Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
HAJATAN besar dan meriah dalam 1 tahun Pawukon Bali kembali hadir, meriahnya penjor yang megah dengan berbagai ornament dan harga yang mentereng Kembali akan terpasang disetiap depan rumah umat Hindu di Bali. Kemeriahan berlanjut di pasar tradisional dan modern, umat hindu mengejar berbagai sarana ritual untuk perayaan hari suci Galungan.
Kemeriahan ini berlangsung setiap 210 hari sekali, dimana hari yang suci ini diyakini sebagai hari perayaan kemenangan Dharma atas Adharma. Persembahan hewan sebagai pelengkap yadnya seperti babi sangat banyak dilakukan, bukan hanya memeriahkan sebagai makanan, tetapi juga kemeriahannya sampai pada penggunaan sarana persembahan yang berisi berbagai olahan daging babi.
Tentu, karena hanya hari suci galunganlah yang memiliki rangkaian berupa Hari Penampahan Galungan, yaitu hari untuk memotong hewan kurban seperti babi. Kemeriahan sesajen ada pula yang sangat khusus yaitu mempersembahkan kue olahan dari ketan, baik ketan hitam maupun ketan putih yang dikenal dengan dodol dan satuh. Apa sebenarnya makna kedua kue olahan ketan ini? Mari kita simak dan dalami sebagai tambahan makna hari suci Galungan.
Sebelum kita memaknai dodol dan satuh, maka marilah kita melihat bagaimana kedua kue ini dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali. Dodol merupakan adonan yang berasal dari gabungan tepung ketan hitam atau injin dengan tepung beras dan tepung ketan putih. Adonan ini diulen sedemikian rupa lalu dimasak selama kurang lebih 3 jam dalam jambangan besar dengan dicampur beberapa liter santan (air perasan kelapa murni).
Tambahan gula merah yang asli merupakan pelengkap yang membuat rasa dari kue ini sangatlah khas dan memang rasanya sangatlah menyentuh dan mengaitkan bahwa galungan telah tiba. Selama memasak kue ini membutuhkan energi untuk terus diaduk, sampai pada adonan matang, dan semakin terasa beratnya dalam mengaduk adonan. Semakin berat kita mengaduk, maka semakin matanglah dodol itu.
Setelahnya, didinginkan dan dibungus dengan kulit jagung. Berbeda dengan satuh, yang berbahan ketan putih yang disangrai, lalu dijadikan tepung yang kemudian dicampur dengan gula merah asli dan kemudian dibentuk bundar dan dibungkus dengan kraras (dauh pisang yang sudah kering). Kedua kue olahan tradisional ini sangatlah mutlak bagi Masyarakat Bali dalam menyambut Hari Suci Galungan. Seolah tiada galungan tanpa kedua kue ini. Dipersembahkan pada setiap bebantenan lalu didoakan sebagai persembahan kemudian setelahnya bisa dinikmati sebagai anugerah (pradham) atau lungsuran.
Kata dodol bisa kita temukan pada kamus Bahasa kawi karya zoetmulder. Dimana kata dodol berasal dari dua kata duad yang artinya kepalsuan atau ketidakbenaran, dan dual yang artinya benda atau barang-barang. Jadi kata dodol bisa berarti penganan yang terbuat dari tepung, namun juga memiliki arti lain yaitu benda atau barang yang memiliki nilai kepalsuan dan ketidakbenaran.
Sedangkan satuh juga adalah penganan yang terbuat dari tepung ketan, yang bisa juga bermakna dalam Bahasa bali satuwuh atau selamanya. Gabungan kedua kue ini memberikan makna tentang benda atau barang yang palsu atau mengandung ketidakbenaran selamanya. Tidak berhenti disana, kita mesti juga mencari makna dimana kedua kue ini dipersembahkan yaitu pada Hari Suci Galungan. Kata Galungan memiliki arti yang sama dengan dungulan, kadungulan dalam teks Bahasa kawi berarti pengerusakan dan penghancuran.
Jadi jika kita telisik dari arti ketiga kata ini, yaitu dungulan adanya persembahan dodol dan satuh, maka akan tersirat makna yang sangat mencengangkan yaitu hari suci yang mana pada hari itu kita seolah berupaya “menghancurkan benda atau sifat dan prilaku yang penuh dengan kepalsuan atau ketidakbenaran selamanya” dungulan, dodol, satuh. Apakah makna selama ini tentang Galungan menjadi hilang? Dengan lumbrahnya galungan sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma?
