PANGGUNG Terbuka Singa Ambara Raja di Taman Bung Karno, Singaraja, diisi tampilan seni pertunjukan yang berbeda dari biasanya, Selasa malam, 17 September 2024. Di panggung itu ada drama gong, tapi bukan drama gong seperti biasanya juga.
Drama gong itu bisa dikatakan tampil dengan konsep modern yang digarap secara inovatif. Durasinya 30 menit dengan melibatkan sedikit pemain. Musiknya digital, bahasanya Indonesia.
Drama Gong Modern ini mengangkat kisah legenda nama daerah Banyuwangi. Drama ini merupakan pementasan rekacipta karya Penelitian, Penciptaan, Diseminasi, Seni - Desain (P2DSD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Sebagai pengkarya yaitu Ni Wayan Suratni, S.Sn., M.Sn (Penulis Naskah & Sutradara), Ni Wayan Iriani, SST., M.Si (Penata Rias dan Busana) dan Made Ayu Desiari,SSn., M.Sn. (Penata Gerak). Pendukung : I Wayan Agun Adi Putra (Musik Aranger).
Sebagai mahasiwa pendamping, Dewa Gede Satya Adi Maha Utamia dan Kadek Esy Lionita. Lalu, sebagai MITRA adalah Komunitas Seni Manduka Asrama Banjar Tegalbingin, Desa Mas Ubud, Kabupaten Gianyar.
Para penari dalam pementasan drama gong modern di Taman Bung Karno Singaraja | Foto: Ist
“Pementasan Drama Gong Modern ‘Sri Tanjung’ ini dibiayai oleh Lembaga Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat dan Pengembangan Pendidikan ISI Denpasar,” kata pengkarya Ni Wayan Suratni.
Drama Gong Sri Tanjung ini mengisahkan, dahulu kala, hiduplah seorang raja bernama Prabu Sulahkromo yang memerintah di Kerajaan Blambangan. Ia memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Sri Tanjung. Kecantikan dan kesetiaan Sri Tanjung membuat Prabu Sulahkromo sangat mencintainya.
Namun, kebahagiaan mereka terganggu oleh kelicikan seorang patih (perdana menteri) yang iri dan menginginkan Sri Tanjung. Patih tersebut menyusun rencana jahat untuk memisahkan mereka. Ia memfitnah Sri Tanjung dengan mengatakan kepada Prabu Sulahkromo bahwa Sri Tanjung tidak setia dan telah berselingkuh.
Prabu Sulahkromo yang termakan oleh hasutan patihnya menjadi sangat marah dan merasa dikhianati. Tanpa memberikan kesempatan kepada Sri Tanjung untuk membela diri, ia memutuskan untuk menghukum mati istrinya.
Sebelum dijatuhkan hukuman mati, Sri Tanjung bersumpah bahwa dirinya tidak bersalah dan meminta Prabu Sulahkromo untuk membuang tubuhnya ke sungai setelah ia mati. Sri Tanjung berkata bahwa jika air sungai itu menjadi harum, itu akan membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Salah satu adegan dalam pementasan Drama Sri Tanjung di Taman Bung Karno Singaraja | Foto: Ist
Setelah Sri Tanjung dibunuh dan tubuhnya dibuang ke sungai, terjadi keajaiban. Air sungai yang semula keruh tiba-tiba menjadi jernih dan memancarkan aroma harum. Prabu Sulahkromo sangat menyesal dan sadar bahwa Sri Tanjung tidak bersalah.
Ia menyesali perbuatannya dan menamakannya Banyuwangi, yang berarti "air yang harum" (dari bahasa Jawa: "Banyu" berarti air dan "Wangi" berarti harum).
“Melalui pementasan drama ini, kami ingin mengungkap asala mula nama daerah Banyuwangi itu,” jelas dosen seni pertunjukan ISI Denpasar itu.
Menurut Suratni, Legenda Banyuwangi mengandung beberapa pesan moral yang bisa dijadikan sesuluh hidup. Yakni, kesetiaan dan kebenaran (Sri Tanjung tetap setia dan jujur meskipun difitnah), keadilan (kebenaran terungkap meskipun terlambat), penyesalan (Prabu Sulahkromo mengalami penyesalan setelah menyadari kesalahannya).
“Cerita asal-asul nama Banyuwangi ini mengajarkan nilai-nilai moral tentang kesetiaan, kebenaran, kejujuran, dan pentingnya untuk tidak mudah percaya pada fitnah tanpa bukti,” ungkap pemain drama gong tradisi Bali ini.
Para pemain berfoto bersama | Foto: Ist
Legenda tersebut telah menjadi bagian integral dari budaya dan tradisi lisan masyarakat Banyuwangi dan sering dicerita-ulangkan dalam berbagai bentuk seni dan pertunjukan.
Drama Gong Sri Tanjung ini didukung oleh I Gusti Ngurah Agung Darma Antara (Prabu Sulakromo), Anak Agung Istri Shanti Laksemi Pemayun (Sri Tanjung), I Gusti Ngurah Aguntio (Patih Sidopekso), I Dewa Gede Oka Bisma (Abdi Patih).
Ada I Ketut Gede Adi Saputra (Abdi Patih), I Komang Arthana Nugraha (Dayang Sri Tanjung), I Wayan Gede Aditya Pratita (Abdi Prabu Sulakromo), dan I Kadek Braban Sunarta (Abdi Prabu Sulakromo).
Penari putra putri berperan sebagai penari air dan bunga yang melambangkan keajaiban air sungai yang berbau harum saat mayat Sri Tanjung dibuang ke sungai. Dalam penyajiannya, drama ini dibagi menjadi empat babak yang dikemas dengan begitu padat. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...