SETELAH menulis tentang bangbang ’kubangan air di atas tanah yang digali’, Bak Inpres dan Cubang Air, sampailah saya pada Sumur Peradaban tertua yang bernama Suukan di Gumi Delod Ceking, kawasan Kuta Selatan. Tulisan tentang Suukan ditampilkan paling belakang mengikuti konsep belajar dari dekat ke jauh. Sumber air terdekat sebelum punya bak air adalah bangbang dan terjauh adalah Suukan. Walaupun Suukan paling jauh dari pemukiman penduduk, posisinya bearda di tempat yang sama, di pesisir pantai dan airnya terasa asin.
Penyebutannya pun sama bagi empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking, yaitu Suukan. Empat Desa Adat di Gumi Delod Ceking yang dimaksud adalah Desa Adat Peminge, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Padahal, Desa Adat Pemiinge juga memiliki dataran di Banjar Peminge, sumur umumnya disebut semer, bukan Suukan. Sebagai catatan, Desa Adat Peminge ditopang oleh dua banjar adat, Banjar Peminge dan Banjar Sawangan.
Di Banjar Sawangan Desa Adat Peminge pada awalnya terdapat dua Suukan, tetapi yang masih terpelihara kini satu buah berada di area Hotel Kempnsky Nusa Dua. Demikian juga di Desa Adat Kutuh, pada awalnya terdapat dua Suukan, tetapi kini tinggal satu buah, berada di Kawasan Wisata Pantai Pandawa.
Di Desa Adat Ungasan, pada mulanya Suukan ada dua, sekarang tinggal satu berada di kawasan Wisata Pantai Melasti, berdekatan dengan Pura Segara dan Pura Plangko. Di Desa Adat Pecatu, Suukan berada di Pantai Nyangnyang sebelah Timur Uluwatu dan Pantai Dream Land pada awalnya ada dua, kini tinggal satu. Begitulah nasib Suukan seperti kata Chairil Anwar, “hidup segan mati tak mau”.
Menarik dicermati di empat Desa Adat itu, suukan-nya berpasang-pasangan dan semuanya berada di kawasan pantai terdesak hingar-bingar pariwisata. Apa maknanya? Jangan-jangan ini simbolisasi Purusa-Pradana, tempat permandian laki-laki dan perempuan terpisah, tetapi tidak berjauhan. Mirip dengan pendidikan Pramuka yang menerapkan kesatuan terpisah. Itu tafsir makna pertama.
Makna kedua adalah Suukan disakralkan sebagai tempat nuur tirta untuk upacara ritual tertentu dan Suukan lainnya tidak disakralkan. Di Desa Adat Peminge, misalnya upacara Ngaben wajib nuur tirta ke Suukan yang berada di kawasan Hotel Kempinsky. Demikian juga Suukan di Dream Land Desa Adat Pecatu difungsikan secara sakral sebagai tempat nuur tirta upacara berskala besar tingkat Desa. Jadi, pemertahanan Suukan adalah memelihara keberlanjutan tradisi ritual untuk kerahayuan sekala niskala.
Makna ketiga, semua Suukan berada di kawasan wisata dan kecenderungan pengelola kawasan ingin memusnahkannya, seperti diakui I Made Pilih dari Desa Adat Pecatu. Faktanya juga menunjukkan kecenderungan itu walaupun kawasannya dikelola oleh Desa Adatnya sendiri. Di sinilah pentingnya Prajuru Desa Adat paham dengan kearifan lokal di wewidangan desa adatnya masing-masing sehingga situs-situs desa aman dari kepentingn kapitalistik dengan aneka ulah : ulah aluh, ulah alih, ulah elah. Pragmatis gelis berbasis materialis dan hedonis memenuhi kesenangan minim ketenangan.
Saya meyakini Suukan di keempat Desa Adat itu adalah sumur tertua yang pernah ada di kawasan itu dan terkait dengan tradisi agraris dan maritim dalam kebudayaan mayarakat. Tradisi nyegara gunung yang dilaksanakan langsung berhadapan dengan Dewa Baruna dapat mengonfirmasi tradisi itu. Dasar semua upacara ritual Hindu juga berbasis laut dan gunung yang dalam praktik pujawalinya pun secara budaya terepresentasikan dalam lagu yang menggambarkan kehidupan laut dan kehidupan gunung.
Lagu yang menggambarkan kearifan laut tampil secara teatrekal dalam prosesi Kincang-Kincung serangakain Puja Wali Pura-Pura di Gumi Delod Ceking. Begini Syairnya : Ngiring mangkin sareng sami ke segara, ngerereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngereh ulam nganggen jaring miwah pencar, Ngambil dayung-ngambil dayung munggah sampan raris medayung….Dayung… dayung… dayung…sampane dayung//. Syair ini biasanya diiringi suara gamelan dan tarian para sutri yang saling berpapasan dengan properti jukung-jukungan, khas nelayan.
Sedangkan lagu yang menggambarkan hasil gunung muncul dalam lagu Sumping Keladi : Nyampat-nyampat maceniga/mabanten sumping keladi/ ane nyampat nunas ica/ ne mabanten ngastiti Widhi/ Ratu Peranda sampun mapuja/ gonge sampun macegir …//
Begitulah Suukan sebagai sumur peradaban purba ibarat Sumur Tanpa Dasar dalam naskahrepertoar drama Arifin C. Noor. Sebagai Sumur Tanpa Dasar, Suukan mengalirkan sumber kehidupan yang tak pernah habis-habisnya, walaupun terkadang nyat ‘kering’ asal sabar menunggu, Suukan pun kembali memberikan air kehidupan seiring dengan pasangnya air laut. Walaupun airnya terasa asin, ia tetap diburu karena tiada pilihan lain. Pemburuan air di Suukan telah menegaskan orang-orang Delod Ceking mempraktikkan laku hidup berbasis pengalaman nyata dan paham akan asam garam kehidupan.
Pemahaman dan pemaknaan Suukan memberikan padangan bahwa hidup tidaklah persamaan liner dengan satu variabel. Hidup adalah persamaan bahkan pertidaksamaan kompleks yang solusi pemecahannya pun kompleks pula. Namun, bila itu bisa dipecahkan maka nikmat dan tenanglah di dapat setelah berhasil menjawab teka-teki alam yang penuh misteri dengan semangat perjuangan. Dalam Konteks Hari Aksara Internasional pada 8 September, misteri teka-teki alam itu dapat dipecahkan melalui semangat literasi dengan mencermati Suukan sebagai teks alam, dalam konteks ruang waktu berkearifan desa, kala, patra.
Selain berfungsi sebagai sumber mata air peradaban bagi orang-orang dari Gumi Delod Ceking tempo doeloe, Suukan juga berfungsi sosial kemasyarakatan ditandai dengan pertemuan berawal dan berakhir di Suukan. Di Suukan bertemu untuk menimba air yang akan dipakai mandi dan dibawa pulang.
Di Suukan pula, mereka berpisah menuju rumah masing-masing membawa air. Perjalanan pulang-pergi dari rumah (lebih tepatnya : pondok, kubu) ke Suukan adalah perjuangan memenangkan kehidupan melalui jalan sempit berbatu karang bertelanjang kaki dengan debu panas. Sungguh perjuangan pantang menyerah, ibarat pahlawan membatinkan moto perjuangan : Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Salam hangat dari Gumi Delod Ceking. [T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...