SEMESTA puitik dan musik klasik sedang mesra akhir pekan yang menyongsong tibanya bulan September kemarin. Dimulai dengan lembaga pendidikan musik Piano & Co. yang didirikan oleh pianis Angelica Liviana merayakan ulang tahunnya ke-5. Untuk itu mereka telah mengundang komponis dan pianis Ananda Sukarlan yang menjadi composer in residence selama bulan Agustus, dan hasilnya dipagelarkan di sebuah konser Gedung Yamaha Musik, Jalan Gatot Subroto, Sabtu, 31 Agustus 2024, lalu.
Para siswa, guru, bahkan Ananda Sukarlan sendiri ikut tampil di konser yang dipenuhi penonton dalam dua sesi sejak siang hari. Bukan hanya musik instrumental, tapi juga tembang puitik Ananda Sukarlan berdasarkan puisi Kurnia Effendi dan Galuh Ayara diperdanakan oleh soprano Ratnaganadi Paramita. Penampilan Ratnaganadi yang diiringi pianis Angelica Liviana di mana mereka tampil memukau itu sudah diunggah di YouTube. Lengkapnya dapat dibaca di: https://seni.co.id/berita/bersama-ananda-sukarlan-piano-co-menorehkan-sejarah-musik-di-ulangtahunnya-ke-5/
Malam setelah konser tersebut Ananda Sukarlan langsung berangkat dengan kereta cepat Whoosh ke Bandung. Apa pasalnya?
Setelah sukses diselenggarakan di Bogor 25 Agustus lalu, babak penyisihan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) dilanjutkan di Bandung.
Sebanyak 58 pianis dan vokalis muda mengikuti kompetisi musik klasik yang sedang hangat dibicarakan ini sedang berlangsung di berbagai kota sampai babak finalnya tanggal 8 Desember 2024 nanti di Jakarta. Di Bandung, KPN+ diadakan di auditorium IFI (Institut Francais d'Indonesie).
Di Bandung, Ananda Sukarlan, pendiri KPN+ dan ketua juri di semua kota, didampingi Yohanes Siem, pendiri Asosiasi Guru Piano Bandung (AGPB). Keduanya tampak akrab selama kompetisi, karena ternyata keduanya adalah lulusan konservatorium musik di Belanda. Yohanes Siem adalah lulusan Prins Claus Conservatorium di Kota Groningen dengan dosen utama Paul Komen, sedangkan Ananda Sukarlan lulusan Koninklijk Conservatorium di Den Haag di bawah dosen utama pianis Naum Grubert.
Juara 1
"Kompetisi Piano Nusantara Plus 2024 Kota Bandung, membuat saya terkagum, banyak bakat-bakat muda yang potensinya di luar bayangan saya, memainkan karya-karya Kak Ananda Sukarlan yang kompleks, dibawakan dengan balance & harmony yang indah didengar. Semoga dengan adanya kompetisi seperti ini bisa memacu peserta untuk mau berlatih karya-karya terkini, terutama karya komposisi anak bangsa. Semangat terus untuk Kompetisi Piano Nusantara Plus berikutnya. Terus berkarya dan asah terus bakat-bakat musisi muda,” ujar Yuliana Supriadi, penyelenggara dan penanggungjawab KPN+ Region Bandung.
Walaupun diadakan di Bandung, peserta berdatangan dari seluruh penjuru Jawa Barat. Bahkan, pianis pemenang kategori menengah, Hawden, datang dari Tasikmalaya, tiga jam naik mobil ke Bandung. Sedangkan kategori paling tinggi yaitu Lanjutan dimenangkan oleh Reynard Jeremy Chandra dari Bandung.
Di kategori Tembang Puitik, Juara 1 dimenangkan Hanna Anindya yang menyanyikan tembang puitik "Rindu" dari puisi Emi Suy. Berikut videonya saat tampil:
Rindu (musik Ananda Sukarlan dari puisi Emi Suy)
https://youtu.be/urx0Spx9YBk?si=EH3m0YN19B8opPTE
Rindu (musik Ananda Sukarlan dari puisi Emi Suy)
https://youtu.be/26LLIXj9qVo?si=tzmtT2HKbB0xQErl
Berikut puisi yang berjudul Rindu memenangkan kompetisi juara 1 dan 2.
RINDU
Bu, di sini di tanah ini kerinduan menjelma jarum-jarum hujan menjahit luka—duka di kepala yang kerap terbentur tembok kota
Bu, di sini di permenungan ini aku mencari sebuah jalan jauh di kedalaman dan pedalaman paling pelosok digenangi sunyi yang penuh hati yang utuh
2023
Juara ke-2 diraih Melana Daniela Nguru yang juga menyanyikan "Rindu" dari puisi Emi Suy, sedangkan Juara ke-3 diraih oleh Yudith Octorina yang menyanyikan "September Tuarang" dari puisi Rissa Churria.
