Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   

inyomantingkat
by inyomantingkat — September 01, 2024 in Esai

Tatkala.co

PROYEK Orde Baru untuk memenuhi kebutuhan air  krama di Gumi Delod Ceking, maksdunya wilayah Nusa Dua, Jimbaran dan sekitarnya di Kuta Selatan, pada 1970-an adalah Bak Inpres. Kala itu sejumlah proyek Bak Inpres dibangun berbasis tempekan mirip zonasi masa Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) era 2020-an. Model ini analog dengan sekaa bangbang yang sudah ada sebelumnya. Hampir di tiap tempekan yang ada bangbang-nya juga dibangun Bak Inpres untuk menampung air hujan.

Ada sejumlah makna pembangunan Bak Inpres berbasis tempekan zaman Orde Baru. Pertama, membantu krama mengatasi kesulitan air pada musim kemarau. Kemarau panjang yang sering disebut katiga kangkang adalah masa krisis air tanpa keluhan dan keributan, tetapi dimaknai dengan sering mapinunas kepada Hyang, sebagai wujud rasa eling. Krisis air ditarik ke ranah spirit lalu berpasrah setelah berusaha.

Kedua, Orde Baru memuliakan kearifan lokal yang dibina dan diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terimplisit maksud untuk memersatukan, memerkuat, membina dan  mengembangkan kebudayaan yang hidup dan diimani. Kohesi (kesamaan fisik)  dan koherensi (keterpaduan nilai, value) tempekan disaturagakan sebagai representasi kekuatan sekala niskala, penyaturagaan jasmani dan rohani. Dalam konteks Pendidikan, inilah yang disebut transformasi nilai-nilai kehidupan.

Ketiga, pembangunan Bak Inpres bertujuan mendekatkan konsumen dengan sumber air. Jumlah sekaa tempekan pun  terbatas tidak lebih dari 35 orang sehingga lebih mudah mengelolanya.  Di Tempekan Mangas dan Kancagan Desa Adat Kutuh misalnya dibangun Bak Inpres pada 1977 di tengah suasana Pemilu yang mencekam tetapi nihil gesekan. Politik riang gembira tak terkatakan tetapi diimani dan dilaksanakan.  Boleh jadi, proyek ini adalah hadiah menjelang Pemilu yang kini lebih populer disebut Bansos yang belum terartikulasikan kala itu.

Menarik pula dicermati, warga merelakan tanahnya yang berbatu kapur sampai 8 are untuk membuat bak termasuk lapangan air yang dialirkan ke bak ketika hujan turun.  Maklumlah, saat itu tanah di Gumi Delod Ceking tiadalah berharga. Diberi gratis pun, tiada yang melirik. “Buat apa?” kata mereka yang diberikan. Hal yang nungkalik kini, tanah Delod Ceking jadi rebutan dan disengketakan padahal sebelumnya tak diurus bahkan dianggap tidak ada. Keadaan makin keruh dengan kehadiran maklar tanah dengan mulut manis. Bungut gebuh kata mereka yang menjadi korban.

Pekerjaan proyek Bak Inpres itu dilakukan secara swakelola dan bergotong royong di tengah suasana gumi sayah, ‘paceklik’. Mereka hanya berbekal ubi rebus atau ubi bakar sebelum pekerjaan menggali batu kapur yang padat dan keras. Kekerasan batu kapur itu diimbangi dengan kerja keras oleh anggota sekaa yang bergiliran piket menggali batu kapur dengan linggis membuat bak ukuran sekitar 4 x 6 x 5 m.  Setelah bak dibuat, dilanjutkan dengan membuat jalan air dengan kemiringan yang sekitar 30 drajat sehingga bila hujan, air langsung tertampung di  Bak Inpres ini.

Air yang ditampung di Bak Inpres ini baru dibagi pada musim kemarau tiba setelah air di bangbang tempekan dan bangbang desa habis. Pembagian air juga mengikuti model pembagian air di Bangbang Desa yaitu telung tegen ‘enam jeriken’ setiap hari yang dimulai dengan paruman sekaa dipimpin oleh Kelihan Sekaa Bak Inpres. Prosesi paruman diawali dengan ngaturang daksina pejati kehadapan Hyang Bhatara Wisnu dilengkapi  dupa yang menyala sebagai api saksi sekaligus api semangat menerima berkah air, yang disungkemi seluruh anggota.

