PERJALANAN hidup tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Suka duka, tangis bahagia, sukses gagal, kehadiran kehilangan, turut mewarnainya. Tetapi selalu ada upaya dan harapan yang menjadikan seimbang.
Pada dasarnya, tak ada satu manusia pun yang menginginkan badan dan ingatannya merapuh dengan segala dera yang bernama sakit, apalagi ketika di usia produktif. Tetapi ketika itu tiba, tidak ada yang mampu menolaknya. Dan otomatis menerima dengan berbagai rasa.
Upaya, akhirnya menjadi jalan satu satunya untuk memperbaiki keadaan agar sesuai dengan keinginan. Yaitu sehat badan dan pikiran dan setelahnya berserah.
Ada banyak cara untuk menjadikan kondisi stabil seperti semula. Entah dengan jalan medis atau non medis. Atau keduanya diseimbangkan. Seperti ke dokter dan terapi terapi yang dirasa aman.
Di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang menulis menjadi terapi yang saya jalani ketika saya sakit.
Ketika itu tahun 2013 dan usia saya 41 tahun dan bermula dari sakit kepala yang luar biasa. Setelah ke dokter sakit kepala berangsur hilang tapi sebagian ingatan saya pun ikut menghilang atau amnesia ringan.
Saya menulis puisi dengan tulisan tangan
Tiba tiba saya tidak bisa membaca dan menulis karena lupa akan abjad. Sedang hobi saya membaca juga menulis. Bahkan nama anak anak pun saya lupa serta kegiatan yang sebenarnya sepele tapi penting pun saya lupa, yaitu lupa cara makan.
Betapa sedihnya ketika itu. Karena sebagian ingatan saya menyadari ada sesuatu yang hilang dari ingatan saya juga, yaitu cara membaca dan menulis. Sedang membaca dan menulis sebelumnya telah menjadi kebiasaan sehari hari.
Akhirnya untuk bisa membaca dan menulis saya belajar lagi dari nol dengan anak-anak. Belajar mengenal bentuk huruf dan namanya, lalu belajar membaca.
Untuk belajar menulis akhirnya saya mengandalkan tulisan tangan agar terbiasa dulu. Karena ketika mencoba menulis dengan diketik masih banyak salah salahnya.
Tetapi saya berkeyakinan bahwa saya akan bisa menulis dan membaca lagi. Maka saya tak henti belajar menulis dengan tulisan tangan. Menulis ulang atau menyalin puisi saya di laman FB ke dalam buku tulis. Dengan harapan ingatan saya perlahan bisa pulih.
Untuk menyalin satu kalimat pendek saja saya perlu beberapa menit karena harus mengulang per kata lagi. Mengulang dan mengulang untuk bisa menjadi satu kalimat.
Akhirnya setelah hampir 2 tahun saya belajar, ingatan berangsur pulih. Saya bisa membaca dan menulis dengan lancar. Nama nama tetangga dan orang terdekat yang tadinya lupa pun perlahan saya ingat kembali. Menulis dengan tangan pun tetap saya lanjutkan agar ingatan semakin kuat.
Puisi saya yang ditulis dengan tulisan tangan
Pertengahan tahun 2017 kembali saya sakit, kali ini serangan jantung yang berulang dan akhir 2018 akhirnya dioperasi. Selama itu selain dalam pantauan dokter saya tetap rutin menulis juga melukis untuk menjadikan saya di kondisi yang tenang dan kondusif.
Selalu saya katakan menulis adalah media yang menyenangkan di kondisi apapun, terlebih ketika diri sedang sakit. Seberat apapun sakit yang mendera menjadikan diri tetap semangat karena tidak menjadi kemarahan. Menerima segala jatah yang diberikan, lalu mengupayakan agar menjadi baik kembali.
Kebetulan saya menulis puisi, akhirnya puisi menjadi teman yang menenangkan dan menyenangkan untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Dan, menulis menjadi terapi yang murah dan mujarab untuk menguatkan ingatan.
Untuk penyemangat, tulisan tulisan saya berupa puisi dan cerpen saya kirimkan ke media cetak dan on line, ikut serta antologi bersama atau lomba.
Di sini saya tak berharap akan hasil akhir yang selalu gemilang. Misalnya dimuat atau lolos kurasi bahkan menang. Karena intinya, menulis untuk bersenang senang dan mengasah kreatifitas serta kontemplasi.
Dan, ketika dimuat atau lolos kurasi, bahkan mendapatkan honor, itu sebagai bonus. Karena menulis puisi tidak untuk menjadi penyair atau menjadi terkenal. Menulis menjadi terapi, menjadi hobi yang menyenangkan.
Buku tulis yang selalu siap sedia
Mendapat jatah sakit lalu sehat, bisa menulis lagi, menjadikan saya bersyukur. Bahwasanya setiap kejadian memberikan hikmah dan kesempatan untuk menjadi lebih baik.
"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Kata pak Pram (Pramoedya Ananta Toer)
Maka saya menulis, karena dengan menulis menjadikan diri sehat dengan membaca menjadikan pandangan luas. [T]
Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026. Mereka larut dalam Rekasadana Tari Legong yang d...
"Di mata Sang Guru, tidak ada dosa yang tidak dapat ditebus, tidak ada jiwa yang berada di luar pelukan kasih-Nya."
KALIMAT yang dikaitkan dengan Sri Ramakrishna melalui jawaba...
SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak lagi berdiri di belaka...
Tuhan Beri Aku Waktu
Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku merindumu tak terbatas waktuselagi napas ini bergelayut...
“Tradisi tidak mati karena berubah; ia mati ketika berhenti dipikirkan.”
PELESTARIAN seni tradisional di Bali tidak dapat berhenti pada estetika permukaan. Kemegahan ko...
PESTA Kesenian Bali (PKB) memerlukan media massa untuk publikasi dan dokumentasi, sedangkan media massa memerlukan PKB untuk menunjukkan tanggung jawab moral dan sosialnya dalam m...
SIDANG pembaca yang budiman, coba anda buka Netflix atau platform streaming apa pun yang sedang populer. Tidak perlu menggulir lama-lama, pasti anda akan mudah untuk menemukan fil...
“Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?"
KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade lalu, karya eksplorasi busana yang ia tampilkan di...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tim Pengabdi Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha sukses menggelar International Community Service-Based Workshop bertajuk “PROMOTING INTERCULTURAL AWA...
BAGI orang awam di bidang kargo seperti saya, kata kargo selalu memantik imajinasi tentang gudang yang pengap, deru mesin, aroma solar, dan tubuh-tubuh kekar dengan peluh bergulir...