Saya tidak menyangka bahwa juara 1 dan juara 2 pemenangnya menyanyikan tembang putik yang sama, yaitu puisi saya yang berjudul “Rindu”. Apresiasi sangat mendalam, tentu saya merasa bangga dan bahagia ketika puisi digubah menjadi partitur musik klasik dan dinyanyikan oleh soprano menjadi sebuah kombinasi penyatuan dari dua unsur teks puisi dan musik.
Juara 2
Sunyi puisi yang diperam menghasilkan partitur-partitur dalam satu karya musik klasik menjadi saling mengisi. Puisi yang berasal dari bunyi ke bunyi—dari sunyi yang candu—sunyi paling merdu terbuat dari kepala berisik dan menghasilkan bunyi-bunyi yang berbeda interpretasi yang menyentuh perasaan-perasaan—berloncatan berlarian di antara tuts-tuts piano klasik yang berdenting.
Bahwasanya ketika orang suka puisi atau tidak, terlepas tahu maknanya atau tidak—tapi ketika itu dinyanyikan atau dilagukan menjadi sebuah nyanyian dan diiringi musik klasik piano semua pasti menikmati dengan khidmat. Dalam ruang hening terbentuk sebuah ruang di dalam ruang.
Musik adalah bahasa universal, maka semua orang tahu atau tidak tahu itu puisi—tahu atau tidak tahu itu musik klasik—tapi pasti turut menikmatinya. Inti sarinya meresap dalam jiwa. Jadi, menurut, saya ketika sebuah puisi dijadikan sebagai sumber inspirasi atau ide penciptaan menjadi sebuah karya baru, yaitu musik klasik dalam hal ini, itu membentuk suatu ruangan atau sebuah lorong panjang yang menghubungkan antara penikmat musik yang mendengarkan musiknya dan teksnya.
Juga keindahan musik itu sendiri terjadi sebuah komunikasi yang mungkin di bawah alam kesadarannya karena dengan begitu puisi dapat dinikmati dalam bentuk baru dan terjadinya sebuah ikatan antara teks dengan musik.
Ratnaganadi Paramita (soprano, kiri) dan Angelica Liviana (pianis, memegang karangan bunga)
Jadi, saya sangat bersyukur ketika puisi saya menjadi pemenang juara 1 dan juara 2 berarti bukan sesuatu yang tidak mungkin bahwa “teks” itu atau puisi “Rindu” itu mempunyai kekuatan, jadi pilihan, daripada penyanyinya atau supranonya. Boleh jadi puisi itu bertuah, ungkapan canda dari seorang teman.
Mengutip pernyataan Pak Widi Suharto bahwa puisi kemudian menjadi lirik sebuah lagu, selain lebih diterima sebagai karya yang baik, penikmatnya menjadi lebih luas mulai dari akar rumput, pemerhati, pecinta sastra, apresiator sampai para seniman lintas bidang dan genre.
Dengan demikian puisi semakin naik kelas. Semakin dinikmati pada segmen lebih luas.
KPN+ akan berlanjut akhir pekan depan di Medan. Minggu, 8 September KPN+ akan berlangsung di Avia Music Center. Setelah pengumuman pemenang pukul 16.00 WIB, Ananda Sukarlan akan memberikan talkshow yang juga terbuka untuk umum pada pukul 17.00—18.00 WIB di tempat yang sama. Di sini, Ananda Sukarlan akan didampingi juri Dr. Christine Utomo, yang meraih gelar Doktor di USC Thornton School of Music dengan dosen utama pianis Norman Krieger, dan kini adalah Associate Professor of Piano Performance at College of Chinese & Asean Arts di Chengdu, China.
Hari berikutnya, Ananda Sukarlan melanjutkan jadwalnya yang sibuk dengan terbang langsung ke Helsinki, di mana ia akan konser di gedung bersejarah Ritarihuone (The House of Nobility) tanggal 11 September dan dilanjutkan dengan periode mengajar sebagai dosen tamu di Sibelius Academy of Music, Helsinki, selama seminggu ke depannya.
Di Helsinki ia akan memperdanakan karyanya untuk merayakan 70 tahun hubungan diplomasi Finlandia dan Indonesia, yaitu "Findolandesia" untuk biola dan piano. Karya tersebut sudah ditampilkan di Jakarta Juni 2024 lalu dengan pemain biola muda Aurell Marcella, lulusan Australian Institute of Music. Di Helsinki Ananda akan memainkannya dengan Alisa Khodos, dan juga dengan pemain cello asal Colombia, Daniel Sebastian Castrillon Arcila. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...