Tentu tidak, kemenangan itu sesungguhnya akan ada Ketika kita mampu menghancurkan kepalsuan (maya) ini selamanya. Selama maya masih ada dalam diri kita, maka kita selalu mengejar segala yang indria kita harapkan. Terisinya indria bukankah kita akan semakin maya? Semakin tidak baik? Maka dengan kesadaran makna sarana ritual berupa dodol dan satuh ini, maka kita sesungguhnya berupaya untuk menghilangkan segala ketidak benaran untuk menuju yang benar dan penuh pencerahan, dan itulah Galungan.
Bercermin pada teks Lontar Sundarigama tentang Galungan bisa kita lihat sebagai berikut : Bu,Ka, Galungan, nga, patitis ikang adnyana sandi,galang apadang maryakena sarwa byaparaning idep... (L.Sundarigama). Artinya: Buda Kaliwon Galungan adalah (hari suci) untuk memusatkan pikiran sehingga menjadi terang benderang dengan cara menghentikan segala kegelisahan pikiran.
Dalam keseharian kita sangat erat kaitannya dengan kepalsuan atau maya. Segala indria kita berkejaran meminta untuk dituruti dan pada akhirnya kita terjaduh pada lubang kegelapan atau avidya. Keseharian kita sesungguhnya adalah saat dimana peperangan terus berkecambuk antara kebenaran (dharma) dan ketidakbenaran (Adharma). Keseharian yang penuh peperangan inilah kepalsuan kita. Kita dibutakan oleh keinginan yang terus berkeinginan untuk diisi. Maka merayakan Hari Suci Galungan sesungguhnya adalah hari dimana kita diingatkan untuk menghancurkan segala kepalsuan dan ketidakbenaran selamanya dengan memohon untuk galang apadang.
Pemusatan fikiran untuk mencapai kemenangan Dharma juga bisa kita lihat dari pemaknaan rangkaian hari suci ini. Pertama adalah Sugihan Jawa jatuh pada hari Weraspati Wage Sungsang. Mempersembahkan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Tujuannya untuk penyucian bhuwana agung (alam semesta [badan kasar manusia =stula sarira]) dengan upacara marerebu di sanggah/mrajan. Mohon tirta pabresihan dan sebagainya. Kedua adalah Sugihan Bali jatuh pada hari Sukra Keliwon Sungsang. Hari penyucian bhuwana alit (mikrokosmos [badan halus manusia=suksma sarira]).
Upakara menurut kemampuan dan dilanjutkan dengan mohon tirta panglukatan. Dilanjutkan dengan hari Panyekeban. Jatuh pada hari radite Pahing Dungulan. nyekeb bahan upacara. “Anyekung jnana sudha nirmala”: mulai melakukan tapa: mengendalikan pikiran sehinga tetap tenang, tidak tergoda oleh sifat-sifat buruk. Karena saat ini diyakini mulai turunnya Sang Hyang Tiga Wisesa, yaitu (1) Sang Bhuta Dungulan (sifat destruktif, suka merusak). Selanjutnya adalah hari Panyajahan (panyajaan). Jatuh pada hari soma Pon Dungulan. Jajah (nyajaang raga) yaitu belakukan brata: janji diri dengan cara berusaha kuat untuk menaklukkan atau serius berusaha untuk melaksanakan (memperjuangkan) kebajikan.
Pada hari ini diyakini turunya sang Bhuta Galungan untuk menguasai diri kita dan menggoda tapa dan brata umat. Selanjutnya adalah hari Panampahan. Jatuh pada hari Anggara Wage Dungulan. Hari untuk menyembelih binatang kurban. Pada hari ini konon turun Sang Kala Amengkurat (nafsu kuasa, sok kuasa, suka bertengkar). Jadi sifat inilah yang mesti di-tampah (dikendalikan). Dilaksanakan upacara bhuta yadnya (byakala) dipekarangan rumah, lebuh, masang penjor dll. Barulah yang terakhir yaitu Galungan. Jatuh pada hari Buda Kliwon Dungulan. Hari pawedalan jagat. Hari pemusatan pikiran, bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Hari melaksanakan Yoga untuk pencerahan dan galang apadang.
Dodol satuh pada hari suci galungan atau dungulan memiliki pesan yang sangat dalam, dimana kemenangan bisa diperoleh jika kita mampu menghancurkan ketidakbenaran atau kepalsuan menuju pada pencerahan. Jadi jangan lupa menggunakan dodol dan satuh untuk persembahan sebagai symbol permohonan pencerahan di hari kemenangan. Selamat hari suci Galungan. Kemenangan dengan menghancurkan kepalsuan untuk pencerahan dan penuh anugerah kebaikan. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...