Begitulah aturan dibuat sangat simpel tanpa protes dan diyakini bersama serta dilaksanakan bersama dalam keseharian saat pembagian air. Barang siapa yang mengambil air lebih dalam sehari diserahkan dampaknya kepada yang bersangkutan. Itulah sebabnya anggota sekaa Bak Inpres juga selalu berefleksi saban sore menjelang matahari tenggelam, terutama bagi anggota Kepala Keluarga dengan  jumlah yang banyak. Kalau-kalau ada salah satu anggota keluarga yang lebih mengambil air,  maka wajib hukumnya dikembalikan pada hari itu pula.

https://tatkala.co/2024/08/13/gumi-delod-ceking-dan-dadu-yang-terbalik

Setelah sukses dengan Proyek Bak Inpres pada 1970-an, pada akhir 1980-an proyek Orde Baru  diganti dengan Proyek Cubang Air.  Jika Bak Inpres dibangun dengan penggalian batu karang dengan kedalaman tertentu, Cubang Air berbentuk tangki air dari viber diberikan gratis dan di letakkan di atas permukaan tanah warga juga berbasis tempekan. Warga  hanya menyiapkan pondasi penempatan Cubang Air. Cubang  air diisi seminggu sekali  melalui truk-truk berisi tangki air untuk memenuhi kebutuhan air warga masyarakat. Warga mengambil air di Cubang Air  yang sudah tersedia.

Seiring dengan perkembangan kemajuan, penduduk di Gumi Delog Ceking mulai mendapatkan  pekerjaan menjadi buruh di proyek-proyek Hotel Nusa Dua, kemampuan daya beli lambat laun membaik. Maka penduduk pun membeli langsung air tangki untuk ditampung di bak masing-masing. Akan tetapi semangat menghargai dan menghemat air pun terjaga dengan baik. Itulah jejak peradaban air di Gumi Delod Ceking, dari bangbang ke Bak Inpres dan Cubang Air, lalu ke Suukan ‘sumur di pantai’(yang disajikan terpisah).

Bak Inpres jejak peradaban air Gumi Delod Ceking | Foto : I Nyoman Tingkat

Catatan ini tidak dimaksudkan untuk mengorek luka lama krama dari Gumi Delod Ceking soal air, karena saya sadar peribahasa, “menepuk air di atas dulang tepercik muka sendiri”. Oleh karena itu, renungan ini  lebih diarahkan pada menemukan kembali nilai-nilai yang erosi diterjang perubahan secara drastis terutama dalam penghormatan terhadap air. Harapannya, generasi kini mengerti makna  air secara edukatif  fungsional.

Hemat menggunakan air adalah bagian dari ibadah pemujaan terhadap Dewa Wisnu yang menyebarkan kesuburmakmuran berkat air yang diolah menjadi Tirtha Amerta. Begitu pula PDAM yang menangani masalah air hendaknya melayani dengan kejernihan air yang disalurkan dari pipa-pipa ke rumah-rumah warga yang taat membayar pajak setiap bulan. Jangan sampai air mati berminggu-minggu, lalu tiba-tiba yang mengalir  air keruh. Pelanggan adalah raja, layanilah raja jangan sampai  memancing di air keruh. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

https://tatkala.co/2024/08/31/bangbang-di-gumi-delod-ceking
https://tatkala.co/2024/08/26/berguru-ke-ngampan-delod-ceking/embed/#?secret=zgwMJnCDyf#?secret=NED6fcxS5J
https://tatkala.co/2024/08/25/antara-pura-gunung-payung-dan-pura-batu-pageh/embed/#?secret=0P3A1mMd7c#?secret=WBpMiSSDLV
https://tatkala.co/2024/08/21/pura-gunung-payung-di-gumi-delod-ceking/embed/#?secret=DQfS0JzZ8i#?secret=zgiGnKteyn
https://tatkala.co/2024/08/18/gumi-delod-ceking-sebagai-pusat-perguruan/embed/#?secret=OOfLzCYAZM#?secret=kitlHUHxoO
https://tatkala.co/2024/08/14/ibu-tapa-dan-pura-penataran-kampial-keistimewaan-lain-dari-gumi-delod-ceking/embed/#?secret=roR6Fz173p#?secret=RdSHz1hZVK
https://tatkala.co/2024/08/13/gumi-delod-ceking-dan-dadu-yang-terbalik/embed/#?secret=RdpK9a3lu7#?secret=6BJMVu2Fax
https://tatkala.co/2023/10/11/kupu-kupu-di-dalam-buku/embed/#?secret=x2XoGTnXkg#?secret=qR5OtjACTd
Avatar

inyomantingkat

Related Posts