Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MUSIM terus berganti, mengantarkan hujan dan kemarau panjang meninggalkan catatan sejarah, kenangan, harapan, dan masa depan di tanah purba kaldera. Seekor kutilang kadang gemetar pada lembah kaldera, menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang bukit, menghindar dari kabut dingin sasih karo dan sasih ketiga.
Ini lembah di tepi Danau Batur, di bawah Gunung Batur, di Kintamani, Bangli. Lembah ini paling dalam, di bumi tanpa laut. di perut bumi Kaldera. Bumi kaldera purba, hingga ketika membuat sastrawan besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA) kesemsem dan bermukim di pinggiran danau. Menjadikan kaldera tempat kontemplasi, tempat wisata, seni, dan berkembangnya budaya. Ketika itu, antara tahun 1970-1980-an, STA, menjadi cikal bakal pariwisata di daerah ini, bermukim sembari membangun balai seni, perpustakaan, dan kotij, yang hingga kini masih tersisa.
Ketika itu, STA adalah ikon bagi kaldera, menjadi magnet wisata. Acap kali tempat ini menjadi arena festival, sastra, pertunjukkan seni, baik lokal maupun dunia. Tamu tamu undangan, sembari melepas penat, mereka menikmati literasi alam, festival, mencipta sastra, hingga sampai pada tempat kontemplasi bagi seniman, sastrawan, dan pariwisata dunia.
Lantas kini, waktu yang telah menyeret segalanya. Kerinduan dan dongeng-dongeng STA, sesungguhnya masih meninggalkan sejarah manis di sini. Namun, pariwisata kini telah mengubah paradigma STA. Tidak lagi pariwisata yang berbasis seni, berbasis sastra, berbasis budaya. Tapi ikon tempat ini kini berbasis dolar, berbasis rupiah, berselimut glamor.
Sastra seni, dan pariwisata ala STA, memang berbeda dari pariwisata berbasis dolar. Sastra identik dengan dunia sunyi, imajinasi, perenungan, dan tak terlalu nafsu pada dunia glamor. Sedang kini, dolar di sini telah runtuh, bak hujan yg memupuk rumput gaya milenial, gaya imaji yang jauh menembus dunia antah berantah.
Kini jejak STA di kaldera-Bali, hanya seolah mejadi cerita masa lalu. Pohon beringin di belakang balai seni menjadi saksi bisu sepanjang sejarah bahwa di sini pernah hidup sastrawan hebat, orang dahsyat, yang peran dan dedikasinya tak tertandingi dan tak tergantikan. Kini nama STA di sini, hanya papan nama yang sunyi di sudut jalan.
Zaman terus mengalir, pasca STA, memasuki tahun 2020-an, kaldera bak gadis beranjak dewasa. Kaldera sudah pandai bersolek, memoles diri, hingga banyak orang tertarik, ingin memiliki karena kemolekannya. Terlebih lagi, di zaman revolusi digital 4.0 menuju 5.0 ini, semuanya menjadi serba cepat. Berubah dari lugu, hedonis, memendam harapan dan membangkitkan sejuta peluang. Kaldera tak lagi sekadar soal batu rejeng, pasir, larva, atau gundukan bukit yang berdebu. Tanah kaldera bermetamorfose menjadi tempat yang sangat terbuka, menjadi harapan manusia dari segala penjuru. Yang berharap dan menanamkan benih-benih investasi.
Kaldera bukan semata menjadi tempat pembuang penat, tempat selfi, tempat penikmat libido, tempat bercumbu atau kencan, atau sekadar penghilang stres. Bukan saja tempat pencuci mata dan pencinta asmara, tetapi Kaldera juga menjadi tempat suci memuja Dewi Danu, tempat para dewa bersemedi, tempat bersemainya pendidikan, tempat petani ikan membudidayakan “jarkapung”, para konglomerat, pelaku pariwisata, tempat healing, tempat berendam dengan air panas alami, dan tempat bagi manusia-manusia kreatif.
Di tanah kaldera mereka menghilangkan kegundahan, tatkala liburan mencari inspirasi sambil mimpi “basah”, tak saja bermain ilusi, menguatkan mimpi-mimpi, segala keluh kesah dilebur di tempat ini.
Tempat ini menjadi mahal, menjadi rebutan, menjadi incaran, menjadi target, dan berpengaruh kuat pada kehidupan setempat, menjadi denyut perekonomian warga setempat dan warga pendatang. Mereka adalah para pedagang, pebisnis, para Mas-Mas, emak-emak, investor, pedagang martabak, pedagang gorengan, mini market, pedagang batu rejeng, pengusaha galian, pengusaha bawang, pedagang bakso, pedagang mie ayam, mujair nyat-nyat, seniman, komunitas spiritual, pelaku wisata, orang-orang pencari nikmat baik ofline maupun online.
Kaldera menjadi tempat yang begitu nikmat bagi para pebisnis itu untuk membuat kesepakatan. Menjadi ranah bagi pelaku pariwisata untuk bercumbu dan bertukar invest dengan bahagia. Di kaldera bertemu arus suku lintas negara/benua, dari Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Cina, merajut mimpi indah, bertualang keliling kaldera. Seakan tempat ini kini begitu nikmat dinikmati usai tidur lelap.
Di tengah aneka rasa itu, di tengah kenikmatan tanah kaldera, di tengah rejeki melimpah tanah kaldera, apa yang bisa diwariskan bagi generasi kaldera? Selain rasa segala hedonis, masihkah terbersit rasa “cemer”, rasa kontaminasi, dan rasa “carub”. Atau yang tersisa hanya rasa campah yang melimpah?
Adakah tersisa cerita “Datonta/kisah Ratu Pancering jagat”? Bahwa perjalanan hidup ini sarat godaan. Tentu ketika kalah oleh godaan, bersiaplah pada sebuah kutukan. Walau kutukan itu tidak secara eksplisit dan serta merta. Tentu di antara kita tak ingin menjadi manusia yang terkutuk karena terlalu “mabuk” pada kenikmatan. Terkutuk karena telah lupa pada esensi hidup. Lupa karena kenikmatan terlalu melimpah di tanah kaldera hingga "menggadaikan" hidup. Lupa karena tanah ini begitu subur untuk pemuas diri. Atau entah lupa karena apa lagi? [T]
BACA artikel lain tentang BATUR atau KINTAMANI atau artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...