Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
DALAM sebuah esainya bertajuk “Sosok Petani dalam Sastra Kita” yang dimuat dalam buku Sastra dalam Empat Orba (2001), Agus R. Sarjono menyebut sastra Indonesia sepi dengan tema pertanian. Tidak banyak karya sastra Indonesia yang mengangkat masalah dan sosok petani. Bila pun ada, masalah dan sosok petani tidak menjadi tema utama.
Hal ini dipandang sebagai keganjilan karena faktanya Indonesia sebagai negara agraris dengan masyarakat petani serta wilayah pertanian sebagai realitas dominan bangsa Indonesia. Masalah yang dihadapi petani dan dunia pertanian juga sangat kompleks dan beragam.
Kondisi ini dihubungkan Sarjono dengan latar belakang para sastrawan Indonesia yang terdidik secara Barat. Pada awal kelahiran sastra Indonesia, misalnya era Balai Pustaka hingga Pujangga Baru, para sastrawan itu umumnya berasal dari golongan priyayi yang gagap memunculkan dan mengartikulasikan dunia pertanian. Masih menurut Sarjono, dunia pertanian dalam tatapan sastrawan Indonesia merupakan cerminan dunia tradisionalitas yang justru hendak ditinggalkan.
Penilaian Sarjono memang tidak sepenuhnya keliru, namun tidak sepenuhnya juga benar. Bahwa tema dunia pertanian tidak banyak muncul dalam genre prosa fiksi, khususnya novel, mungkin ada benarnya. Tampaknya, bagi para novelis Indonesia, problematika yang dihadapi petani kurang menarik perhatian dibandingkan problematika religiositas, pertentangan tradisi dan modernitas, marginalisasi perempuan atau isu-isu seksualitas.
Di antara sedikit novel Indoneis yang mengungkap kehidupan petani atau menghadirkan sosok petani adalah Kemarau (1967) karya A.A. Navis. Dalam novel ini, Navis memunculkan sosok petani tangguh bernama Sutan Duano dalam menghadapi musim kemarau panjang, sebaiknya juga secara satiris mengkritik perilaku masyarakat pedesaan yang lebih mengedepankan religiositas pada tataran permukaan. Mereka mementingkan berdoa memohon hujan turun tapi bermalas-malasan menggarap sawah-sawah mereka.
Novel Pulang karya Toha Mohtar
Sebelumnya, Toha Mohtar menulis novel Pulang (1958) yang juga menggambarkan kehidupan petani di desa. Tokoh utama cerita, Tamin, kembali ke desanya di Gunung Wilis setelah memutuskan berhenti menjadi Heiho, tentara masa pendudukan Jepang. Sang tokoh menebus rasa bersalah karena berkhianat kepada bangsanya sendiri dengan pulang membangun desanya.
Namun, tema dunia pertanian dengan sosok petani dengan berbagai masalahnya sebagai titik tolak cukup banyak muncul dalam puisi dan cerpen Indonesia. Puisi-puisi Indonesia periode awal yang dicirikan oleh gambaran alam kuat banyak memotret suasana alam persawahan di desa dan kehidupan petani. Memang, pada periode ini, puisi-puisi Indonesia tentang petani atau alam pertanian sangat dipengaruhi oleh cara pandang romantisisme sehingga gambaran tentang petani dan alam pertanian terasa cenderung eksotis. Sanusi Pane menulis sejumlah puisi tentang petani dan alam pertanian yang indah dan menawan.
Memasuki periode tahun 1960-an, sosok dan nasib para petani mendapat perhatian pada sastrawan, khususnya sastrawan yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dipengaruhi oleh cara pandang realisme sosialis, para pengarang Lekra sangat getol menggambarkan perlawanan kaum tani melawan penindasan, terutama menghadapi tuan tanah. Menurut hasil penelitian I Wayan Artika atas antologi Gugur Merah dan Laporan dari Bawah yang dituangkan dalam buku Representasi Ideologi dalam Sastra Lekra (2024) cerpen-cerpen Lekra tentang kaum tani bergerak dari (1) adanya penderitaan kaum tani yang dibayangkan tertindas oleh kaum tuan tanah, (2) perlawanan kaum tani, lalu berakhir dengan (3) kemenangan kaum tani.
Para pengarang Lekra juga memberi perhatian pada keberadaan perempuan tani. Para perempuan petani ini tidak saja digambarkan dengan penuh keberanian melawan kekuasaan kaum tuan tanah, namun juga memperjuangkan kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.
Salah satu pengarang Lekra dari Bali, Putu Oka Sukanta menulis cerpen berjudul “Bibi Kerti” yang menggambarkan perjuangan perempuan tani Bali memperoleh tanah. Melalui cerpen ini, pengarang tak hanya mengusung gagasan soal landreform namun juga mengkritik budaya patriarkhi yang begitu kokoh dalam kehidupan masyarakat Bali.
Sastrawan Bali terbilang memiliki sensibilitas terhadap kehidupan petani dan dunia pertanian. Panji Tisna menulis sebuah cerpen berjudul “Menolong Orang Menyiangi Padi”. Cerpen yang dimuat di majalah Damai (1955) ini menggambarkan kehidupan petani Bali di desa yang kental dengan tradisi tolong-menolong. Dalam cerpen ini diceritakan tokoh utama yang seorang petani mengundang kerabat dan sahabatnya untuk membantu menyiangi padi di sawah. Namun, citra stereotif dunia pertanian yang sarat dengan beban hidup tetap terasa.
