“APA makna Galungan buatmu?” tanya Wedia kepada Olog.
“Jawaban serius atau becanda?” Olog memberi opsi.
“Ya, keduanya!” jawab Wedia.
“Becanda dulu, ya. Hehehe. Dulu saat masih anak-anak, saat hidup masih susah---susah makan, susah beli baju baru, susah pergi rekreasi, Galungan adalah momen untuk makan enak daging babi. Lawar, tum, sate, jukut balung isi nangka atau atau don blimbing, urab kacang panjang, kadang komoh. Satenya saja ada dua, sate daging dan sate lilit nyuh. Itu cuma sekali dalam enam bulan. Galungan adalah jadwal beli baju baru dan saat manis Galungan sudah pasti plesir ke kota, ke air panas Banjar, air Sanih, pabean, atau ke kebun raya Bedugul,” terang Olog.
“Apa lagi candaanmu?” tanya Widia.
“Saat ini, saat kita sudah pada kaya, Galungan menemukan kita dengan keluarga. Untuk bisa kaya kita harus pergi jauh dari keluarga. Apalagi kalau di desa tidak punya kebun atau sawah yang luas, untuk hidup mandiri mau tak mau harus merantau. Itu membuat kita terpisah jauh dengan keluarga. Apalagi saudara kita yang memilih bekerja di kapal pesiar di Amerika atau Eropa, Galungan pun belum tentu bisa pulang. Mungkin perlu beberapa Galungan untuk bisa bertemu lagi dengan kerabat dan sanak keluarga, sahabat atau tetangga."
“Candaan yang kedua sudah mulai terasa serius. Lalu makna seriusnya apa, Log?”
“Oh, dengan memberi label sebagai kewajiban, itu menjadi hal yang serius?”
“Hehehe, betul. Kewajiban membuat apa pun menjadi serius, bahkan seram. Pernah dengar sekelompok orang yang mengklaim sedang menjalankan kewajiban agama merasa perlu menghentikan kendaraan lain, bahkan dengan cara paksa dan memukulnya? Konon itu perintah para dewa.”
Wedia mengangguk-angguk, lalu menggeleng-geleng kecewa.
Olog melanjutkan. “Sementara alasan candaanku di atas, begitu terasa sebagai hak. Suasana yang begitu membahagiakan, sepenuhnya.”
“Itu artinya kalau kita tidak melaksanakan ibadah Galungan berarti tidak menjalankan kewajiban agama?” Wedia menimpalinya.
“Begitulah menurut kebanyakan orang. Padahal sehari-hari kita bisa bertemu orang lain. Di kantor, di balai RT, di pasar atau antre di bank.”
“Maksudmu, itu juga ibadah?”
“Oh ya, pasti. Jika kau perlakukan orang yang kau temui itu dengan baik dan penuh rasa kemanusiaan. Melayani dengan baik dan sepenuh hati yang ada urusan di kantormu, menghargai pendapat yang lain di balai RT, membantu mengangkat barang seorang ibu yang keberatan di pasar atau tertib antre di bank.”
“Artinya kita tidak perlu ke pura atau tempat ibadah?” tanya Wedia dengan sedikit menyudutkan.
“Aku tidak bilang begitu,” sanggah Olog. “Pura atau tempat ibadah jelas tempat yang sangat baik buat beribadah, karena setiap orang yang datang pasti dengan hati dan pikiran yang bersih. Namun bukankah Tuhan ada di mana-mana? Di kantor, di balai RT, di pasar atau di bank. Itu artinya kita membawanya ke mana-mana, karena ada di hati kita semua,” sambung Olog.
“Lalu untuk apa lagi ke pura, ke merajan, pelinggih, atau tirta yatra?”
“Bukankah hal baik mempertemukan banyak hati dan pikiran yang bersih? Menyatukan doa, bersama kerabat dan sanak keluarga?” jawab Olog.
“Jadi semuanya baik?”
“Jelas.”
“Apa yang selama ini, kadang membuat hal menjadi buruk?” tanya Wedia lagi.
“Cara pandang dan cara memperlakukannya. Cara pandang yang buruk dan cara memperlakukan dengan buruk membuat hal menjadi buruk.”
“Sesederhana itu?”
“Ambil contoh, alkohol. Apakah itu sedemikian buruknya sampai harus dilarang dan ditakuti? Karena kita memperlakukannya dengan cara buruk: mabuk, ketagihan, bikin onar, kecelakaan lalu lintas, cedera bahkan kematian, tak sedikit pemerkosaan dan pembunuhan. Lalu alkohol menciptakan cara pandang manusia yang buruk.”
“Berarti orang yang main judi untuk mengisi hari libur saat Galungan tidak buruk?”
“Kalau judi sampai dua malam, pulang kampung tapi tak pernah tampak di rumah karena judi, bagaimana itu tidak buruk? Itu cara memperlakukan kesenangan dengan cara yang sangat buruk. Alih-alih bertemu kerabat atau kawan dalam kehangatan bermain kartu atau domino hiburan semata, kalau yang ada adalah menghabiskan anggaran hari raya, pinjam sana sini, jual ini itu, bagaimana mau bilang baik? Bahkan Panca Pandawa pun sampai tega mempertaruhkan istri mereka di meja perjudian.”
