MASA lalu adalah satu keniscayaan dari setiap orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Masing-masing memiliki kisah masa lalu yang menjadi bagian dari sejarah. Bentuknya bisa berupa peristiwa, bangunan, tempat ibadah, maupun ketokohan.
Sejarah bukan hanya berupa catatan maupun dokumentasi yang ditulis dalam buku. Sejarah juga bukan sekadar cerita dari generasi tua kepada yang muda. Orang dapat menikmati sejarah dalam bentuk perjalanan wisata.
Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah yang terbentang dari ujung barat hingga ke timur. Minat orang untuk mengunjungi objek wisata sejarah pun belakangan mulai meningkat. Artinya, perjalanan wisata tidak semata mengeksplorasi alam, tetapi juga merekonstruksi masa lalu.
Banyak ragam objek wisata sejarah. Paling populer dikenal dan dikunjungi wisatawan adalah candi. Borobudur merupakan candi terbesar di dunia yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra, memiliki nilai sejarah besar bagi bangsa Indonesia. Borobudur menjadi tempat ibadah umat Budha dari berbagai negara.
Candi Prambanan merupakan objek wisata sejarah sekaligus budaya dan agama. Legenda Roro Jonggrang dan sendratari Ramayana menjadikan Prambanan menjadi incaran wisatawan. Selain bernilai sejarah, Prambanan juga merupakan tempat ritual bagi umat Hindu.
Benteng peninggalan kolonial menjadi objek wisata sejarah yang sering dikunjungi wisatawan. Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah berupa benteng. Sebut saja Benteng Fort Rotterdam di Makassar, Benteng Vredeburg di Yogya, serta benteng pendem yang ada di beberapa daerah.
Kota tua banyak diminati wisatawan. Apalagi kini kota tua dikemas menjadi objek wisata sejarah yang instagramable. Kota Tua di Jakarta merupakan objek wisata sejarah yang terdiri dari berbagai spot, seperti museum, taman, dan pelabuhan. Kota Tua Semarang, Jawa Tengah memiliki bangunan kuno yang bersejarah dan ikonik.
Tempat ibadah berbagai agama di Indonesia juga menjadi tujuan wisata sejarah. Banyak masjid peninggalan Walisongo di Jawa yang ramai dikunjungi wisatawan, baik untuk kepentingan rekreasi maupun ibadah. Begitu pula dengan Pura, Kelenteng, maupun gereja yang bernilai sejarah karena dibangun ratusan tahun silam.
Motif Berwisata
Wisatawan mengunjungi objek wisata sejarah dengan berbagai alasan. Motif kognitif menjadi salah satu alasan. Wisatawan ingin mempelajari kehidupan suatu masyarakat atau bangsa di masa lalu. Ada tambahan wawasan yang diperoleh wisatawan.
Motif imajinatif juga menjadi alasan orang berwisata ke tempat-tempat bersejarah. Orang akan membayangkan heroisme tokoh yang terlibat dalam peristiwa sejarah masa lalu. Imajinasi tentang objek wisata sejarah akan membuat wisatawan seolah menjadi bagian dari pelaku sejarah.
Objek wisata sejarah mampu membangkitkan motif afektif wisatawan. Muncul perasaan bangga pada perjuangan tokoh ketika mengunjungi objek wisata. Diorama yang ada di museum maupun monumen perjuangan dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan bangga pada sosok pahlawan.
Mengunjungi objek wisata sejarah juga dapat membangkitkan motif aktualisasi diri. Wisatawan merekonstruksi sejarah melalui tempat, peristiwa, maupun tokoh di masa lalu. Melalui heroisme tokoh yang disaksikan di satu monumen atau museum, wisatawan terinspirasi untuk menjadi seperti tokoh itu. Wisatawan kemudian ingin mengaktualisasikan diri dengan membuat sejarah baru; misalnya ingin menjadi tokoh atau pahlawan di bidang keahlian yang dimilikinya.
Do’s and Don’ts
Wisata sejarah sangat sensitif terhadap kerusakan benda-benda bersejarah serta perilaku negatif wisatawan selama berkunjung. Oleh karena itu perlu langkah-langkah pemajuan dan pelestarian wisata sejarah, baik oleh pengelola maupun wisatawan.
