malam kian letih engkau gadisku, tertidur di pangkuan sajak kau baringkan segenap penat
kilau rambutmu membias dihembus angin liar mengalun bagai orkestra rindu menari-nari dalam gesekan harpa begitu lembut, seakan lentik jemarimu menghitung garis-garis cahaya
engkau gadisku, hadirkan pesona rindu menyusup di antara larik malam kutuangkan desah napasmu dalam cawan mimpi meski puisiku lebih hidup dalam nafasmu entah di mana bedanya, rindu dan gelisah sama-sama memancar makna di bening matamu ingin kusatukan itu dalam rak ingatanku mengudapnya, hingga sayap sajakku patah
engkau gadisku, tidurlah dalam buaian sajakku mengarungi hari demi hari biarkan matahari yang menghitungnya
Malang, 2024
Gadis (2)
melingkar malam di sepi bangkumu wajah rembulan menyapa tatapanmu seakan membaca keresahanmu
engkau gadisku, menebar rindu merebak di cahaya malam sinar itu, menikam keindahan aromamu hingga serangga malam terkesima rentangkan jejaring angin, satukan cahaya
engkau gadisku, panorama malam tak lekang didera angin tak pupus dibasuh cemas tak goyah diterpa prahara sekujur tubuhmu, meluap kenangan semerbak wangi, hilangkan keraguanku
engkau gadisku, di benang rindu kusulam kegelisahanmu menggelar bingkai, kupuisikan namamu hingga bait-baitku jatuh terlelap aku memeluk bayanganmu di tempayan mimpi
biru langit mulai beranjak meninggalkan sebongkah gelisah nyanyikan syair langit yang belum sempat kutulis
engkau gadisku, lekuk tubuhmu serupa diksi meramu mimpi menuju kesempurnaan dan kueja sebatang mawar, tinggalkan tradisi kusatukan cahaya di lentik matamu hitam dan putih, menjadi bait rindu di setiap kalimat yang menggigil kuyup hingga kabut sutera malam bagaikan selimut rindu berlari pancarkan pesona rembulan seperti rona wajahmu bersembunyi di kolong-kolong mimpiku
Malang, 2024
Langit Merah Jakarta
senja rapuh, rebah di pangkuan cakrawala lalu lalang manusia serupa gemintang tanpa cahaya kata-kata pun beranjak merangkai diksi memurkai lorong-lorong persembunyian haruskah puisi berdiam diri menatap kelap-kelip lampu di setiap sudut kota yang mungkin tak pernah tertidur menyala membara di tungku perapian bangkitkan gairah ingatan seakan ingin membakar langit dari bisingnya jelaga waktu pun beringsut penat tinggalkan pematang jalan di simpang jalan, bangku-bangku mulai sepi angin hening tertunduk malu bertirakat dalam kata-kata lalu mengeja, kota Jakarta kelak langit merah memayunginya
Malang, 2024
Melankolia Pagi
terkadang ada pagi yang indah ditinggalkan embun menguap tanpa jejak hanya tersisa aroma bunga menusuk di lekuk tubuhmu hingga tatapanku terkesima sekuntum cahaya datang menyapa lembut dan aku tahu, angin akan mencabiknya
Malang, 2024
Gadis Berpita Jingga
tatapanmu terkesima langit seakan ingin menerobos putihnya sinar pikiranmu berkelana menggapai angan menelungkup di tepian telaga bertilam angin perlahan beranjak, tinggalkan sutera selimut malam setelah melumat semua keindahan mimpi
di tengah kerinduan itu, engkau gadis berpita jingga matamu menghunjam batas pandang berkelindan menembus pekatnya malam hingga lentik alis matamu terkulai ‘kaubaringkan segenap penat pada tempayan mimpi setelah waktu tersungkur, ringkih rebah di pangkuan senja
di tepian telaga, riak air mulai membisu engkau gadis berpita jingga menerka arah angin kemarau pergi, terlunta-lunta di atas bahu angin genggaman aroma tubuhmu mulai rapuh tertusuk rindu di antara garis-garis cahaya
kini, anganmu tertidur pulas sebelum pesona malam hadir kembali dan gesekan biola mengalun lembut mengiringinya bagai embuskan buaian rindu di antara jemari ilalang senandungkan asmaradana dalam dekapan kegelisahan hatimu air telaga pun menyusup disela jenjang kakimu menghentak lamunan kunang-kunang seakan ingin menerka apa yang tersimpan dalam dadamu
malam terlalu letih untuk bersimpuh seringkas mimpi, menjemput sinar pagi cahaya melesat, hangatkan rerumputan
di kejauhan atap rumah, sepasang merpati bercengkerama seperti membaca keresahan hatimu lalu dituangkan ke dalam bejana waktu hingga puisiku tersungkur, tak mampu lagi mengeja makna cinta
Malang, 2024
Sketsa Rindu
dekaplah keraguanku mengudar dari sepasang ingatan retak semusim aku telah linglung berjalan menyusuri kota yang tertidur mataku senantiasa terantuk, puing-puing distopia
hari-hari berlari jadi pengembaraan panjang aku menengadah, di atas sana bangkai matahari menghunus tajam sorotnya perih dan sesakkan dada seakan menjelma mantra sihir entah datang dari mana kerikil pun mendera telapak kaki bagai segumpal aksara luka
aku mulai kehilangan makna wajahmu samar, seperti lukisan abstrak semua rindu berganti rupa, sunyi jari-jari tanganku serupa tarian delusi apakah sajak telah menisbatkan kemurkaan
hari ini, sisa-sisa musim menyampul waktu dari lorong kesunyian asap-asapnya menggaris aksara mengalir, lenyap di hujan legam parasnya, tembok-tembok pengap tidak ada lagi lisan mampu kuucapkan nalar menjelma sketsa angan tak berwujud kerinduan menggumpal, tersekat di pangkuan cemas sajakku terkulai, berulang kali kubaca:
--- engkau adalah akhir dari awal ceritaku, dan aku adalah penggalan duka, saat engkau menyudahi rindu —
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...