“Bagaimana simbol Galungan sebagai kemenangan Dharma, dalam fenomena ini?”
“Itu falsafah yang sangat unggul. Kita cenderung membutuhkan musuh di luar untuk dikalahkan, untuk menjadi pemenang. Padahal kemenangan Dharma di hari Galungan itu, filosofinya adalah kemenangan melawan Adharma dalam diri sendiri. Musuh terbesar dan terkuat manusia adalah dirinya sendiri. Saat berhasil menaklukan diri sendiri, maka tak ada lagi musuh lain yang perlu dikalahkan. Sebab, musuh terkuat telah takluk. Sebesar apa pun tantangan dari luar, itu takkan mampu mengguncang emosi kita lagi.”
“Wah, saat diri sudah bisa dikalahkan, ritual sudah tak diperlukan lagi, ya?”
“Kenapa tidak? Melakukan ritual memerlukan kekuatan untuk melawan keengganan dan skeptisisme diri yang ego dan terlampau pintar secara spiritual, hehehe. Bukankan dengan ritual kita dapat bertemu kerabat dalam senda gurau dan keriangan? Berbagai cerita di rantau atau berbagi surudan/saranam upacara. Lebih-lebih setelah bertemu, kita dapat memperbaiki hubungan dengan kerabat lain yang sebelumnya sempat retak misalnya. Itulah makna serius dari ibadah Galungan ini.”
“Oh, Galungan yang upacara Dewa Yadnya, tapi dari penjelasanmu lebih ke manusia?”
“Hehehe, memang Tuhan dan para dewa butuh apa sih dari kita? Puja puji? Meski kau memaki Tuhan dan para dewa pun, mereka takkan peduli.”
“Bukannya kita bakal menemukan celaka jika berani-berani menghina Tuhan atau para dewa?”
“Ya, celaka, sudah pasti itu. Tapi bukan karena dikutuk oleh Tuhan atau para dewa yang murka. Namun jelas karena energi buruk dalam dirimu sendiri yang penuh benci dan amarah. Itulah yang membuatmu celaka. Kembali lagi pada perkara mengalahkan diri sendiri. Memaki atau menghina, jelas hal yang buruk. Entah itu ditujukan kepada Tuhan dan para dewa atau kepada seorang tukang sapu atau kepada seekor anjing, itu semua sama. Semuanya membuatmu celaka.”
“Berarti, Tuhan sebetulnya tak butuh dipuja ya?”
“Ya, tidak sama sekali. Justru kita yang sangat butuh untuk memuja. Memuja Tuhan, para dewa, orang lain, lebih-lebih orang yang kekurangan, anjing terlantar atau rimbun pepohonan. Maka, dalam hal ini memuja adalah hak, bukan kewajiban. Memuja, membiasakan cara pandang yang baik, terlebih lagi memperlakukan yang lain dengan etis dan penuh rasa kemanusiaan, adalah makna serius Galungan dan perayaan hari suci yang lain.
“Sepertinya ini konsep Tri Hita Karana.”
“Tri Hita Karana, kerangka dasar Hindu. Jika hubungan sudah harmonis dengan alam dan sesama, dengan sang pencipta akan sendirinya harmonis. Karena Tuhanlah yang telah menciptakan alam dan mahluk hidup. Dari kerangka dasar ajaran Hindu, jelas ini elemen etika yang memang bagian terbesar dari komposisi sebutir telur, yaitu bagian putih telurnya. Kuning telur adalah filsafatnya atau tatwa dan bagian paling tipis yaitu cangkangnya adalah ritual.”
“Kalau cangkannya dihilangkan, kan telur tetap bernilai? Tapi kalau cuma cangkang saja, rasanya sudah tak bernilai apa-apa.”
“Persis, apalagi kalau cangkangnya itu dipenuhi tahi ayam. Hehehe. Namun, gagasan itu benar setelah telur sudah dikeluarkan dari tubuh ayam. Saat masih dalam proses pembentukan, justru cangkanyalah yang menjadi pelindung sampai proses pembentukan telur selesai.”
"Bagaimana dengan cangkang telur yang ternoda kotoran?" Wedia kembali bertanya.
“Hehehe. Ini pertanyaan pancingan. Ya, biar tampak lebih estetik, ayo kita bersihkan cangkang yang kotor itu. Meskipun takkan pernah kita makan nantinya.”
“Artinya, ritual yang cenderung merugikan dan sudah tak cocok lagi dengan era, baiknya diperbarui ya?”
“Ya, sesederhana itu.”
“Sementara, bagian putih dan kuningnya atau etika dan filsafat harus terus dijaga dan diterapkan karena itulah bagian utamanya yang akan kita makan dan menjaga kesehatan tubuh dan pikiran kita?”
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...