Pengelola objek wisata sejarah perlu menjaga keaslian benda-benda peninggalan sejarah. Jangan sampai, lantaran tergoda oleh tren wisatawan yang ingin swafoto di objek wisata, tampilan bangunan bersejarah dipugar atau ditambahi spot foto yang justru mengurangi nilai keasliannya.
Peningkatan angka kunjungan objek wisata sejarah juga perlu diupayakan pihak pengelola. Hal itu bermanfaat untuk mengenalkan warisan sejarah kepada wisatawan. Selain itu, retribusi yang diperoleh dari wisatawan dapat memberi kontribusi pada perawatan benda-benda bersejarah.
Do’s and Don’ts berupa aturan atau larangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wisatawan perlu dinformasikan. Wisatawan wajib menjaga kebersihan di objek wisata sejarah, agar tidak menimbulkan kesan kotor dan kumuh.
Perilaku negatif wisatawan dapat dicegah dengan adanya Do’s and Don’ts. Kadang terjadi vandalisme yang dilakukan wisatawan di objek wisata sejarah. Vandalisme bisa dalam bentuk corat-coret di objek wisata, merusak benda bersejarah, maupun mencuri.
Tata tertib berkunjung perlu dilakukan secara ketat kepada wisatawan. Objek wisata sejarah biasanya memiliki waktu operasional yang berbeda dengan objek wisata lain. Begitu pula dengan benda-benda yang boleh dan tidak boleh dibawa ke dalam objek wisata.
Objek wisata sejarah biasanya mewajibkan wisatawan untuk bersikap, berkata, dan berperilaku yang sopan. Apalagi banyak objek wisata sejarah yang disakralkan oleh masyarakat. Begitu pun wisata sejarah yang bernilai agama, perlu adab yang baik dari wisatawan. Melalui wisata sejarah wisatawan bukan hanya menyaksikan warisan sejarah yang tak ternilai harganya, tetapi juga dapat mempelajari jati diri suatu bangsa. Sejarawan Amerika David McCullough menyebutkan, sejarah adalah siapa kita, dan mengapa kita seperti ini.[T]
*Tulisan ini adalah Catatan untuk Diskusi Federasi Teater Indonesia, TIM, Senin 26 Desember 2016
HARUSKAH teater bertanggungjawab? Mengapa? Kepada siapa? Lagian untuk apa? Bukanka...
DI sejumlah tempat di Denpasar, misalnya di sepanjang Jalan Sudirman, sejumlah pedagang terompet meraup rejeki musiman menjelang Tahun Baru 2017. Bahkan mereka telah berhasil mendu...
AKU terlahir dari rahim seorang wanita mulia yang kusebut ibu. Mungkin bagi sebagian orang menyebutnya dengan sebutan berbeda seperti mama, mami, meme, bunda, umi, dan inak. Tapi s...
MAHASISWA adalah siswa tingkat paling akhir di jagat raya ini. Ya, memang. Untuk itulah ia diberikan label ‘maha’, yang tidak sembarang bisa dipakai. Maha karya; karya yang besar...
UNTUK SEMALAM DI GEREJA FRANSISKUS XAVERIUS, KUTA
Jika kau lahir di kamarku
mungkin manusia tak mengenal
apa sesungguhnya perkara hidup
Jika kau lahir d...
SEBAGAI jurnalis, saya sering bertemu dan berkenalan dengan banyak orang - dengan latar ideologi, agama, etnis, atau kebiasaan yang bermacam-macam.
Saat bertemu penyamun, tukang b...
Cerpen: Satia Guna
Sendirian, aku masih sendirian, menanam puluhan rindu dalam hati. Memandang percikan cahaya dari bingkai foto itu. Mengingatkan aku denganmu, pada belahan hati y...
JANGAN suka tertawa dengan nada meremehkan jika melihat ibu-ibu naik motor dengan arah belok tak terduga, semisal nyala reting kiri tapi beloknya ke kanan. Coba lihat saat mereka b...
PUISI “Kembalikan Indonesia Padaku” karya penyair Taufiq Ismail menjadi puisi wajib dalam Lomba Menyanyikan Puisi yang digelar Komunitas Kertas Budaya, Jembrana, Bali, 3-4 Februari...
SAYA tergelitik membaca berita di salah satu media online Nasional. “Jokowi: Banyak yang susah membedakan hujatan dan kritik” begitu kira-kira judulnya. Saya pikir memang benar. Ak...