Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
MUSIM terus berganti, mengantarkan hujan dan kemarau panjang meninggalkan catatan sejarah, kenangan, harapan, dan masa depan di tanah purba kaldera. Seekor kutilang kadang gemetar pada lembah kaldera, menyelipkan tubuhnya di sebuah lubang bukit, menghindar dari kabut dingin sasih karo dan sasih ketiga.
Ini lembah di tepi Danau Batur, di bawah Gunung Batur, di Kintamani, Bangli. Lembah ini paling dalam, di bumi tanpa laut. di perut bumi Kaldera. Bumi kaldera purba, hingga ketika membuat sastrawan besar Sutan Takdir Alisjahbana (STA) kesemsem dan bermukim di pinggiran danau. Menjadikan kaldera tempat kontemplasi, tempat wisata, seni, dan berkembangnya budaya. Ketika itu, antara tahun 1970-1980-an, STA, menjadi cikal bakal pariwisata di daerah ini, bermukim sembari membangun balai seni, perpustakaan, dan kotij, yang hingga kini masih tersisa.
Ketika itu, STA adalah ikon bagi kaldera, menjadi magnet wisata. Acap kali tempat ini menjadi arena festival, sastra, pertunjukkan seni, baik lokal maupun dunia. Tamu tamu undangan, sembari melepas penat, mereka menikmati literasi alam, festival, mencipta sastra, hingga sampai pada tempat kontemplasi bagi seniman, sastrawan, dan pariwisata dunia.
Lantas kini, waktu yang telah menyeret segalanya. Kerinduan dan dongeng-dongeng STA, sesungguhnya masih meninggalkan sejarah manis di sini. Namun, pariwisata kini telah mengubah paradigma STA. Tidak lagi pariwisata yang berbasis seni, berbasis sastra, berbasis budaya. Tapi ikon tempat ini kini berbasis dolar, berbasis rupiah, berselimut glamor.
Sastra seni, dan pariwisata ala STA, memang berbeda dari pariwisata berbasis dolar. Sastra identik dengan dunia sunyi, imajinasi, perenungan, dan tak terlalu nafsu pada dunia glamor. Sedang kini, dolar di sini telah runtuh, bak hujan yg memupuk rumput gaya milenial, gaya imaji yang jauh menembus dunia antah berantah.
Kini jejak STA di kaldera-Bali, hanya seolah mejadi cerita masa lalu. Pohon beringin di belakang balai seni menjadi saksi bisu sepanjang sejarah bahwa di sini pernah hidup sastrawan hebat, orang dahsyat, yang peran dan dedikasinya tak tertandingi dan tak tergantikan. Kini nama STA di sini, hanya papan nama yang sunyi di sudut jalan.
Zaman terus mengalir, pasca STA, memasuki tahun 2020-an, kaldera bak gadis beranjak dewasa. Kaldera sudah pandai bersolek, memoles diri, hingga banyak orang tertarik, ingin memiliki karena kemolekannya. Terlebih lagi, di zaman revolusi digital 4.0 menuju 5.0 ini, semuanya menjadi serba cepat. Berubah dari lugu, hedonis, memendam harapan dan membangkitkan sejuta peluang. Kaldera tak lagi sekadar soal batu rejeng, pasir, larva, atau gundukan bukit yang berdebu. Tanah kaldera bermetamorfose menjadi tempat yang sangat terbuka, menjadi harapan manusia dari segala penjuru. Yang berharap dan menanamkan benih-benih investasi.
Kaldera bukan semata menjadi tempat pembuang penat, tempat selfi, tempat penikmat libido, tempat bercumbu atau kencan, atau sekadar penghilang stres. Bukan saja tempat pencuci mata dan pencinta asmara, tetapi Kaldera juga menjadi tempat suci memuja Dewi Danu, tempat para dewa bersemedi, tempat bersemainya pendidikan, tempat petani ikan membudidayakan “jarkapung”, para konglomerat, pelaku pariwisata, tempat healing, tempat berendam dengan air panas alami, dan tempat bagi manusia-manusia kreatif.
Di tanah kaldera mereka menghilangkan kegundahan, tatkala liburan mencari inspirasi sambil mimpi “basah”, tak saja bermain ilusi, menguatkan mimpi-mimpi, segala keluh kesah dilebur di tempat ini.
Tempat ini menjadi mahal, menjadi rebutan, menjadi incaran, menjadi target, dan berpengaruh kuat pada kehidupan setempat, menjadi denyut perekonomian warga setempat dan warga pendatang. Mereka adalah para pedagang, pebisnis, para Mas-Mas, emak-emak, investor, pedagang martabak, pedagang gorengan, mini market, pedagang batu rejeng, pengusaha galian, pengusaha bawang, pedagang bakso, pedagang mie ayam, mujair nyat-nyat, seniman, komunitas spiritual, pelaku wisata, orang-orang pencari nikmat baik ofline maupun online.
Kaldera menjadi tempat yang begitu nikmat bagi para pebisnis itu untuk membuat kesepakatan. Menjadi ranah bagi pelaku pariwisata untuk bercumbu dan bertukar invest dengan bahagia. Di kaldera bertemu arus suku lintas negara/benua, dari Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Cina, merajut mimpi indah, bertualang keliling kaldera. Seakan tempat ini kini begitu nikmat dinikmati usai tidur lelap.
Di tengah aneka rasa itu, di tengah kenikmatan tanah kaldera, di tengah rejeki melimpah tanah kaldera, apa yang bisa diwariskan bagi generasi kaldera? Selain rasa segala hedonis, masihkah terbersit rasa “cemer”, rasa kontaminasi, dan rasa “carub”. Atau yang tersisa hanya rasa campah yang melimpah?
Adakah tersisa cerita “Datonta/kisah Ratu Pancering jagat”? Bahwa perjalanan hidup ini sarat godaan. Tentu ketika kalah oleh godaan, bersiaplah pada sebuah kutukan. Walau kutukan itu tidak secara eksplisit dan serta merta. Tentu di antara kita tak ingin menjadi manusia yang terkutuk karena terlalu “mabuk” pada kenikmatan. Terkutuk karena telah lupa pada esensi hidup. Lupa karena kenikmatan terlalu melimpah di tanah kaldera hingga "menggadaikan" hidup. Lupa karena tanah ini begitu subur untuk pemuas diri. Atau entah lupa karena apa lagi? [T]
BACA artikel lain tentang BATUR atau KINTAMANI atau artikel lain dari penulis I GEDE EKA PUTRA ADNYANA
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...