sekaligus pelatih tari dari Komunitas Seni Werdhi Paramitha.

I Kadek Dengang, pemeran Hanoman yang bertugas menyambut calon gubernur dan wakil gubernur | Foto: tatkala.co/Son
Biasanya, kalau di cerita Ramayana, Hanoman memiliki tugas menjemput Dewi Sinta dari Rahwana. Menjemput ke Alengka, dan mengantarkannya ke pelukan Rama. “Tapi di momen ini, saya sebagai Hanoman memiliki tugas mengantarkan [calon] pemimpin untuk menuju kesuksesan dan mengarahkan masyarakat untuk mendukung si calon itu,” lanjutnya Dengang.
Dan apa yang membuatnya bertahan dari panas, juga keringat yang mengocor—membuat gerah, adalah harapan. “Ya, harapan! Untuk Bali lebih maju,” tegas Dengang menyatakan dirinya sangat percaya.
Di acara itu, Koster dan Giri juga tampak bersemangat di tengah lautan manusia penuh usia yang menahan penat sedari jam 11.00 sampai acara selesai. Selain joget-joget menghibur warga—sambil karaokean, mereka, Koster-Giri, beserta dengan calon bupati dan wakil bupati satu koalisi, menghanturkan beberapa program—yang sudah menjadi andalannya.
Seperti, kesehatan gratis, pendidikan gratis---dan tak tanggung-tanggung, dari TK sampai SMA, dan tentu, kata Giri Prasta, calon wakil Koster itu, bahwa anggaran untuk Kabupaten Buleleng akan lebih ngejoss lagi, yaitu 500 miliar dan semua berteriak—menyala wiiiii….
“Jika terpilih, minimal 500 miliar PHR [Pajak Hotel dan Restoran] Kabupaten Badung tyang [saya] akan berikan kepada kepada Kabupaten Buleleng,” janji Giri Prasta, calon Wakil Gubernur pasangan Wayan Koster.

Suasana kampanye Koster-Giri dan Sutjidra-Supit | Foto: tatkala.co/Son
Janji itu tak hanya berhenti di sana, sebagaimana teriakan “Menyala Wiii..”—jargon Koster-Giri berkumandang panjang dari pendukungnya sambil angkat dua jari dan sedikit jingkrak-jingkrak di kursi. Lebih penting, terkait lahan pertanian sebagaimana di Buleleng banyak menghasilkan hasil bumi; anggur, garam, padi, dan lain sebagainya.
Wayan Koster dan Giri Prasta sangat siap untuk membebaskan beban pajak bangunan kepada warga Buleleng, dan bahkan, “Tyang mewakafkan diri tyang kepada Buleleng. Tyang jaminannya..” kata Giri Prasta dengan wajah tulus.
Menutup kampanye, Ida Ayu Ketut Devi Ari Apriani (9), Natalia (10), dan Davina (10) sudah stau jam lalu ia menjaga tubuhnya tetap rapi. Make up yang mereka kenakan tak sedikit pun berubah karakternya. Wajahnya dibubuhi keceriaan. Mereka menutup kampanye itu dengan menarikan Sampi Grumbungan dengan sangat lihai.
Tarian itu berasal dari Buleleng, tepatnya dari Banjar Dinas Dangin Pura, Desa Panji—yang diwariskan oleh Gusti Mangku Wija. Dan Devi, Natalia, dan Davina menarikannya dengan sangat teatrikal. Sebagaimana tarian tersebut menceritakan penggembala sapi yang menggembala dengan cara gembira. Sederhana dan bersahaja.

Penari cilik Sampi Gerumbungan: Ida Ayu Ketut Devi Ari Aprianti (tengah), Natalia (kiri), Deviana (kanan) | Foto: tatkala.co/Son
“Menceritakan seorang penggembala sapi, yang sedang mengajak sapi-sapinya bermain, dan agar tidak terlalu jauh perginya. Jadi, ditariannya itu tergambarkan riang-gembira, dari gerakan yang energik, yang powernya bagus—yang gede powernya [untuk menghasilkan gerakan gembira] itu ditekankan pada tarian ini,” kata Ida Ayu Ketut Devi Ari Apriani, pemeran pengatik [penggembala] pada tarian Sampi Gerumbungan, dengan cermat menjelaskan.
Sementara temannya, Natalia dan Davina, memeragakan dirinya sebagai sapi yang ceria. Dan itu, mereka menarikannya dengan baik dan kompak. Sehingga, orang-orang muda hingga tua menepukinya dan sorak apresiasi, dan yang paling penting, mengembalikan pesta demokrasi ini kepada suasana yang menyenangkan---dan mengembalikan pada marwahnya: visi-misi yang realistis.
Setelah acara benar-benar selesai, tetabuhan yang dibunyikan oleh Komunitas Seni Werdhi Paramitha keluar—sambil melakukan yel-yel sangat kompak:
Koster Giri Gubernur Bali
Joss24 Bupati Buleleng
Jeg paten!
Jeg Paten!
Menyala wii…[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...