Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
UBUD FolkFest kini memasuki tahun ketiga. Pada tahun ketiga ini festival yang telah jadi sorotan budaya ini digelar di tengah suasana penuh semangat Hari Kemerdekaan Indonesia.
Festival ini, selain mengambil momentum perayaan kemerdekaan, juga dengan keistimewaannya menyajikan pengalaman dalam merayakan seni dan musik. Selain itu, juga sebagai ajang untuk memompa semangat kebebasan dan kreativitas.
Tahun ini, Ubud FolkFest berlangsung dari 16-18 Agustus 2024 di Ubud, Bali, dengan tema “Merdeka dalam Berkarya.”
Festival ini dirancang untuk menggugah kreativitas dan semangat berkesenian, sejalan dengan keyakinan bahwa seni adalah bentuk kebebasan.
Salah satu pendiri Ubud FolkFest, Ida Bagus Oka Genijaya, menyatakan, pihaknya memilih tanggal Ubud FolkFest tahun ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan. “Bukan hanya untuk ikut memeriahkan, tetapi juga karena sejatinya seni itu memerdekakan, dan merdeka dalam berkarya,” katanya.
Pengunjung festival disuguhi penampilan dari deretan musisi berbakat, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, yang menggetarkan panggung Ubud FolkFest.

Beberapa musisi yang menghiasi festival selama tiga hari berturut-turut antara lain: Endah n Rhesa, Joni Agung & Double T, Gus Teja, Rizal Hadi & Folk, Nova Filastine, Ipank Hore Hore, Leis Plang, Adam Aldyrus, Efiq Zulfiqar, Galiju, Rhythm Rebels, Soul Doctors, dan CBEE.
Line-up yang variatif dan menarik ini menjadi bukti nyata dari upaya festival untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik setiap tahunnya.
Selain itu, festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai pameran seni dan workshop yang menampilkan para seniman berbakat seperti Fajar Kadafi, Gede Sayur, Awan Yozeffani, Alessio Ceruti, Beta Imaculata, Nyoman Dira, Putu Eni Astiarini, Neha Ghai, Ni Luh Voni Dewi, Balack Hand Gang, Puhan Ayu, Ayu Anantha, Mimi Korompis, dan Biji Coffee Lab.
Kehadiran mereka menambah kekayaan pengalaman festival, yang tidak hanya menghibur tetapi juga menginspirasi pengunjung untuk lebih mendalami dan mengapresiasi seni dalam segala bentuknya.
Rizal Hadi, salah satu pendiri Ubud FolkFest dan juga musisi yang akan tampil, mengatakan, pada ahun ketiga ini, line-up, program, dan aktivitasnya lebih variatif dan menarik dari tahun-tahun sebelumnya.
“Semoga setiap tahun Ubud FolkFest semakin lebih baik lagi dan lebih bermanfaat bagi banyak orang, khususnya di dunia musik, seni, dan budaya,” katanya.

Ubud FolkFest didirikan dengan visi untuk menghidupkan kembali Ubud sebagai pusat kreativitas dan budaya. Dalam beberapa dekade terakhir, Ubud lebih dikenal sebagai destinasi wisata spiritual, menggeser citranya sebagai komunitas seni yang pernah berkembang pesat.
Dengan Ubud FolkFest, para pendiri berharap dapat mengembalikan Ubud ke peta sebagai pusat seni dan budaya, baik di Bali maupun dunia.
Melalui festival ini, para seniman, musisi, dan penampil, baik yang sudah terkenal maupun yang baru muncul, diberi panggung untuk menunjukkan bakat mereka kepada dunia. Ubud FolkFest juga berupaya membangun komunitas yang kuat di antara para peserta, yang mendukung dan mengapresiasi seni dengan segala keunikannya. Dengan keberagaman program dan aktivitas yang ditawarkan, Ubud FolkFest 2024, sedang memberikan pengalaman yang tak terlupakan, di mana seni, musik, dan budaya berpadu menjadi satu dalam semangat kemerdekaan berkarya. [T][Rls]
Sumber: Rilis Ubud FolkFest 2024
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...