Gambaran problematika petani dan dunia pertanian dalam karya sastra memang tak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Jika pada era Lekra, problematika petani dikaitkan dengan isu landreform, pada era booming pariwisata, problematika petani dan dunia pertanian dihubungkan dengan industri turisme yang haus lahan. Itu sebabnya, puisi-puisi dan cerpen-cerpen karya sastrawan Indonesia, khususnya di Bali, banyak memotret konflik tanah antara petani dan kapitalis pariwisata.
Pada era 1990-an, sajak-sajak penyair Bali didominasi oleh suara keresahan mengenai ludesnya tanah-tanah Bali, terutama oleh masifnya perkembangan industri pariwisata. Dampaknhya tentu saja ruang gerak para petani dan dunia pertanian makin sempit. Puisi-puisi Oka Rusmini, I Wayan Arthawa, Nyoman Wirata, Alit S. Rini maupun GM Sukawidana mencerminkan perhatian para penyair Bali terhadap isu alih fungsi lahan pertanian yang berimplikasi pada terdesaknya para petani.
Cerpenis Gde Aryantha Soethama menulis cerpen “Sawah Indah nan Subur” yang dengan sangat baik menggambarkan proses alih kepemilikan tanah sawah di Bali dari orang Bali kepada orang luar. Proses alih kepemilikan itu terjadi begitu perlahan dan halus. Tanpa disadari, lahan sawah para petani telah dikuasai pemodal dari luar lalu meskipun tetap difungsikan sebagai sawah, fungsinya sudah bergeser sekadar sebagai atraksi wisata.
Gde Aryantha Soethama juga menulis sebuah cerpen yang memuliakan para petani yang dikaitkan dengan konteks spiritualitas khas Bali, “Surga untuk Petani”. Cerpen yang diadaptasi dari cerita rakyat Bali ini menceritakan tentang seorang petani yang tekun akhirnya diterima dengan tangan terbuka oleh penguasa surga. Walaupun si petani tidak memiliki pengetahuan tentang agama yang kuat seperti halnya seorang pendeta. Seperti halnya Navis, Aryantha Soethama juga mengkritik laku hipokrit orang-orang berjubah agama. Tokoh petani yang tekun dan suntuk dengan kewajibannya bergelut dengan ibu pertiwi digambarkan lebih mulia tinimbang seorang pendeta yang memiliki pengetahuan agama yang luas tetapi minim ketulusan dan kejujuran.
Cerpenis Made Adnyana Ole juga tergolong memiliki perhatian besar pada sosok petani dan dunia pertanian di Bali. Pada sebagian sajak-sajaknya dalam buku Dongeng dari Utara (2014) dan sebagian cerpen-cerpennya dalam Padi Dumadi (2007) dan Gadis Suci yang Melukis Tanda Suci di Tempatr Suci (20180 menunjukkan bagaimana pengarang memaknai petani dan kehidupan bertani sebagai laku mulia. Namun, dia juga tidak menutup mata pada problematika soal makin terdesaknya petani dan kehidupan petani.
Penyair Nyoman Wirata menulis buku kumpulan puisi Merayakan Pohon di Kebun Puisi (2007) yang sejatinya juga menggambarkan kemuliaan laku bercocok tanam. Lima puluh lima puisi dalam buku ini seluruhnya melukiskan tentang pohon yang mencerminkan gagasan tentang pemuliaan ibu bumi sebagai sumber energi utama kehidupan manusia. Dalam sastra Bali modern, kita juga disuguhi gagasan tentang petani dan dunia pertanian dengan penuh optimisme. Drama Masan Cengkehe Nedeng Mabunga (1978) karya Nyoman Manda menggambarkan semangat para petani di Desa Nyebah, Kayuamba, Bangli, Bali menanam dan merawat tanaman cengkeh sebagai sumber penghidupan. Dalam drama ini ditampilkan tokoh utama I Nyoman Sadra yang membangun desa dengan menjadi penyuluh pertanian untuk mendampingi para petani cengkeh. Dibalut dengan konflik khas masyarakat pedesaan Bali dengan problematika keyakinan dan tradisi, drama menyampaikan pesan penting kepada masyarakat Bali untuk membangun desanya sesuai potensi masing-masing dalam bidang pertanian. Memang, drama ini tak bisa menghindarkan diri dari kesan propaganda program pemerintah. Namun, pesan semacam itu juga masih gayut dengan problematika sosial masyarakat pedesaan Bali hingga kini. [T]
SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi orang tua Indonesia, terutama yang tumb...
MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan kampus, bukan hanya untuk tujuan wisata, na...
PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara yang serbacepat. Demi menghemat ene...
“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne, semengan ada bedik jumah. Nak, mekaad peteng, teka peteng. K...
Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau rekan satu hotel ataupun s...
JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang akan dijadikan ikon kampus di Turk...
PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang lebih dinamis dan atraktif. Pertunjukan seni berjalan ini...
KEMAJUAN teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, dan belajar. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses berbagai sumber pengetahua...
DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan, bergema meneror kedua...
LANGIT biru di atas pantai dan laut, di daerah Peninsula Island, Nusa Dua, Bali, dipenuhi warna-warni layang-layang yang menari mengikuti hembusan angin laut, Minggu 7 Juni 2026....