Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
MASA lalu adalah satu keniscayaan dari setiap orang, masyarakat, bangsa, dan negara. Masing-masing memiliki kisah masa lalu yang menjadi bagian dari sejarah. Bentuknya bisa berupa peristiwa, bangunan, tempat ibadah, maupun ketokohan.
Sejarah bukan hanya berupa catatan maupun dokumentasi yang ditulis dalam buku. Sejarah juga bukan sekadar cerita dari generasi tua kepada yang muda. Orang dapat menikmati sejarah dalam bentuk perjalanan wisata.
Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah yang terbentang dari ujung barat hingga ke timur. Minat orang untuk mengunjungi objek wisata sejarah pun belakangan mulai meningkat. Artinya, perjalanan wisata tidak semata mengeksplorasi alam, tetapi juga merekonstruksi masa lalu.
Banyak ragam objek wisata sejarah. Paling populer dikenal dan dikunjungi wisatawan adalah candi. Borobudur merupakan candi terbesar di dunia yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra, memiliki nilai sejarah besar bagi bangsa Indonesia. Borobudur menjadi tempat ibadah umat Budha dari berbagai negara.
Candi Prambanan merupakan objek wisata sejarah sekaligus budaya dan agama. Legenda Roro Jonggrang dan sendratari Ramayana menjadikan Prambanan menjadi incaran wisatawan. Selain bernilai sejarah, Prambanan juga merupakan tempat ritual bagi umat Hindu.
Benteng peninggalan kolonial menjadi objek wisata sejarah yang sering dikunjungi wisatawan. Indonesia banyak memiliki objek wisata sejarah berupa benteng. Sebut saja Benteng Fort Rotterdam di Makassar, Benteng Vredeburg di Yogya, serta benteng pendem yang ada di beberapa daerah.
Kota tua banyak diminati wisatawan. Apalagi kini kota tua dikemas menjadi objek wisata sejarah yang instagramable. Kota Tua di Jakarta merupakan objek wisata sejarah yang terdiri dari berbagai spot, seperti museum, taman, dan pelabuhan. Kota Tua Semarang, Jawa Tengah memiliki bangunan kuno yang bersejarah dan ikonik.
Tempat ibadah berbagai agama di Indonesia juga menjadi tujuan wisata sejarah. Banyak masjid peninggalan Walisongo di Jawa yang ramai dikunjungi wisatawan, baik untuk kepentingan rekreasi maupun ibadah. Begitu pula dengan Pura, Kelenteng, maupun gereja yang bernilai sejarah karena dibangun ratusan tahun silam.
Motif Berwisata
Wisatawan mengunjungi objek wisata sejarah dengan berbagai alasan. Motif kognitif menjadi salah satu alasan. Wisatawan ingin mempelajari kehidupan suatu masyarakat atau bangsa di masa lalu. Ada tambahan wawasan yang diperoleh wisatawan.
Motif imajinatif juga menjadi alasan orang berwisata ke tempat-tempat bersejarah. Orang akan membayangkan heroisme tokoh yang terlibat dalam peristiwa sejarah masa lalu. Imajinasi tentang objek wisata sejarah akan membuat wisatawan seolah menjadi bagian dari pelaku sejarah.
Objek wisata sejarah mampu membangkitkan motif afektif wisatawan. Muncul perasaan bangga pada perjuangan tokoh ketika mengunjungi objek wisata. Diorama yang ada di museum maupun monumen perjuangan dapat membangkitkan rasa nasionalisme dan bangga pada sosok pahlawan.
Mengunjungi objek wisata sejarah juga dapat membangkitkan motif aktualisasi diri. Wisatawan merekonstruksi sejarah melalui tempat, peristiwa, maupun tokoh di masa lalu. Melalui heroisme tokoh yang disaksikan di satu monumen atau museum, wisatawan terinspirasi untuk menjadi seperti tokoh itu. Wisatawan kemudian ingin mengaktualisasikan diri dengan membuat sejarah baru; misalnya ingin menjadi tokoh atau pahlawan di bidang keahlian yang dimilikinya.
Do’s and Don’ts
Wisata sejarah sangat sensitif terhadap kerusakan benda-benda bersejarah serta perilaku negatif wisatawan selama berkunjung. Oleh karena itu perlu langkah-langkah pemajuan dan pelestarian wisata sejarah, baik oleh pengelola maupun wisatawan.
Pengelola objek wisata sejarah perlu menjaga keaslian benda-benda peninggalan sejarah. Jangan sampai, lantaran tergoda oleh tren wisatawan yang ingin swafoto di objek wisata, tampilan bangunan bersejarah dipugar atau ditambahi spot foto yang justru mengurangi nilai keasliannya.
Peningkatan angka kunjungan objek wisata sejarah juga perlu diupayakan pihak pengelola. Hal itu bermanfaat untuk mengenalkan warisan sejarah kepada wisatawan. Selain itu, retribusi yang diperoleh dari wisatawan dapat memberi kontribusi pada perawatan benda-benda bersejarah.
Do’s and Don’ts berupa aturan atau larangan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wisatawan perlu dinformasikan. Wisatawan wajib menjaga kebersihan di objek wisata sejarah, agar tidak menimbulkan kesan kotor dan kumuh.
Perilaku negatif wisatawan dapat dicegah dengan adanya Do’s and Don’ts. Kadang terjadi vandalisme yang dilakukan wisatawan di objek wisata sejarah. Vandalisme bisa dalam bentuk corat-coret di objek wisata, merusak benda bersejarah, maupun mencuri.
Tata tertib berkunjung perlu dilakukan secara ketat kepada wisatawan. Objek wisata sejarah biasanya memiliki waktu operasional yang berbeda dengan objek wisata lain. Begitu pula dengan benda-benda yang boleh dan tidak boleh dibawa ke dalam objek wisata.
Objek wisata sejarah biasanya mewajibkan wisatawan untuk bersikap, berkata, dan berperilaku yang sopan. Apalagi banyak objek wisata sejarah yang disakralkan oleh masyarakat. Begitu pun wisata sejarah yang bernilai agama, perlu adab yang baik dari wisatawan. Melalui wisata sejarah wisatawan bukan hanya menyaksikan warisan sejarah yang tak ternilai harganya, tetapi juga dapat mempelajari jati diri suatu bangsa. Sejarawan Amerika David McCullough menyebutkan, sejarah adalah siapa kita, dan mengapa kita seperti ini.[T]
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...