Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
MUSIM terus berganti, mengantarkan hujan dan kemarau panjang meninggalkan catatan sejarah, kenangan, harapan, dan masa depan di tanah purba kaldera. Seekor kutilang kadang gemetar pada lembah kaldera, menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang bukit, menghindar dari kabut dingin sasih karo dan sasih ketiga.
Ini lembah di tepi Danau Batur, di bawah Gunung Batur, di Kintamani, Bangli. Lembah ini paling dalam, di bumi tanpa laut. di perut bumi Kaldera. Bumi kaldera purba, hingga ketika membuat sastrawan besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA) kesemsem dan bermukim di pinggiran danau. Menjadikan kaldera tempat kontemplasi, tempat wisata, seni, dan berkembangnya budaya. Ketika itu, antara tahun 1970-1980-an, STA, menjadi cikal bakal pariwisata di daerah ini, bermukim sembari membangun balai seni, perpustakaan, dan kotij, yang hingga kini masih tersisa.
Ketika itu, STA adalah ikon bagi kaldera, menjadi magnet wisata. Acap kali tempat ini menjadi arena festival, sastra, pertunjukkan seni, baik lokal maupun dunia. Tamu tamu undangan, sembari melepas penat, mereka menikmati literasi alam, festival, mencipta sastra, hingga sampai pada tempat kontemplasi bagi seniman, sastrawan, dan pariwisata dunia.
Lantas kini, waktu yang telah menyeret segalanya. Kerinduan dan dongeng-dongeng STA, sesungguhnya masih meninggalkan sejarah manis di sini. Namun, pariwisata kini telah mengubah paradigma STA. Tidak lagi pariwisata yang berbasis seni, berbasis sastra, berbasis budaya. Tapi ikon tempat ini kini berbasis dolar, berbasis rupiah, berselimut glamor.
Sastra seni, dan pariwisata ala STA, memang berbeda dari pariwisata berbasis dolar. Sastra identik dengan dunia sunyi, imajinasi, perenungan, dan tak terlalu nafsu pada dunia glamor. Sedang kini, dolar di sini telah runtuh, bak hujan yg memupuk rumput gaya milenial, gaya imaji yang jauh menembus dunia antah berantah.
Kini jejak STA di kaldera-Bali, hanya seolah mejadi cerita masa lalu. Pohon beringin di belakang balai seni menjadi saksi bisu sepanjang sejarah bahwa di sini pernah hidup sastrawan hebat, orang dahsyat, yang peran dan dedikasinya tak tertandingi dan tak tergantikan. Kini nama STA di sini, hanya papan nama yang sunyi di sudut jalan.
Zaman terus mengalir, pasca STA, memasuki tahun 2020-an, kaldera bak gadis beranjak dewasa. Kaldera sudah pandai bersolek, memoles diri, hingga banyak orang tertarik, ingin memiliki karena kemolekannya. Terlebih lagi, di zaman revolusi digital 4.0 menuju 5.0 ini, semuanya menjadi serba cepat. Berubah dari lugu, hedonis, memendam harapan dan membangkitkan sejuta peluang. Kaldera tak lagi sekadar soal batu rejeng, pasir, larva, atau gundukan bukit yang berdebu. Tanah kaldera bermetamorfose menjadi tempat yang sangat terbuka, menjadi harapan manusia dari segala penjuru. Yang berharap dan menanamkan benih-benih investasi.
Kaldera bukan semata menjadi tempat pembuang penat, tempat selfi, tempat penikmat libido, tempat bercumbu atau kencan, atau sekadar penghilang stres. Bukan saja tempat pencuci mata dan pencinta asmara, tetapi Kaldera juga menjadi tempat suci memuja Dewi Danu, tempat para dewa bersemedi, tempat bersemainya pendidikan, tempat petani ikan membudidayakan “jarkapung”, para konglomerat, pelaku pariwisata, tempat healing, tempat berendam dengan air panas alami, dan tempat bagi manusia-manusia kreatif.
Di tanah kaldera mereka menghilangkan kegundahan, tatkala liburan mencari inspirasi sambil mimpi “basah”, tak saja bermain ilusi, menguatkan mimpi-mimpi, segala keluh kesah dilebur di tempat ini.
Tempat ini menjadi mahal, menjadi rebutan, menjadi incaran, menjadi target, dan berpengaruh kuat pada kehidupan setempat, menjadi denyut perekonomian warga setempat dan warga pendatang. Mereka adalah para pedagang, pebisnis, para Mas-Mas, emak-emak, investor, pedagang martabak, pedagang gorengan, mini market, pedagang batu rejeng, pengusaha galian, pengusaha bawang, pedagang bakso, pedagang mie ayam, mujair nyat-nyat, seniman, komunitas spiritual, pelaku wisata, orang-orang pencari nikmat baik ofline maupun online.
Kaldera menjadi tempat yang begitu nikmat bagi para pebisnis itu untuk membuat kesepakatan. Menjadi ranah bagi pelaku pariwisata untuk bercumbu dan bertukar invest dengan bahagia. Di kaldera bertemu arus suku lintas negara/benua, dari Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Cina, merajut mimpi indah, bertualang keliling kaldera. Seakan tempat ini kini begitu nikmat dinikmati usai tidur lelap.
Di tengah aneka rasa itu, di tengah kenikmatan tanah kaldera, di tengah rejeki melimpah tanah kaldera, apa yang bisa diwariskan bagi generasi kaldera? Selain rasa segala hedonis, masihkah terbersit rasa “cemer”, rasa kontaminasi, dan rasa “carub”. Atau yang tersisa hanya rasa campah yang melimpah?
Adakah tersisa cerita “Datonta/kisah Ratu Pancering jagat”? Bahwa perjalanan hidup ini sarat godaan. Tentu ketika kalah oleh godaan, bersiaplah pada sebuah kutukan. Walau kutukan itu tidak secara eksplisit dan serta merta. Tentu di antara kita tak ingin menjadi manusia yang terkutuk karena terlalu “mabuk” pada kenikmatan. Terkutuk karena telah lupa pada esensi hidup. Lupa karena kenikmatan terlalu melimpah di tanah kaldera hingga "menggadaikan" hidup. Lupa karena tanah ini begitu subur untuk pemuas diri. Atau entah lupa karena apa lagi? [T]
BACA artikel lain tentang BATUR atau KINTAMANI atau artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...